- 19

1532 Kata

"Hai, Kak!" "Wah, Kak Vio bawa temennya!" "Tinggi banget, temennya Kak Vio." "Ganteng!" Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan yang terdengar ketika Rian melangkahkan kakinya memasuki gedung besar di depannya. Lelaki itu tidak lepas dari Viona. Dirinya takut tersesat bila jauh-jauh dari Viona. Belum lagi di sini banyak sekali anak kecil yang berlarian. Takut-takut anak itu tertabrak oleh tubuh besarnya atau lebih parah sampai terjungkal. Suara merdu anak-anak yang tertawa dan juga bercerita membaut Rian tidak bisa menahan senyumnya. Memang sejak dulu ia sangat suka dengan anak-anak. Sampai-sampai Rian selalu meminta agar Mamanya merawat anak orang saja jika Mamanya sedang di dalam rumah sendirian. Jika mengingat masa-masa itu, Rian rasanya ingin tertawa. Ia sudah sangat sindrom mungkin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN