Bagian 1
Jakarta, 19 Juli 2021
***
Prolog!
Lily memandangi jam di tangannya, waktu sudah menujukan hampir pukul sebelas malam. Namun, pria yang sedang di tunggunya belum tiba juga. Restoran pun sudah mulai terlihat sepi pengunjung. Lily menghembuskan napasnya berat, sepasang mata almondnya menatap nanar pintu restoran ini. Lagi dan lagi kekasihnya mengecewakannya. Kekasihnya yang bernama Jason Beily tidak datang dalam acara kencan mereka untuk kesekian kalinya. Lily sudah menghubungi ponsel Jason, tetapi pria itu tidak mengangkat panggilan teleponnya. Bahkan pesan darinya pun tidak dibalas oleh Jason.
Jason begitu sibuk dan tidak ada waktu untuk Lily. Waktu Jason hanya untuk pekerjaan. Memikirkan hal itu membuat hati Lily bersedih. Lily bukan tidak senang jika Jason lebih menghabiskan waktunya dengan pekerjaan. Bagaimanapun juga pekerjaan lebih penting untuk kelangsungan hidup. Tetapi tidak adakah sedikit waktu dari Jason untuk Lily?
Enam tahun menjalin kasih dengan Jason, Lily baru merasakan kencan dengan pria itu hanya hitungan jari. Selain itu, Lily dan Jason sudah bertunangan empat tahun yang lalu. Namun, hingga kini belum ada kejelasan dari Jason kapan hubungan mereka akan ketingkat lebih serius, seperti pernikahan. Lily sudah sering bertanya akan hal itu, tetapi Jason selalu mengelak dan berusaha mengalihkan pembicaraan tentang pernikahan. Lily merasa Jason tidak begitu mencintainya, tetapi Lily tetap bertahan karena dia sangat mencintai Jason.
Jason tidak pernah ada jika Lily membutuhkannya. Memikirkan hal itu membuat Lily pusing setengah mati, lalu pandangannya beralih ke cincin indah yang melingkar di jari manisnya. Tidak lama senyumnya mengembang tipis, masih ingat jelas di benak Lily hari pertunangannya dengan Jason beberapa tahun lalu. Lily begitu bahagia ketika bertunangan dengan Jason. Jujur saja Jason adalah pria baik yang pernah Lily temui dalam hidupnya. Lily begitu mencintai Jason dan tidak ingin kehilangannya.
"Malam Nona Lily..." sapa seseorang membuat Lily terlonjak kaget.
Lily kontan menoleh kearah suara itu, "Reyhaan?!" pekiknya saat melihat pria bernama Reyhaan berdiri dihadapannya dan tersenyum hangat kepadanya.
Pria bernama Reyhaan Andreas adalah salah satu pengawal Jason. Reyhaan, diberi tugas oleh Jason untuk menjaga Lily. Bukan hanya menjaga Lily, pria itu juga selalu mengawasi dan menemani Lily setiap waktu. Di setiap waktu Reyhaan lah yang selalu menemani Lily.
Jujur saja Lily merasa tidak nyaman dengan kehadiran Reyhaan. Sejak bertunangan dengan Jason, Reyhaan selalu berada disisi Lily. Reyhaan tidak membiarkan Lily sendirian, walaupun Lily berada dirumah sekalipun! Reyhaan seperti seorang penguntit handal yang mengawasinya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Lelaki itu terus berada disekitarnya, mengekor seperti Lily adalah induknya.
"Aku sudah sering bilang kepadamu kan, berhentilah mengikutiku dan mengangguku!" seru Lily, raut wajahnya terlihat marah. Dia begitu jengah dengan Reyhaan.
Reyhaan tersenyum tipis, "maaf nona Lily, mengikuti anda adalah pekerjaan saya..." ujarnya membuat Lily berdecak sebal.
"Dimana bos-mu?" tanya Lily sinis, "lagi-lagi dia tidak datang ke acara kencan ini!" keluhnya kemudian. Sudah cukup dia bersabar menghadapi Jason yang selalu membatalkan acara kencan mereka tanpa kabar.
"Mr. Jason tidak bisa hadir nona, tiba-tiba ada pekerjaan mendadak yang mengharuskannya pergi ke Singapore malam ini." Jelas Reyhaan membuat Lily terperangah.
"Kenapa dia tidak memberiku kabar?!" pekik Lily, suaranya terdengan parau menahan rasa marahnya kepada Jason. Jason selalu bersikap seenaknya seperti ini kepadanya. Tidak pentingkah dirinya sehingga Jason melakukan hal itu kepadanya?
"Maaf nona, dia tidak sempat memberimu kabar karena mendadak," jawab Reyhaan tersenyum, "saya baru mendapatkan kabar itu dari salah satu asissten Mr. Jason tadi..." lanjutnya.
Lily menggeleng pelan mendengar penjelasan dari Reyhaan. Dia sangat kecewa dengan Jason, pria itu selalu saja berbuat seenaknya seperti itu kepadanya. Tidak bisakah pria itu memberinya kabar secara langsung? Lily merasa tidak dihargai sebagai seorang kekasih oleh Jason. Tidak lama Lily bangkit dari duduknya dan pergi dari restoran ini dengan penuh amarah.
Reyhaan yang melihat Lily pergi begitu saja langsung mengejar wanita itu setelah membayar tagihan acara kencan Lily yang gagal itu. "Nona Lily!" teriaknya saat berada di luar restoran.
Lily tidak memperdulikan panggilan Reyhaan, dia terus melangkahkan kakinya menyusuri jalan yang sudah terlihat sepi. Udara dingin mulai terasa membuat Lily sedikit merasa kedinginan. Sepasang mata almond milik Lily terlihat mengembang disana. Dia begitu kecewa dan terluka dengan sikap Jason kepadanya. Jason sudah berjanji akan datang malam ini, tetapi kenyataannya pria itu tidak datang menemuinya. Lily benar-benar lelah dengan semua perlakuan Jason kepadanya. Ingin rasanya dia menangis, tetapi sudah terlalu banyak airmata yang dia keluarkan untuk Jason. Hingga airmatanya kini sulit lagi keluar.
Tiba-tiba Lily merasakan sebuah jaket tebal menutupi bahunya, Lily kontan menghentikan langkahnya dan menoleh. Napas Lily tercekat saat melihat Reyhaan disampingnya, pria itu tersenyum manis kepadanya. Jarak Lily dan Reyhaan begitu dekat, sehingga Lily bisa melihat bola mata berwarna cokelat terang milik Reyhaan. Napas hangat Reyhan begitu terasa di wajahnya kini, apalagi tingginya hanya sebahu Reyhaan.
"Saya tahu, Nona pasti sangat kedinginan..." ucap Reyhaan tersenyum.
"Aku sangat heran denganmu Rey, sudah hampir empat tahun ini kau terus mengikutiku dan mengawasiku. Apa kau tidak lelah hah?!" tanya Lily tidak habis pikir. Reyhaan begitu perhatian kepadanya dan membuatnya sedikit tidak nyaman diperlakukan seperti itu olehnya. Lelaki itu hanya pengawalnya, tetapi lelaki itu sering bersikap berlebihan kepadanya.
Reyhaan menggeleng, "sama sekali tidak Nona, saya merasa senang bisa mengawasi anda dan selalu berada di dekat anda." Jawabnya penuh kesungguhan dengan sedikit senyuman.
"Dibayar berapa kau oleh Jason untuk mengawasiku?!" tanya Lily melipat kedua tangannya. Wajahnya terlihat begitu angkuh.
Reyhaan menaikan salah satu alisnya, "Kenapa nona ingin tahu hal itu?" tanya Reyhaan balik.
Lily menghela napasnya, "aku akan membayarmu dua kali lipat, bahkan tiga kali lipat dari bayaran yang Jason berikan untukmu! Tapi dengan syarat kau harus menjauh selamanya dari hidupku! Aku tidak nyaman setiap hari selalu diikuti olehmu! Semua orang di sekitarku mengira kau adalah kekasihku! Itu adalah hal yang gila!!" keluhnya penuh amarah, "kau hanya lah bodyguard Jason yang diperintahkannya untuk mengganggu hidup indahku!" omelnya dengan nada tinggi.
Reyhaan tertawa pelan mendengar perkataan Lily. Semua yang Lily katakan adalah hal yang benar, semua orang telah mengira Reyhaan adalah kekasih Lily. Setiap saat Reyhaan selalu berada bersama Lily dan tidak dibiarkan sedikitpun Lily menjauh dari pandangannya. Waktu Reyhaan dihabiskan hanya untuk mengawasi Lily, kekasih atasannya itu.
Selain itu, Reyhaan sangat mengetahui bahwa atasannya yang bernama Jason begitu sibuk dan tidak ada waktu untuk berkencan dengan Lily. Jason sangat jarang menemui Lily, waktunya dihabiskan untuk bekerja. Ketika Jason memintanya untuk menemani dan mengawasi Lily, Reyhaan tidak menolak perintah atasannya itu. Dengan senang hati Reyhaan menerima perintah Jason untuk menjadi pengawal pribadi Lily. Sejak pertama kali bertemu dengan Lily, Reyhaan merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, entah apa itu.
