Seminggu kemudian…,
Hari ini adalah hari istimewa untuk Lily, ini adalah hari ulangtahunnya yang ke 26 tahun. Semua orang terdekatnya datang ke pesta ulangtahunnya. Senyum dan tawa Lily selalu terukir diwajahnya menyambut para tamu yang hadir. Para tamu yang di undangnya hampir semuanya datang ke pestanya ini
Dekorasi pesta ulangtahun Lily, Reyhaan yang menyiapkannya. Lily begitu terkesima dengan semua kejutan yang diberikan Reyhaan untuknya. Selama Reyhaan menjadi pengawalnya, pesta ulang tahun Lily terlihat mewah, romantis dan begitu banyak kejutan. Reyhaan sangat tahu caranya untuk bisa membuat Lily bahagia.
“Lily,”
Seru seseorang memanggil nama Lily, membuat Lily menoleh. Sedetik kemudian senyumnya mengembang lebar ketika mengenal seseorang yang memanggil namanya itu.
“Astaga, bibi Anne!” pekik Lily terkejut saat melihat tantenya datang ke pesta ini. Sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan bibinya itu.
Lily langsung memeluk Anne penuh kerinduan. Anne adalah adik dari mendiang ibunya. Perlu diketahui, orangtua Lily sudah meninggal dunia, ayahnya meninggal ketika Lily berusia sepuluh tahun. Dan ibunya pergi menyusul ayahnya ketika Lily beranjak remaja. Sejak itu Lily tinggal dengan keluarga kecil Anne. Setelah lulus kuliah Lily memutuskan untuk pergi dari kediaman Anne. Lily tidak ingin banyak merepotkan Anne dan suaminya. Kemudian Lily bekerja di sebuah event organizer ternama. Disanalah Lily bertemu dengan Jason.
Pertemuan Lily dengan Jason pertama kali di sebuah pesta pernikahan salah satu pebisnis sukses. Ketika itu usaha event organizer milik Lily di pilih untuk menangani dan mengurus acara pernikahan tersebut. Dan Jason hadir di acara pernikahan itu. ketika itu Lily tidak sengaja menabrak bahu Jason karena dia saat itu sedang sibuk menangani acara pernikahan tersebut. Setelah kejadian itu hubungan Lily dan Jason semakin dekat dan tidak lama mereka menjalin hubungan.
Anne datang bersama dengan anak perempuannya bernama Dessy, Lily menyambut antusias kedatangan Dessy. Dia sangat merindukan sepupunya itu, sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan Dessy. Mereka saling bertukar cerita seru, tawa mereka terdengar begitu bahagia.
“Kak, dimana Jason?” tanya Dessy tiba - tiba, sejak tiba dipesta ini, dia tidak melihat sosok Jason kekasih Lily dimanapun. Padahal Dessy ingin sekali bertemu dengan Jason.
Lily menghela napasnya berat, dia mengangkat bahunya pelan, “entalah, sepertinya dia tidak bisa datang…,” ucapnya kecewa dengan senyuman getir. Lagi dan lagi Jason tidak bisa hadir di acara pentingnya.
Anne berdecak, “bibi merasa heran dengan Jason, dia tidak pernah hadir dalam setiap kehidupan pentingmu…,” ujarnya sedikit kesal. Dia benar - benar kesal dengan Jason, pria itu selalu menyakiti hati keponakannya. Dari awal dia dikenalkan oleh Jason oleh Lily, dia merasa Jason bukanlah sosok lelaki yang baik.
“Mungkin Jason sedang sibuk,” bela Lily dengan senyuman. Dia tidak ingin tantenya berpikir buruk tentang Jason.
“Sibuk bukan menjadi sebuah alasan, apalagi umurmu saat ini sudah waktunya untuk menikah Ly! Dia masih belum juga menikahimu, tetapi dia terus mengikatmu!” seru Anne marah. Jika Jason menyakiti hati Lily, dia tidak segan – segan memberi pelajaran kepada Jason. Lily adalah keponakanya yang dia cintai, dia tidak ingin siapapun menyakiti hati keponakannya itu.
“Ayolah ma, jangan merusak hari bahagia kak Lily!” sahut Dessy membuat Anne merasa bersalah kepada Lily.
