Bagian 2

2238 Kata
Bagian 1 – Reyhaan, My Bodyguard! Enam bulan kemudian... Lily tersenyum hangat ketika Reyhaan membuka pintu mobil untuknya. Lalu pria itu mengulurkan tangannya kepada Lily, Lily menerima uluran tangan itu dengan senang hati. Kemudian mereka melangkahkan kakinya ke sebuah gedung mewah yang berada di kawasan Jakarta. Hari ini adalah hari penting untuk Lily, Lily adalah seorang Desainer Perancang Gaun Pengantin. Dan hari ini karya rancangannya akan di pamerkan di sebuah acara Wedding Festival terbesar di Asia. Lily begitu gugup, tangannya terasa dingin. Reyhaan yang mengetahui akan hal itu menggengam tangan Lily membuat wanita itu memandanginya. "semua akan baik-baik saja nona Lily..." ucapnya membuat hati Lily sedikit tenang. Begitu banyak cara dari Reyhaan untuk menenangkan hati Lily. Jujur saja Lily sangat berharap Jason yang menamaninya saat ini, tetapi apa boleh buat Jason masih berada di Singapore dan tidak bisa kembali ke Jakarta. Beruntung ada Reyhaan di sisinya sekarang, setidaknya kehadiran Reyhaan bisa sedikit membuat hatinya tenang. Setelah berada di acara tersebut, Lily langsung melakukan sesi wawancara. Lily begitu bersemangat menjelaskan tentang rancangan gaunnya. Gaun rancangan Lily terlihat sederhana, Lily memadukan gaya tradisional dan modern di setiap rancangannya dan itulah yang membuat rancangannya di kagumi. Dan tanpa di sangka banyak yang menyukai gaun rancangannya, Lily begitu bahagia mengetahui hal itu. Hingga gaun rancangannya itu begitu banyak pesanan. Reyhaan hanya tersenyum memandangi Lily, dia tidak bisa melepaskan pandangannya sedikitpun dari wanita itu. Ketika tatapan mereka bertemu Reyhaan melemparkan senyuman terbaiknya untuk Lily. Lily yang melihat itu langsung mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin Reyhaan melihat dirinya salah tingkah ketika lelaki itu memperhatikannya. Seandainya Jason berada di sini, dia pasti akan bangga melihat kekasihnya yang mempunyai segudang prestasi. Meskipun Jason memberinya banyak fasilitas mewah kepada Lily lewat bantuan Reyhaan, tetapi Lily tidak menerima pemberian Jason begitu saja. Lily lebih suka berkerja keras dengan kemampuannya sendiri daripada memanfaatkan pemberian Jason. Lily tidak ingin bergantung hidup dengan orang lain, terutama Jason. Itulah yang membuat Reyhaan kagum dengan Lily. *** Saat ini Lily berada di sebuah café, dia sedang bercengkrama dengan kedua sahabatnya. Setelah selesai menghadiri acara Wedding Festival, Lily langsung bertemu dengan para temannya. Tawa mereka tidak pernah berhenti terdengar, mereka sedang membicarakan sosok Reyhaan yang tengah memperhatikan Lily dari kejauhan. Pria bernama Reyhaan terus mengawasi Lily. Seakan dia tidak ingin kehilangan Lily dalam pengawasannya. "Ly, jika aku jadi kau, aku pasti sudah menjadikan Reyhaan kekasihku..." ujar Reni sahabat Lily, "dia mempunyai badan yang bagus dan wajahnya juga tampan..." ucapnya kemudian, wajahnya terlihat merona sambil memandangi sosok Reyhaan disana. Lily hanya berdecak pelan mendengarnya, dia sedang sibuk menyesap kopi hitam tanpa gula miliknya. Sekali-kali dia menoleh kebelakang untuk melihat Reyhaan, dia benar-benar tidak mengerti dengan