Reyhaan telah berkerja dengan Jason tujuh tahun lamanya, dia juga sudah sangat lama mengenal sosok wanita bernama Lily. Reyhaan adalah orang pertama yang menyaksikan hubungan romansa diantara Jason dan Lily. Mereka berdua bahkan sering bermesraan di hadapan Reyhaan. Jason memang tidak ada waktu untuk Lily, tetapi Reyhaan bisa menjamin bahwa Jason sangat mencintai Lily.
Seiringnya waktu Reyhaan mengawasi Lily dan selalu berada di dekat wanita itu membuatnya menyukai kepribadian yang dimiliki oleh Lily, walaupun kadang wanita itu sangat pemarah dan galak terhadapnya. Bahkan Lily tidak segan – segan membentaknya di tempat umu, jika wanita itu tidak nyaman dengan keberadaannya.
Meskipun begitu, Lily adalah wanita periang dan mandiri, meskipun dia merasa sedih dan kesepian tetapi dia tidak menunjukan hal itu kepada siapapun. Setiap malam, Reyhaan selalu mendengar tangisan Lily di kamarnya, ingin rasanya Reyhaan datang menemui Lily dan menenangkan hati wanita itu. Namun, tidak dia lakukan, dia tidak ingin mempunyai masalah dengan Jason.
"Nona, tidak akan mampu membayar saya..." ucap Reyhaan membuat Lily tercengang.
"Kau menghinaku hah?!" seru Lily bertolak pinggang, sepasang matanya kontan melebar.
"Tidak nona, jujur saja bayaran saya dari Mr. Jason sangat cukup untuk kebutuhan saya setiap bulannya. Tetapi jika anda membayar saya mahal untuk menjauh dari anda, anda tidak akan mampu membayarnya. Karena saya tidak ingin menjauh dari anda." Jelas Reyhaan membuat Lily tertegun.
Perkataan Reyhaan membuat Lily terdiam, apa yang Reyhaan katakan tadi telah membuat wajah Lily merona.
Tidak lama Lily melangkahkan kakinya kembali, mendengar perkataan Reyhaan tadi membuat jantungnya berdebar kencang. Dia tidak percaya Reyhaan bisa berkata seperti itu kepadanya. Bayangkan saja hampir empat tahun ini Reyhaan lah yang selalu ada untuk Lily bukanlah Jason, kenyataan itu membuat perasaan Lily sesak. Padahal dia sangat menginginkan Jason untuk berada disampingnya.
Lily semakin mengeratkan jaket besar milik Reyhaan yang menutupi bahunya ketika angin malam berhembus. Aroma maskulin dari jaket itu tercium jelas, jujur saja Lily sangat menyukai aroma maskulin milik Reyhaan. Aroma Reyhaan begitu menenangkan hatinya. Sedetik kemudian Lily menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Reyhaan.
Reyhaan menaikan satu alisnya ketika Lily menatapnya dengan wajah merona. Tidak lama Reyhaan tersenyum tipis saat tatapannya bertemu dengan Lily.
"Apa kau ada waktu malam ini?" tanya Lily sambil mengigit bibir bawahnya.
"Tentu saja saya banyak waktu, apalagi untukmu nona..," jawab Reyhaan tersenyum.
"Baguslah," balas Lily tersenyum samar, dia tidak ingin Reyhaan melihatnya tersenyum untuknya, "karena Jason membatalkan acara kencan kami kembali, aku ingin kau yang---" ujarnya mengantungkan kalimatnya, wajahnya terasa memanas dan memerah, "aku ingin kau yang menggantikan Jason malam ini dan berkencan denganku..." ucapnya kemudian dengan wajah merona.
Reyhaan tersenyum lebar mendengarnya, ini bukanlah pertama kalinya dia menggantikan posisi Jason untuk berkencan dengan Lily. Dia sering menggantikan posisi Jason, "dengan senang hati nona Lily...," balasnya sambil mengulurkan tangan kanannya kepada Lily. Dia akan melakukan apapun agar membuat Lily bahagia dan tidak kembali bersedih karena Jason. Tugasnya adalah menjaga Lily, jadi sudah sewajarnya dia membuat Lily bahagia.
Lily membalas uluran tangan Reyhaan dengan senyuman malu, dia tidak percaya kepada dirinya sendiri bisa berkata seperti itu kepada Reyhaan. Jujur saja dia sangat membutuhkan seseorang malam ini untuk menemaninya dan kebetulan sekali ada Reyhaan. Lagipula Reyhaan adalah pengawalnya, tidak salah kan jika Lily meminta pria itu untuk menemaninya?
Kemudian Reyhaan dan Lily berjalan menyusuri jalan sambil bergandengan tangan. Entah apa yang terjadi dengan Lily, tubuhnya terasa menghangat begitu saja. Begitupun juga dengan Reyhaan. Tidak ada pembicaraan diantara mereka sepanjang mereka menyusuri jalan. Reyhaan terus menggenggam tangan Lily.
***