Seminggu kemudian...,
Lily baru saja selesai mandi, rambut basahnya masih tertutup handuk dan dia masih mengenakan baju mandi. Napasnya berhembus kencang ketika melihat hadiah ulang tahunnya yang belum dia buka. Kemudian dia berjalan menuju hadiah-hadiah itu, dia membuka salah satu hadiah itu. Senyumnya mengembang tipis ketika melihat hadiah tersebut, hadiah itu berisi lingerie berwarna merah marun. Dia sangat penasaran siapa yang memberi hadiah ini kepadanya. Ada – ada saja yang memberi hadiah ini kepadanya.
Senyum Lily semakin melebar saat menemukan secarik surat berwarna biru muda. Ternyata hadiah itu dari sahabatnya Salsa. Sahabatnya itu selalu memberikan hadiah yang aneh - aneh untuknya.
“Pakai ini jika Jason kembali. Ku jamin dia tidak akan lagi pergi darimu...,” ucap Lily membaca surat tulisan tangan Salsa.
Lily mengeleng pelan, kemudian dia membuka baju mandinya dan mencoba lingerie pemberian dari Salsa. Tawanya terdengar renyah ketika dia melihat dirinya sendiri di cermin. Dia terlihat seperti wanita nakal mengenakan pakaian ini. Dia terus memandangi dirinya di cermin, sepasang mata indahnya kini memperhatikan lekuk tubuhnya. Lily mempunyai tubuh yang sangat ideal. Tidak lama napasnya berhembus kencang ketika memikirkan Jason. Sampai detik ini dia masih menjaga kesuciannya, hubungannya dengan Jason tidak pernah keluar dari aturan. Lily ingin memberikan semua miliknya hanya untuk lelaki yang tepat untuk dirinya.
Lagipula melihat kelakukan Jason seperti sekarang, Lily menjadi ragu akan hati lelaki itu kepadanya. Untung saja dia bisa menjaga apa yang dia miliki hingga saat ini, jika dia memberikannya pada Jason, dia tidak bisa menjamin Jason tidak akan meninggalkannya. Sekarang saja Jason sangat sering meninggalkannya.
Tiba - tiba pintu kamarnya diketuk membuatnya sedikit terkejut.
“Nona Lily, hari ini apa kau tidak bekerja?” tanya Reyhaan dari luar sana. Reyhaan merasa heran kenapa Lily belum juga keluar dari kamarnya.
Lily melirik jam di dindingnya, jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Namun, entah mengapa dia malas sekali berangkat bekerja, di tempat kerja pun dia menjadi tidak fokus karena memikirkan kehidupan pribadinya. Suasana hatinya sedang buruk dan selalu buruk. Dia tidak mempunyai semangat hidup.
Sejak hari ulang tahunya telah lewat, Jason masih belum menghubunginya juga. Jika dia bertemu dengan Jason dia ingin bersikap tegas kepada pria itu. Lily tidak ingin terus digantung hubungannya dengan lelaki itu, dia harus meminta kepastian.
“Aku sepertinya tidak pergi kerja, Rey...,” jawab Lily dengan hembusan napas. Suaranya sedikit kencang agar Reyhaan bisa mendengar
“Apa nona sakit?” tanya Reyhaan lagi. Suaranya terdengar cemas.
Lily menggeleng, “tidak, aku baik - baik saja...,”
“Baiklah, jika begitu aku tunggu nona di meja makan..., saya sudah menyiapkan sarapan...,” ujar Reyhaan.
Lily hanya terdiam mendengar perkataan Reyhaan. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya dan membukanya. Tidak lama dia mendapati Reyhaan sedang menuangkan teh hangat ke dalam cangkir.
Lily mengigit bibir bawahnya melihat Reyhaan disana. Reyhaan begitu mempesona. Otot-otot tubuhnya terlihat jelas dalam balutan kaos olahraganya. Sepertinya Reyhaan baru saja selesai berolahraga. Rambutnya sedikit membasah karena keringat. Tiap pagi Reyhaan selalu berolahraga sebelum menemani Lily beraktifitas. Dan kadang Lily suka memperhatikan Reyhaan berolahraga secara diam – diam. Reyhaan terlihat sangat menggoda.
Bersama Reyhaan setiap waktu membuat perasaan Lily kepada Reyhaan berbeda. Namun, dia selalu menepis perasaannya, dia tidak ingin memiliki perasaan yang lebih kepada Reyhaan. Reyhaan hanya pengawalnya yang di utus oleh Jason untuk menjaganya. Lagipula Reyhaan tidak mungkin menyukainya. Reyhaan dibayar Jason hanya untuk menjaganya bukan untuk menyukainya.
Kemudian Lily berjalan menghampiri Reyhaan dengan langkah pelan, Lily berdehem saat berada tepat dibelakang Reyhaan membuat pria itu menoleh.
Reyhaan mengerutkan keningnya saat melihat penampilan Lily yang hanya mengenakan Lingerie, apalagi rambut Lily masih terbalut oleh handuk. Sedetik kemudian Reyhaan mengalihkan pandangannya ke tempat lain, melihat Lily berpenampilan seperti saat ini membuat pikirannya menjadi tidak fokus.
Lily menaikan satu alisnya, dia begitu heran melihat wajah Reyhaan tampak memerah. Rahang pria itu terlihat bergemertak. Lalu Lily melewati Reyhaan begitu saja dan duduk di meja makan. Di atas meja sudah tersedia sarapan menu western kesukaan Lily, aroma lezat tercium jelas dan membuat Lily semakin lapar. Lily masih belum sadar akan hal itu.
“Kau baik - baik saja, nona?” tanya Reyhaan tanpa menatap Lily. Dia menyibukan dirinya mengatur piring dan sendok yang sudah tersusun rapi, dia menutupi rasa gugupnya, jantungnya pun berdegup tidak karuan. Melihat Lily hanya mengenakan pakaian sexy itu membuat pikirannya berpikir yang tidak – tidak, baru kali ini dia meliat Lily berpakaian seperti saat ini.
“Ya, kenapa?” tanya Lily heran.
“Maaf sebelumnya nona, apa kau bisa berpakaian yang benar sebelum bertemu denganku?” tanya Reyhaan membuat Lily semakin tidak mengerti.
Sedetik kemudian Lily berteriak kencang, dia lupa, benar - benar lupa. Dia masih mengenakan Lingerie pemberian Salsa. Dia benar - benar ceroboh! Pantas saja Reyhaan tidak nyaman melihatnya. Kemudian Lily menarik handuk yang menutupi rambut basahnya dan menutup dadanya dengan handuk sebelum Reyhaan melihat kembali bagian tubuhnya itu. Lalu Lily segera berlari menuju kamarnya. Lily begitu malu setengah mati dengan apa yang terjadi saat ini.
Reyhaan hanya mengulum senyumnya melihat tingkah Lily. Jika terus berlama tinggal dengan Lily itu sangat tidak bagus untuknya. Dia takut tidak bisa menahan dirinya kepada Lily. Dia menatap lama pintu kamar Lily.
Seandainya saja wanita itu belum milik siapapun, batin Reyhaan dengan hembusan napas.
Ting Tong
Tiba-tiba pintu apartement berbunyi, Reyhaan langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu masuk. Sedetik kemudian dia meninggalkan meja makan dan berjalan pelan menuju pintu masuk. Sebelum dia membuka pintu, dia mengintip lubang pintu untuk mengetahui siapa yang datang ke apartement Lily. Sepasang mata elang terkejut saat melihat sosok Jason di luar.
Jason, atasannya tiba - tiba saja datang tanpa memberitahunya. Biasanya Jason selalu memberitahu kepadanya tentang kedatangannya kepada Reyhaan.
Reyhaan berpikir sebentar, lalu pandangannya beralih ke kamar Lily. Haruskah dia memberitahu Lily kedatangan Jason ataukah dia membuka pintu apartement ini dan mempersilahkan Jason untuk masuk?
Tidak lama Reyhaan mendengar sayup - sayup suara di luar pintu, sepertinya Jason sedang berbicara kepada asistennya. Hitungan detik, bunyi kode pintu apartement berhasil terbuka membuat Reyhaan memundurkan langkahnya. Reyhaan lupa jika Jason mempunyai akses pintu masuk ke apartment milik Lily.
Kemudian pintu apartement terbuka lebar. Kini Reyhaan bisa melihat sosok Jason bersama dengan asistennya dan salah satu pengawalnya. Entah apa yang terjadi dengan Reyhaan, dia merasa tidak senang dengan kehadiran Jason.