pikiran para wanita yang mengaggumi sosok Reyhaan. Yah Lily akui Reyhaan memang mempunyai daya pikat yang kuat, siapapun yang melihat pria itu akan jatuh cinta dengan kharisma sensual yang dimilikinya. Reyhaan mempunyai tubuh yang tinggi dengan berat badan ideal, belum lagi tubuhnya berotot dengan enam kotak yang menghiasi perutnya. Kedua lengannya dan punggungnya begitu kokoh, berada dipelukannya akan membuat nyaman. Selama Reyhaan menjadi pengawalnya pria itu begitu menjaganya dan tidak pernah sedikitpun dia bersikap kurang ajar kepadanya. Bisa saja kan seawaktu – waktu Reyhaan bertindak kurang ajar kepadanya? Jika itu terjadi Lily akan melawannya dengan jurus pencak silatnya yang pernah dia pelajari ketika sekolah dulu. Dia akan melawan Reyhaan, jika lelaki itu bertindak yang tidak – tidak kepadanya. "Aku tidak mengerti dengan kekasihmu Ly, bisa-bisanya dia menyuruh pengawalnya untuk menjagamu ketika dia tidak bisa hadir untukmu. Apa dia tidak takut jika kau berpaling darinya dan menyukai pengawal pribadinya?" tanya Salsa sahabat Lily yang lainnya. Salsa sering menduga hal itu akan terjadi, apalagi Reyhaan selalu bersama Lily setiap waktu. Lily mengangkat bahunya, "Jason begitu sibuk, maka dari itu dia meminta Reyhaan untuk menjagaku. Aku masih belum mengerti dengan Jason, kenapa pria itu menyuruh Reyhaan untuk menjagaku, padahal aku tidak butuh penjagaan." Jelasnya memandangi Salsa, "jikapun aku berpaling dari Jason, Reyhaan bukanlah pria itu. Aku tidak mungkin berpaling dan menyukai pengawal pribadi kekasihku sendiri!" serunya menggeleng. "Jikapun kau berpaling dengannya, aku mendukungmu..." sahut Reni menyesap teh hijau hangatnya, "buat apa kau masih bertahan dengan pria yang tidak pernah ada untukmu, apalagi tidak ada kejelasan disana! Yah meskipun kau sudah bertunangan dengannya..," ujarnya lagi. "Jangan-jangan Jason menganggapmu seperti hewan peliharaan makanya dia mengikatmu tanpa ada kejelasan pernikahan di antara kalian!" timpal Salsa menatap Lily dengan mata melebar. Perkataan Salsa sangat menusuk hati Lily. Jika di pikir - pikir perkataan Salsa ada benarnya. Lily merasa diikat tanpa bisa pergi kemanapun. Lily menghela napasnya berat, "sudahlah jangan membicarakan tentang hidupku, setiap bertemu kalian selalu membahas tentangku!" keluhnya memandangi kedua sahabatnya. "Habisnya kau ini terlalu bodoh, aku sangat yakin Jason hanya mempermainkanmu dan aku sangat pastikan dia sudah mempunyai istri." Ucap Reni membuat Lily tersedak kopinya. Salsa langsung memberikan air mineral kepada Lily, Lily meneguknya sampai habis. "Kau sudah gila yah bekata seperti itu?!" protes Lily kesal kepada Reni, "jika Jason sudah mempunyai istri, aku tidak mungkin mau dengannya!" serunya marah. "Yah siapa tahu saja, aku kan hanya menduganya. Buktinya saja Jason selalu berada di Singapore, dengan alasan pekerjaan.!" Balas Reni santai, dia sangat kesal dengan perlakuan Jason kepada Lily. Dia ingin Lily membuka mata dan hatinya bahwa Jason bukanlah pria baik untuk Lily. Yah, meskipun lelaki itu sering memberikan barang - barang mewah untuk Lily, tetapi itu tidak menjamin Jason adalah pria baik. Lily hanya mendengus sebal mendengar perkataan Reni, sahabatnya itu suka bicara seenaknya tanpa memikirkan perasaannya. Semua yang Reni tuduhkan tentang Jason tidaklah benar. Jason adalah pria baik yang pernah dia temui. *** Malamnya...., Tawa Lily terdengar kencang ketika hujan deras membasahi sebagian tubuhnya, dia berlari di bawah air hujan bersama Reyhaan. Tiba-tiba hujan turun begitu saja saat dia baru saja selesai makan malam bersama Reyhaan. Sementara itu, Reyhaan sibuk menutupi kepala Lily dengan jaket miliknya, pria itu tidak ingin Lily sakit terkena air hujan. Lily pernah sakit demam beberapa bulan lalu, Reyhaan begitu cemas dan khawatir dengan kondisi Lily waktu itu. Hampir seminggu penuh dia merawat Lily dan tidak dia biarkan Lily sendirian. Reyhaan sudah memberitahu keadaan Lily waktu itu kepada Jason, tetapi Jason hanya menjenguknya sebentar dan parahnya pria itu kembali ke Singapore untuk menyelesaikan pekerjaannya. Lily begitu marah dan kecewa kepada Jason, di saat dia sakit pun Jason tidak peduli kepadanya. Tidak lama mereka tiba di depan lobby apartement. Lily langsung melepaskan sepatunya yang berbentuk seperti ballerina, dalam sepatu itu basah dan membuatnya tidak begitu nyaman. Reyhaan tertawa renyah saat Lily memperlihatkan sepatunya yang basah itu. Lalu Reyhaan mengambil sepatu Lily yang basah dan memegangnya. Kemudian Reyhaan meminta kepada salah satu pegawai apartement ini untuk memberikannya sandal. Setelah pengawai itu memberikannya sandal, Reyhaan langsung menyuruh Lily memakainya. Lily yang mendapat perhatian itu dari Reyhaan hanya mengulum senyumnya. Entah mengapa, semakin lama Lily menikmati perhatian yang diberikan oleh Reyhaan untuknya. "Nona, sebaiknya kita segera masuk ke dalam apartementmu. Saya tidak ingin anda sakit kembali seperti waktu itu..." ujar Reyhaan, wajahnya terlihat serius saat mengatakan hal itu. Lily tersenyum hangat mendengar perkataan Reyhaan, "kau begitu perhatian kepadaku Rey...," "Itu sudah menjadi kewajiban pekerjaan saya untuk memberi perhatian kepada anda nona..," balas Reyhaan membuat Lily mendengus kesal. "Jadi kau memberi perhatian kepadaku hanya untuk pekerjaanmu?!" tanya Lily melipat kedua tangannya. Padahal Lily berharap bukanlah jawaban seperti itu dari mulut Reyhaan. Reyhaan mengangguk, "ya tentu saja nona, saya tidak ingin Mr. Jason kecewa dengan saya karena tidak menjaga anda dengan baik...," jawabnya tersenyum tipis. Lily menggeleng kesal mendengar jawaban Reyhaan, jujur saja bukan jawaban seperti itu yang di harapkannya dari Reyhaan. Menurut Lily perhatian Reyhaan sangat berlebihan kepadanya, jika pria itu terus memberi perhatian seperti itu kepadanya sangat tidak baik untuk perasaan Lily. Sedetik kemudian Lily beranjak pergi dan meninggalkan Reyhaan begitu saja. Sekarang dia merasa kesal dengan Reyhaan. Reyhaan kontan mengikuti Lily, ketika berada di depan lift Reyhaan langsung menekan tombol lift. Tidak lama pintu lift terbuka, Reyhaan mempersilahkan Lily untuk masuk ke dalam lift. Lily hanya melirik Reyhaan sebal. Selama di lift tidak ada pembicaraan di antara mereka. Tanpa Lily sadari Reyhaan tersenyum tipis memandangi wajah Lily di balik kaca lift, bagi Reyhaan, Lily terlihat menggemaskan ketika wanita itu menahan