Dini hari ...
Setelah memastikan sang istri tidur kembali, akhirnya ia bangkit dan duduk bersandar di ujung tempat tidur. Pria itu mengambil sebatang rokok lalu menyalakan pematik api. Kepulan asap mulai menguar di dalam kamarnya.
Pria itu sesekali melihat ke arah wanita yang sedang terlelap dalam tidurnya, hingga ia menyunggingkan sebuah senyuman yang tak dapat diartikan. Ia pun tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut sang istri.
“Helena ... sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa lari dariku. Kau sudah menjadi milikku, dan tidak akan pernah aku biarkan kau disentuh oleh pria lain, termasuk pria yang ada di dalam foto itu,” monolognya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Setelah puas memandang wajah cantik istrinya, kini Jack mengambil benda pipih yang ada di atas nakas, samping tempat tidurnya. Ia mulai meluncurkan jari jemarinya di atas layar benda pipih tersebut.
Jack mulai mengetikkan pesan untuk ia kirim pada orang kepercayaannya. Ia harus membuat Helena bertahan di sisinya. Ia tahu, asistennya itu masih tidur , karena saat ini sudah waktu dini hari. Tak ingin membuang banyak waktu lagi, Jack mulai merebahkan tubuhnya kembali di sisi sang istri. Jangan lupa sebuah dekapan yang sangat erat, agar wanita itu tidak lari saat terbangun nanti.
***
Tak terasa pagi sudah menyapa sebagian alam semesta, dengan sinarnya yang sangat cerah, hingga mampu membuat semangat asa. Namun, tidak bagi seorang wanita yang masih bergelung dalam selimut.
Helena terusik, saat merasakan sesuatu menyentuh wajahnya. Bahkan, matanya merasakan benda kenyal yang terus menerus menciuminya. Wanita itu terusik dan mulai mengerjapkan matanya berulang kali.
“Enghh!” terdengar suara lenguhan sang istri, yang membuat Jack semakin tersenyum saat mendengarnya.
“Good Morning, Helen.” Jack langsung mengecup singkat bibir ranum milik sang istri yang masih belum mengumpulkan kesadarannya.
Helena langsung bangkit karena terkejut, saat mendengar suara seorang pria yang sudah menghancurkan hidupnya. Wanita itu langsung merapatkan selimut tebal, agar menutupi tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun sejak tadi malam.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Helena dengan nada ketakutan.
“Tentu saja memberikan ucapan selamat pagi pada istriku,” jawab Jack dengan santai sambil terus mendekati wanita yang ada di hadapannya. Sekarang Helena baru saja sadar, bahwa Jack yang merupakan bosnya itu jauh lebih gila daripada yang ia bayangkan.
“Jangan mendekati ku!” bentak Helena dengan tatapan penuh kebencian. Ia benci pria yang kini jadi suaminya. Ia benci pada pria yang sudah merenggut semua impian dan kebahagiaannya.
“Jangan pernah berani membentakku!” ucap Jack dengan tegas, seraya menarik tubuh sang istri, hingga jatuh dalam d**a bidangnya.
“Jangan sekali-kali kau menatapku dengan tatapan seperti itu, karena aku tidak suka. Apalagi jika kau membentakku seperti tadi. Kau tahu apa yang akan aku lakukan padamu, jika kau melanggar semua itu,” sambungnya lagi dengan nada penuh ancaman.
Helena bergetar saat mendengar ucapan Jack. Bukan hanya karena takut, tapi karena ia tidak bisa melakukan apapun. Tanpa ia sadari, ia sudah terisak dalam dekapan sang suami. Namun, tiba-tiba ia merasa terkejut saat tubuhnya mulai melayang di udara, karena pria itu menggendongnya tanpa aba-aba.
"Aaarrghh!" Teriak Helena seraya memukul d**a bidang milik Jack, agar pria kejam itu mau melepaskannya.
“Lepaskan aku brengsekk!” bentak Helena memberontak. Ia semakin takut tatkala Jack membawanya ke dalam sebuah kamar mandi. Ia takut pria kejam yang menjadi suaminya kembali menjamah tubuhnya secara kasar.
Brak!
Terdengar suara pintu kamar mandi tertutup dengan keras.
“Lepaskan aku ... aku mohon. Aku sakit. Tubuhku sakit ... hatiku juga.” Helena menunduk sambil menangis menumpahkan segala rasa takut sekaligus rasa kecewanya.
“Apa yang membuatmu takut? Adikmu sudah kuurus dan dikirim ke rumah sakit terbaik di kota ini. Harusnya kau bahagia kan, setelah mendapatkan pria yang jadi bosmu di kantor? Kau tau, para wanita di luar sana menjajakan diri padaku, hanya agar aku bisa menyentuh mereka, tapi ada apa dengan dirimu? Katakan padaku apa masalahmu?” tanya Jack dengan santai.
Bukannya menjawab, Helena semakin terisak dan tak mampu untuk mendongak. Ia sangat hancur. Ia terpuruk dalam keadaan saat ini. Bagaimana mungkin ia bisa hidup dengan sosok pria yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bagaimana mungkin, kemarin lusa ia merasa bahagia karena sebuah harapan. Kini, harapan itu sudah sirna bergantikan luka yang menganga dalam hidupnya.
Ia harus segera mencari cara untuk pergi dari tempat terkutuk itu. saat ini, ia hanya ingin melihat keadaan Rara, adiknya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ada seseorang yang ia tunggu untuk datang.
“Kau sudah gila! Aku hanya ingin hidup bebas! Sejak awal, ini hanya permainan kotor dari seorang Presdir yang begitu menjijikan. Aku hanya ingin hidup bahagia untuk adikku. Apa kau tau itu?!” Helena mendongak dan membentak Jack tepat di hadapan wajah pria tersebut.
Jack yang melihat keberanian yang ditunjukan oleh istrinya, langsung menggeram dan segera melumat bibir ranum itu dengan sangat rakus dan penuh gairah. Ia tidak peduli dengan Helena yang sudah memukuli dadanya secara bertubi-tubi.
“Emmh!” Helena terus berontak dalam dekapan Jack. Apalagi ia merasa sudah kehabisan napas.
Plakk!
Helena langsung menampar wajah Jack sesaat setelah melepaskan ciuman panas mereka. Jack mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan tersebut. Meskipun tamparan itu bukanlah apa-apa baginya.
“Kau salah karena telah melakukan ini padaku Helena. Kau sudah berani menantang ku, maka aku tidak akan sungkan lagi padamu. Ini adalah pilihan mu, maka terimalah akibatnya.”
Mata Jack memerah akibat menahan amarah. Bukan karena Helena sudah menamparnya, melainkan karena keberanian yang ditunjukkan oleh istrinya. Ia tidak suka jika wanita itu memikirkan hal lain, selain dirinya. Awalnya ia hanya ingin bermain-main, tapi setelah tahu jika Helena adalah orang yang sama dengan KUCING LIAR malam itu, perasaannya berubah menjadi obsesi yang liar.
Kini, Jack akan memberikan Helena pelajaran, agar wanita itu tidak punya keberanian lagi untuk memikirkan orang lain. Pria itu akhirnya mulai menikmati tubuh sang istri dengan cara paksa.
“Akhh! Sakit ... Jack akhh!”
“Nikmati saja, sayang.”
“Pel—Akh! An ... sakit.”
Rintihan, erangan dan ringisan mulai menggema dalam kamar mandi itu di pagi hari ini. Jack tanpa ampun terus menggoyangkan pinggulnya dengan sangat kasar dan keras, hingga membuat wanita yang ada di dekapannya kewalahan dan tak berdaya.
“Ini kan yang kau inginkan ... akkh!” Jack menciumi tengkuk leher sang istri tanpa menjeda gerakannya sama sekali.
“Aku akan memberimu kepuasan, agar kau tidak berani lagi memikirkan orang lain dalam pikiran mu, karena aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.”
“Akhh! Aku tidak kuat Jack ... sakit,” ringis Helena dengan nada lemah. Wanita itu benar-benar sudah tidak sanggup menerima perlakuan kasar dari pria yang sedang menikmati tubuhnya tersebut.
Namun, bukan Jack namanya, jika menyudahi permainan ini hanya karena mendengar rintihan dan ringisan wanita yang sedang ia nikmati. Pria itu terus mengayunkan tubuhnya dengan gerakan cepat, hingga ia hampir sampai pada puncaknya.
“Akkhh!” akhirnya pria itu sudah sampai pada titik puncak kenikmatannya. Namun, bersamaan dengan itu, Helena jatuh tak sadarkan diri.
"Oh, s**t! Kau sangat nikmat."