Kemudian Anne membelai rambut Lily dan mengecup pipi Lily, dia sangat menyayangi keponakannya. Dia tidak rela Jason menyakiti hati Lily. Baginya, Lily seperti anaknya sendiri. Sejak di tinggal pergi oleh kedua orangtunya, Lily tidak pernah sekalipun bertindak nakal. Lily adalah wanita penurut dan manis. Ketika Anne sakit Lily lah yang sibuk mengurusinya.
Lalu Lily mengajak Anne dan Dessy untuk mencicipi menu sajian yang tersedia dipestanya. Napas Lily berhembus kencang, raut wajahnya terlihat sedih, semua orang terdekatnya menanyakan keberadaan Jason. Tetapi Lily hanya menjawab pertanyaan mereka dengan senyuman.
Jason, seperti biasa pria itu tidak akan hadir. Bahkan Jason juga tidak memberi selamat ulang tahun kepadanya. Lily benar - benar kecewa dengan Jason. Sampai kapan pria itu akan seperti ini kepadanya. Jujur saja dia sangat lelah dengan apa yang Jason lakukan kepadanya.
Tiba - tiba tatapan Lily bertemu dengan Reyhaan yang kini tengah memandanginya sejak tadi. Senyum Reyhaan mengembang jelas ketika Lily melihatnya. Reyhaan terlihat tampan dengan jas casualnya.
Sedetik kemudian Reyhaan berjalan menuju panggung kecil, lalu dia mengambil mic. Di atas panggung sana sudah tersedia kue ulang tahun yang bertuliskan nama Lily dan angka usia Lily.
Lily mengerutkan keningnya bingung melihat Reyhaan.
“Selamat malam,” kata Reyhaan membuat para tamu yang hadir tertuju kepadanya. “perkenalkan saya Reyhaan, pengawal pribadi nona Lily…,”
“Yah kami sudah tahu!” celetuk Reni sahabat Lily membuat Reyhaan dan beberapa tamu tertawa.
Rata-rata dari mereka sudah tahu jika Reyhaan adalah pengawal Lily. Bagaimana tidak tahu, setiap waktu Reyhaan selalu berada di dekat Lily. Kedekatan mereka seperti sepasang kekasih.
Kemudian Lily berjalan menuju depan panggung dan mendekatkan dirinya di tengah kedua sahabatnya Reni dan Salsa. Kedua mata indahnya terus memperhatikan Reyhaan.
“Saya berdoa untuk nona Lily, agar dia selalu dalam lindungan Tuhan. Dan apa yang dia inginkan akan terkabul.” Ucap Reyhaan diamini oleh semua para tamu termasuk Lily, “sebelum acara ini dimulai, saya ingin nona Lily untuk naik ke atas panggung,”
Lily naik keatas panggung dengan senyuman memandangi sosok Reyhaan, semua tamu menepuk tangan mereka. Saat dihadapan Reyhaan wajah Lily bersemu merah.
“Saatnya meniup lilin dan memotong kue ulangtahun,” ucap Reyhaan berbisik kepada Lily.
Lily mengangguk, dia memejamkan kedua matanya dan berdoa dalam hatinya. Sedetik kemudian dia membuka matanya dan meniup lilin di atas kue. Tidak lama tepukan tangan dan sorakan riang terdengar riuh. Lalu Lily memotong kuenya dengan senyuman lebar. Dan kue potongan pertamanya itu dia berikan kepada Reyhaan.
Reyhaan tentu sangat terkejut, dia tidak percaya Lily memberikan kue potongan pertama untuknya. Sudah empat tahun dia merayakan ulangtahun Lily dan di tahun keempat dia mendapatkan potongan kue ulangtahun pertama.
Biasanya kue ulangtahun potongan pertama Lily akan diberikan untuk Jason, meskipun Jason tidak datang dalam pesta ulangtahun Lily. Namun, Lily tetap memberi potongan ulangtahun itu untuk Jason, dia berharap Jason akan datang meskipun telat. Tapi sekarang Lily memberikannya untuk Reyhaan.
“Ambilah,” ucap Lily mengulurkan potongan kue dia atas piring kecil kepada Reyhaan.
Dengan ragu Reyhaan mengambil kue itu dari tangan Lily, lalu memakannya pelan.
Lily tertawa melihat raut wajah Reyhaan, “terimakasih sudah menjagaku selama ini…,” ucapnya membuat Reyhaan mengulum senyumnya.
Lily sudah bosan memberikan potongan kue pertamanya untuk Jason. Percuma saja dia memberikan kue itu untuk Jason, pria itu tidak akan pernah datang di hari istimewanya.
Tidak lama tepuk tangan kembali terdengar. Reni dan Salsa yang melihat pemandangan itu tersenyum gemas kepada Lily dan juga Reyhaan. Kedua wanita itu merasa Lily dan Reyhaan sangat terlihat cocok.
“Mengapa tidak Reyhaan saja yang menjadi kekasih Lily,” gumam Anne. Entah mengapa Reyhaan lebih cocok dengan Lily, dibandingan dengan Jason. Jika mereka menjalin hubungan, dia pasti akan merestui hubungan mereka.
“Itu tidak mungkin ma, Reyhaan hanya pengawal yang diperintahkan Jason untuk mengawal kak Lily…,” sahut Dessy yang tidak sengaja mendengar perkataan Anne.
“Yah meskipun Reyhaan hanya pengawal, tidak ada salahnya juga…,” ucap Anne memandangi Lily dan Reyhaan yang sedang sibuk bercengkerama diatas sana. Dia berharap Reyhaan lah yang menjadi pendamping Lily, karen dia bisa merasakan jika Reyhaan adalah laki – laki baik tidak seperti Jason.
***
Tidak lama acara dansa dipesta ulangtahun Lily dimulai. Lily hanya memandangi beberapa tamu yang berdansa di tengah pesta ini. Tawa Lily tidak lama terdengar ketika melihat kedua sahabatnya berdansa dengan pria yang baru dikenalnya. Lily begitu senang jika di tengah keramaian, karena hidupnya terlalu sepi. Maka dari itu, Lily sangat tidak suka dengan kesepian karena kehidupannya begitu sepi.
“Butuh teman, nona?” tanya Reyhaan tiba - tiba membuat Lily terkejut. Dia sengaja menghampiri Lily karena melihat wanita itu melamun.
Lily menatap Reyhaan yang berdiri disampingnya sekarang, “sudah beberapa tahun terakhir, aku tidak berdansa di ulangtahunku sendiri karena terlalu banyak berharap Jason akan hadir…,” ucapnya memeluk dirinya sendiri dengan hembusan napas, wajahnya terlihat sedih.
“Jika begitu maukah nona berdansa denganku?” tanya Reyhaan mengulurkan tangannya.
Lily tersenyum, “kau yakin mengajakku berdansa?”
Reyhaan mengangguk, “sangat yakin…,”
Lily menerima uluran tangan Reyhaan dengan wajah merona. Kemudian Reyhaan membawa Lily ke tengah panggung dan mulai berdansa disana.
Kedua tangan Reyhaan melingkar di pinggang Lily, diikuti Lily yang melingkari kedua tangannya di leher Reyhaan. Wajah Lily bersemu merah ketika Reyhaan terus memandanginya. Lalu mereka memulai dansa mereka dengan gerakan pelan nan pasti.
“Kau sudah punya kekasih?” tanya Lily seakan ingin tahu tentang kehidupan pribadi Reyhaan.
Reyhaan tertawa mendengar pertanyaan Lily, kemudian dia menggeleng, “aku tidak banyak waktu nona untuk memikirkan hal itu,”
Lily menaikan satu alisnya, “kenapa? Ku lihat-lihat kau cukup tampan,” tanyanya heran.
Reyhaan tampak terkejut mendengar pujian Lily untuknya, “setiap harinya aku bersamamu, kasihan nanti seseorang yang akan menjadi kekasihku…,” jawabnya tersenyum tipis.
Lily hanya menatap Reyhaan, wajah mereka terlihat begitu dekat saat ini. Sedetik kemudian Lily meletakan kepalanya di bahu Reyhaan. Entah mengapa dia begitu nyaman menyandarkan dirinya kepada Reyhaan. Jika begini terus dia akan terbawa perasaan dengan Reyhaan.
Sedangkan Reyhaan semakin mendekap Lily dalam pelukannya. Senyumnya mengulum senang. Reyhaan berharap waktu seperti ini tidak akan berlalu.
Sahabat Lily, Salsa dan Reni memperhatikan Lily dan Reyhaan dari kejauhan. Salsa dan Reni mendukung hubungan mereka jika nanti mereka akan menjadi pasangan kekasih.
***
Di tempat lain…
Jason menatap langit malam tanpa bintang dari jendela kamar apartementnya. Napasnya berhembus kencang memikirkan sosok Lily, wanita yang dicintainya. Lagi dan lagi dia tidak selalu ada untuk Lily, bahkan di hari istimewa wanita itu.
Entah sampai kapan dia akan membuat Lily seperti ini selamanya. Dia tidak ingin kehilangan Lily, tetapi di lain sisi ada sebentuk hati yang harus dia jaga. Dia benar-benar bingung dan sulit dengan situasi yang terjadi dengannya.
Lalu pandangan Jason beralih ke tempat lain, dia menatap wanita yang terbaring lemah di tempat tidur. Dia mendekati wanita itu dengan helaan napas berat, airmatanya mengembang merah saat melihat wanita dihadapannya. Di tangan dan hidung wanita itu terdapat selang infuse. Wanita itu sudah terbaring lemah tak sadarkan diri selama delapan tahun akibat kecelakaan yang menimpanya.
Jason berharap wanita itu akan sadarkan diri, dia berharap ada sedikit mukjizat dari Tuhan. Namun, hingga detik ini wanita itu belum juga menunjukan perubahan.
Kemudian Jason menggeser kursinya dan menatap wanita itu dengan pandangan kosong. Masih ingat jelas dalam benaknya, ketika pertama kali bertemu dengan wanita dihadapannya saat ini. Sebelum kecelakaan yang menimpa wanita itu, wanita itu adalah wanita periang dan selalu membuat Jason tertawa bahagia. Semakin lama mengenal wanita itu membuat Jason yakin, wanita itu adalah belahan jiwanya.
Hingga peristiwa buruk itu terjadi, dimana wanita itu mengalami kecelakaan. Wanita itu tertabrak sebuah mobil kontainer saat menyebrang, ketika ingin menemuinya di sebuah kafe. Seandainya saja waktu itu Jason yang menyebrang bukan wanita itu, wanita itu pasti tidak akan mengalami hal buruk seperti ini.
Jason mengutuk dirinya sendiri ketika semua ini terjadi kepada wanita itu, dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dan dia juga berjanji akan merawat wanita dihadapannya sampai wanita itu kembali sehat. Dia akan tetap berada untuk wanita itu.
Kadang kala Jason menangis dan meminta Tuhan untuk mengganti posisi wanita itu. Namun, Tuhan tidak mengabulkan permintaannya.
Disaat hati Jason bimbang dan tidak tahu harus melakukan apa, dia tidak sengaja bertemu dengan Lily. Bagi Jason, Lily adalah wanita yang sangat sempurna untuknya. Lily mempunyai senyuman yang indah, tidak pernah kehabisan pembicaraan saat mereka bersama, Lily selalu membuatnya tertawa bahagia. Kehadiran Lily dalam hidupnya membuat rasa kekosongan dihatinya sirna. Hingga rasa rindunya terhadap wanita yang sedang terbaring lemah bisa terobati berkat Lily.
Semakin lama Jason merajut hubungan dengan Lily membuatnya merasa berdosa karena telah mengkhianati wanita itu. Namun, di lain sisi dia merasa jahat karena telah memberi Lily harapan semu.
“Amera, katakan aku harus bagaimana?” tanya Jason kepada wanita dihadapannya. Dia memegang tangan kiri wanita bernama Amera, “aku mencintaimu, namun, aku tidak ingin kehilangan Lily...,” ucapnya dengan wajah tertunduk sedih, “aku sungguh merindukanmu Amera, maafkan aku karena telah menduakan cintamu dengan Lily. Lily begitu terlihat mirip denganmu...,” lanjutnya dengan tawa miris memikirkan sosok Lily saat ini.
Sedetik kemudian Jason larut dalam lamunannya memikirkan sosok Lily. Sepertinya dia harus bertemu dengan Lily, dia benar-benar merindukan Lily. Bayang - bayang Lily kini terus berada dalam pikirannya. Hari ini adalah hari istimewa Lily, tetapi dia tidak bisa hadir. Dokter menghubunginya dan memberi kabar tentang istrinya Ameera yang keadaanya semakin memburuk.
“Maafkan aku Ly...,” ucap Jason dengan mata terpejam.
***