amarah. Saat pintu lift terbuka di lantai tujuan mereka, Lily keluar dari lift itu menuju ruang apartementnya dengan malas. Lalu dia masuk ke dalam apartementnya setelah membuka pintu apartementnya dengan kode. Sudah hampir dua bulan Lily tinggal di apartement pemberian Jason. Jason memaksannya untuk tinggal di apartement ini, dengan terpaksa Lily menerima apartement ini. Jason selalu saja memberikan Lily barang-barang mewah jika pria itu tidak bisa menepati janjinya kepada Lily. Lily tidak membutuhkan semua barang-barang mewah pemberian Jason, yang Lily butuhkan hanya kehadiran Jason untuknya dan kepastian hubungan mereka. Walaupun mereka sudah bertunangan, tetap saja Lily tidak tenang. Lily tidak ingin menghabiskan waktunya dengan Jason tanpa kejelasan. "Nona Lily, bisakah anda membuka pakaian anda di kamar?" kata Reyhaan tiba-tiba saat Lily ingin membuka blouse yang sedang di pakainya. Lily kontan terlonjak kaget, gara-gara memikirkan Jason dia hampir lupa dengan kehadiran Reyhaan saat ini, "Ya Tuhan!!" pekiknya dengan mata melebar memandangi Reyhaan yang sedang menatapnya kikuk, "kau selalu saja membuatku kaget Rey!" keluhnya sebal. "Maaf nona, saya tidak bermaksud seperti itu." Ujar Reyhaan kemudian. "Baiklah, kau tunggu saja di sana!" perintah Lily menunjuk sofa, "aku akan kembali dan membawakanmu handuk dan pakaian milik Jason. Kau terlihat basah sekali, aku tidak ingin kau sakit. Jika kau sakit siapa yang akan menjagaku nanti," ucapnya membuat Reyhaan tersenyum mendengarnya. Demi melindungi Lily dari air hujan, Reyhaan rela terkena air hujan. "Baik nona," Lalu Lily melangkahkan kakinya menuju kamarnya, tidak lama dia keluar dari kamarnya dan memberikan handuk juga pakaian milik Jason kepada Reyhaan. "Terima kasih nona," ucap Reyhaan menerima pemberian dari Lily. Lily mengangguk tanpa senyuman, "oh ya Rey, bisakah kau bicara denganku tidak seformal itu? Kau bisa memanggilku Lily saja...," ucapnya, "lagipula aku tidak nyaman mendengarnya," "Saya akan usahakan nona Lily," balas Reyhaan tersenyum hangat. "Baiklah, kalau begitu aku ke kamar dulu," pamit Lily kemudian, lama-lama berdua dengan Reyhaan membuat jantungnya berdebar kencang. Reyhaan hanya tersenyum melihat Lily yang salah tingkah. Saat pintu kamar Lily tertutup, Reyhaan membuka kemeja hitamnya yang basah dan meletakannya di pinggir meja pajangan. Lalu dia membasuh tubuhnya dengan handuk berwarna pink milik Lily. Aroma strawberry tercium jelas dari handuk itu. Lagi-lagi Reyhaan tersenyum memikirkan sosok Lily. Kekasih atasannya itu telah memenuhi pikiran Reyhaan. Sedetik kemudian Reyhaan menepuk keningnya, "astaga apa yang kau pikirkan!" gumamnya menggeleng, dia tidak percaya dia baru saja memikirkan Lily. Tiba-tiba ponsel Reyhaan berdering, dia langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Napasnya berhembus kencang saat melihat nama 'Jason' di layar ponselnya, "Halo Mr. Jason..," "Rey, dimana kau sekarang? Apa Lily berada bersamamu?" tanya Jason disebrang sana. "Saya sedang berada di apartement nona Lily, Mr. Jason. Sekarang nona Lily sedang beristirahat di kamarnya..." jawab Reyhaan. "Baguslah, katakan kepada Lily aku akan menemuinya secepatnya. Dan sampaikan