Senyum Jason begitu lebar saat melihat Reyhaan, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartement. Reyhaan memberi hormat kepada Jason ketika tatapan mereka bertemu.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Jason menatap Reyhaan lekat - lekat.
“Baik, Tuan...,” jawab Reyhaan singkat.
“Dimana Lily?” tanya Jason sambil melewati Reyhaan. Sepasang matanya menatap tajam apartement milik Lily. Sudah sangat lama dia tidak berkunjung kesini. Apartement ini masih sama, dekorasinya tidak di ubah sedikitpun. Harum bunga Lily tercium jelas, Jason sangat merindukan harum bunga ini. Foto - foto Lily dan Jason masih menghiasi setiap sudut dan pajangan di apartement ini. Dia sengaja tidak memberi kabar karena ingin memberi kejutan kepada Lily dan sekaligus ingin meminta maaf karena tidak hadir malam tadi di acara ulang tahun kekasihnya itu.
“Di kamar, Tuan...,” jawab Reyhaan menatap gerak - gerik Jason.
Sedetik kemudian mata Jason menatap tajam pada sebuah bingkai di meja pajangan. Jason melangkahkan kakinya mendekati bingkai itu. Dia semakin menajamkan penglihatannya. Bingkai itu adalah foto kebersamaan Lily dengan Reyhaan. Lily tersenyum simpul sambil menarik dasi Reyhaan yang lengkap mengenakan jas. Yang membuat Jason kesal melihat foto itu ketika Lily merebahkan kepalanya di bahu Reyhaan, sedangkan Reyhaan wajahnya terlihat begitu senang disana.
Kemudian Jason menatap Reyhan dengan begitu tajam, telunjuk kirinya menunjuk bingkai foto itu. Jason menatap Reyhan dengan begitu kesal, raut wajahnya seakan ingin meminta penjelasan dari Reyhaan tentang foto itu. Jason sangat cemburu melihat foto kebersamaan mereka
Sebelum Reyhaan membuka mulutnya, pintu kamar Lily tiba - tiba terbuka.
“Rey, siapa yang datang?” tanya Lily tiba - tiba, dia baru saja keluar dari kamarnya. Dia hanya mengenakan pakaian mandi.
Jason spontan menoleh kearah Lily. Saat tatapannya bertemu dengan Lily, dia tersenyum lebar kearah Lily.
Lily menatap Jason begitu tekejut, dia tidak percaya apa yang dia lihat sekarang. Jason datang menemuinya? Setelah sekian lama pria itu tidak menemuinya? Lalu tatapan Lily beralih kearah Reyhaan untuk meminta jawaban dari pria itu atas kedatangan Jason yang secara tiba - tiba. Reyhaan hanya menggeleng pelan dengan tangan melipat, sungguh Reyhaan tidak tahu jika Jason datang hari ini.
“Untuk apa kau datang?” tanya Lily ketika Jason ingin mendekatinya.
“Itukah caramu menyambutku, sayang?” tanya Jason tertawa ringan.
Lily hanya menatap Jason dengan raut wajah tidak senang. Pria itu datang secara tiba-tiba tanpa memberitahunya. Selama ini pria itu tidak pernah memberi kabar apapun kepadanya. Jason datang secara tiba – tiba dan menghilang juga secara tiba – tiba, Lily sangat lelah diperlakukan seperti itu oleh Jason.
“Kau semakin terlihat cantik, Ly...,” puji Jason dengan senyuman simpul, kemudian dia merengkuh wajah Lily penuh kerinduan, “aku merindukanmu...,” akuinya.
Lily menepis tangan Jason, “kemana saja kau selama ini?” tanyanya marah, “kau menghilang dan tidak pernah sedikitpun menghubungiku!” serunya mendorong bahu Jason. Dia tidak ingin Jason menyentuhnya.
Jason menghela napas, “Aku minta maaf, aku banyak pekerjaan...,” elaknya agar Lily tidak lagi marah kepadanya.
Lily tertawa kecut, “bisakah kau memberi alasan yang logis?” tanyanya dengan mata melebar, “kita sudah menjalin hubungan lama, dan kau sering menjadikan alasan itu kepadaku. Sekarang aku tidak ingin mendengar apapun alasan darimu!” serunya dengan airmata menetes.
Jason menarik lengan Lily ketika wanita itu ingin pergi kekamarnya, Lily berusaha melepaskan cengkraman Jason dari lengannya. Tapi tidak semudah itu, tenaga Jason begitu kuat. Jason menatap Lily dengan sorot marah, dia tidak senang Lily memakinya di depan anak buahnya. Baginya itu adalah sebuah penghinaan.
Sementara itu Reyhaan hanya menatap mereka tanpa bisa menolong. Dia tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Meskipun dia ingin sekali mengusir atasannya dari apartement ini.
“Alasan seperti apa yang kau inginkan?!” tanya Jason mendesis geram, “selama ini aku sibuk bekerja untukmu, kau bisa menikmati semua kehidupan mewah ini karena hasil kerja kerasku! Sekarang disaat aku datang menemuimu kau malah memperlakukanku seperti sekarang!” teriaknya.
Mendengar perkataan Jason, airmata Lily lagi-lagi menetes, “aku tidak meminta semua kehidupan mewah yang kau berikan. Dan selama ini aku tidak menikmati kehidupan mewah yang kau berikan padaku, Jason..., kau datang semaumu dan pergi semaumu..., aku bukanlah mainanmu...,” ucap Lily dan melepaskan cengkaraman Jason sekuat tenaga, hingga cengkraman Jason terlepas begitu saja. Kemudian Lily berjalan cepat menuju kamarnya.
Jason berlari mengejar Lily dan menahan pintu kamar Lily sebelum wanita itu masuk kedalam kamarnya.
“Apa maumu?” tanya Jason, dia tidak ingin semakin bertengkar dengan Lily. Padahal dia begitu merindukan Lily.
“Kau sudah tahu apa mau-ku, Jason...,”
Jason menatap Lily lekat-lekat, kemudian dia menarik bahu Lily dan mencium bibir wanita itu secara kasar. Lily berusaha melepaskannya. Namun, tidak semudah itu Jason membawanya kedalam dekapannya.
Reyhaan mengepalkan kedua tangannya melihat pemandangan itu, dia begitu marah. Dua orang dibelakang Reyhaan mengalihkan pandangannya ke tempat lain saat melihat Jason mencium Lily disana.
Jason sangat tahu keinginan Lily, wanita itu ingin Jason menikahinya. Namun, Jason tidak bisa melakukannya, dia tidak ingin menyakiti hati wanita yang sedang terbaring lemah di kediamannya saat ini. Dia bisa memberi apapun untuk Lily, tetapi dia tidak bisa menikahi wanita itu untuk saat ini.
Lily mendorong tubuh besar Jason saat pria itu semakin mendekapnya erat. Lalu ciuman mereka terlepas ketika Lily berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh Jason. Kemudian Lily membuka pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam. Lily menangis di dalam kamarnya.
Jason menghela napasnya berat, dia tidak percaya pertemuannya dengan Lily akan berakhir seperti ini. Dia sering bertengkar dengan Lily akhir-akhir ini. Pertemuan yang kurang, sekali bertemu mereka bertengkar.
Lalu Jason merapikan kemejanya dan berjalan menghampiri Reyhaan. Jason menatap Reyhaan begitu tajam.
“Aku sudah mentransfer gajimu dan bonusmu...,” ucap Jason kepada Reyhaan, “tugasmu saat ini, kau harus membuat Lily tenang dan buat dia agar tidak lagi marah kepadaku. Esok aku akan menemuinya kembali dan kau juga harus membuatnya kembali baik padaku besok. Dan satu lagi, jangan coba-coba berani mendekati Lily atau menyentuhnya...,” katanya dengan nada sedikit mengancam.
Jason menatap Reyhaan dengan pandangan sangat lama. Entah mengapa dia merasa tidak senang kepada Reyhaan ketika melihat foto kebersamaannya bersama Lily tadi.
Kemudian Jason pergi dari hadapan Reyhaan bersama dua orang pekerjanya.
Reyhaaan menggeleng pelan, lalu dia menutup pintu apartement. Tidak lama dia melangkahkan kakinya menuju kamar Lily, dia mengetuknya pelan saat berada dihadapan pintu kamar Lily, dia ingin tahu keadaan Lily saat ini.
***