permintaan maafku karena belum bisa menemuinya." Ujar Jason dengan hembusan napas berat, suaranya terdengar parau. "Baik, Mr. Jason akan saya sampaikan..." balas Reyhaan, "Oh ya, Mr. Jason anda tidak lupa kan sabtu depan adalah hari ulang tahun Nona Lily? dia sangat mengharapkan anda bisa meluangkan waktu anda walaupun hanya sebentar, anda sudah berjanji kepadanya untuk datang di hari istimewanya itu." Ucapnya kemudian. Jason menghela napasnya, "aku sepertinya tidak bisa datang Rey, aku masih banyak urusan di Singapore," ucapnya lirih. Reyhaan mengangguk pelan, entah apa yang harus dia katakan kepada Lily tentang Jason yang tidak bisa datang menemui wanita itu di hari ulang tahunnya. Lily pasti akan terluka, karena lagi dan lagi Jason tidak bisa menepati janjinya. "Rey, aku sangat meminta tolong padamu buat Lily bahagia di hari istimewanya itu.., katakan padanya aku mencintainya..." kata Jason dan mematikan sambungan teleponnya. Reyhaan menatap nanar ponselnya, dia benar-benar tidak mengerti dengan Jason. Jika Jason mencintai Lily, kenapa pria itu tidak ada untuk Lily? Jika Jason mencintai Lily, kenapa pria itu selalu membuat Lily kecewa dan bersedih? Entahlah, Reyhaan pun tidak tahu akan hal itu. Jason sering menghabiskan waktunya di Singapore dan sangat jarang kembali ke Indonesia. Sedetik kemudian Reyhaan melihat bayangan di ambang pintu kamar Lily. "Yang menelponmu tadi, apakah Jason?" tanya Lily, suaranya terdengar serak. Dia tidak sengaja mendengar Reyhaan berbicara dengan seseorang lewat ponsel, dia sangat yakin Reyhaan sedang berbicara dengan Jason. Reyhaan tidak menjawab pertanyaan Lily, dia menghampiri Lily setelah meletakan handuk dan ponselnya di atas meja. "Sudah hampir tiga bulan dia tidak menemuiku Rey, bahkan dia tidak membiarkanku mendengar suaranya. Semua panggilan telepon dan pesan dariku tidak ada jawaban darinya!" isak Lily, "enam tahun lebih aku menjalin hubungan dengannya, tetapi dia selalu memperlakukanku seperti ini! Dia tidak pernah memikirkan perasaanku! Aku sangat yakin dia mempunyai kekasih lain di luar sana dan merahasiakannya dariku!!" tuduhnya menangis memandangi Reyhaan. "Tidak nona Lily, Mr. Jason tidak mempunyai kekasih di luar sana, hanya anda kekasihnya. Saya bisa menjaminnya..." ucap Reyhaan bersungguh-sungguh. Lily menggeleng sambil menyeka airmatanya, "entah kenapa rasa kepercayaanku kepadanya hilang begitu saja Rey... selama ini dia tidak ada di saat aku membutuhkannya, kau yang selalu ada untukku!" teriaknya menangis. Reyhaan hanya terdiam melihat Lily menangis seperti itu, dengan ragu dia mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh bahu Lily. Dengan tarikan napas Reyhaan menarik lembut tubuh Lily dan membawa ke dalam dekapannya. Dia tidak bisa melihat Lily menangis. Lily yang merasakan dekapan hangat yang diberikan Reyhaan secara tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Tanpa ragu Lily membalas dekapan hangat Reyhaan dan menangis disana. Senyum Reyhaan mengembang tipis merasakan pelukan yang diberikan Lily untuknya. Lalu jemari Reyhaan membelai rambut Lily untuk membuat wanita tenang dan tidak menangis kembali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN