Lily menangis pilu di atas tempat tidurnya, dia sangat kecewa dengan perkataan Jason tadi. Dia senang melihat Jason datang menemuinya, tapi dia juga sangat marah kepada pria itu. Dia sudah cukup bersabar dengan perlakuan Jason kepadanya, lelaki itu selalu bersikap seenaknya kepadanya dan dia sangat lelah dengan semua sikap Jason kepadanya.
Lily tidak membutuhkan semua yang Jason berikan kepadanya, yang dia butuhkan Jason ada untuknya. Dia sangat mengerti dengan kesibukan Jason, tapi kesibukannya kadang tidak masuk akal bagi Lily. Semua kemewahan yang Jason berikan untuknya tidak dia nikmati, selama ini dia bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Dia tidak ingin mengantungkan hidupnya kepada Jason, karena jika dia mengantungkan hidupnya kepada Jason jika dia kehilangan lelaki itu sangat tidak baik untuk dirinya dan juga hatinya.
Tiba - tiba pintu kamarnya diketuk, Lily menoleh kearah pintu dengan airmata yang membasahi pipinya.
“Nona Lily, apa kau baik - baik saja?” tanya Reyhaan dari luar sana. Reyhaan terlihat cemas dengan keadaan Lily sekarang. Seandainya saja di bisa membela Lily tadi, Lily tidak akan mendapati perlakuan seperti itu dari Jason tadi. jika pun dia marah, dia tidak punya hak itu. Dia hanya anak buah Jason.
Lily terdiam dan menggigit bibir bawahnya. Selama ini Reyhaan yang selalu ada untuknya, secara tidak langsung Reyhaan menggantikan posisi Jason. Kemudian Lily tertunduk, dia tengah memikirkan sesuatu. Lalu dia bangkit dari atas tempat tidur sambil menyeka airmatanya dan berjalan menuju pintu kamarnya dan membukanya.
Setelah pintu kamarnya terbuka lebar, dia mendapati Reyhaan yang tersenyum tipis kepadanya. Tanpa banyak berkata dia langsung memeluk Reyhaan dan menangis dalam dekapan pria itu. Dia ingin meluapkan semua isi hatinya kepada Reyhaan.
Reyhaan yang merasakan pelukan Lily membalas pelukan wanita itu. Tubuh Lily bergetar hebat, dia menghusap punggung Lily berusaha menenangkan hati wanita itu.
“Rey, mengapa Jason begitu tega kepadaku?” tanya Lily kepada Reyhaan, “bertahun-tahun dia melakukan ini kepadaku. Aku sudah lelah...,” ucapnya mendongakan kepalanya menatap Reyhaan.
Reyhaan menghela napasnya dan tangan kanannya terulur, kemudian dia menyeka airmata Lily di pipi wanita itu. wajah Lily terlihat begitu gusar dan penuh kesedihan.
Jantung Lily berdebar kencang, kini dia begitu dekat dengan Reyhaan. Napas hangat pria itu terasa di wajahnya. Tidak lama tatapannya bertemu dengan Reyhaan. Wajah Lily terasa panas ketika kedua bola mata cokelat milik Reyhaan menatapnya.
Tanpa sadar Lily mendekatkan wajahnya kepada Reyhaan, saat bibirnya ingin bersentuhan dengan Reyhaan, dia memejamkan kedua matanya. Tidak lama bibirnya dan bibir Reyhaan bersentuhan. Ada sesuatu aneh dalam diri Lily, ini adalah pertama kalinya dia begitu dekat dengan Reyhaan. Lalu Lily mencoba melumat lembut bibir Reyhaan.
Reyhaan yang merasakan ciuman yang diberikan oleh Lily begitu mengejutkan untuknya. Jantungnya begitu berdebar kencang, apalagi ketika Lily melumat bibirnya. Dia tidak membalas ciuman yan Lily berikan untuknya, dia begitu terkejut dengan ciuman yang tiba – tiba ini.
Lily, wanita itu sedang menciumnya kini? Apakah Reyhaan sedang bermimpi saat ini?
Kemudian Lily melepaskan ciumannya kepada Reyhaan dengan wajah tertunduk, wajahnya terlihat malu dan memerah. Tidak seharusnya Lily mencium Reyhaan disaat sedang mengalami kesedihan seperti ini.
Reyhaan hanya manatap Lily tanpa mengatakan apapun. Dia masih sangat shock.
“Maaf,” kata Lily tanpa menatap Reyhaan, lalu dia melepaskan pelukannya kepada Reyhaan.
Namun Reyhaan menarik lengan Lily, sehingga Lily kembali menatapnya. Tanpa banyak berkata, Reyhaan merengkuh wajah Lily dan mencium bibir Lily. Dia melumatnya dan semakin merengkuh wajah Lily. Dia sudah tidak bisa menahan perasaannya kepada Lily. Perasaan yang selalu menganggunya sejak dia selalu menghabiskan waktunya bersama Lily. perasaan yang dia miliki sejak pertama kali bertemu dengan Lily dan mengenal jauh Lily.
Lily yang merasakan itu, tentu saja membalasnya. Mereka saling membalas berciuman panas disana. Ciuman itu menyiratkan ada sebuah perasaan dalam diri mereka masing – masing yang tidak pernah mereka ungkapkan. Ketika tangan kanan Lily masuk ke dalam kaosnya dan menyentuh perut berotot milik Reyhaan, Reyhaan menahan tangan Lily dan melepaskan ciumannya.
“Maaf nona, saya begitu lancang...,” kata Reyhaan dengan napas terengah. Dia begitu bodoh melakukan hal itu kepada Lily, tidak seharusnya dia mencium Lily karena tidak bisa menahan perasaannya kepada wanita itu.
Lily menarik tangan Reyhaan ketika pria itu ingin beranjak pergi dari hadapannya. Dia tidak ingin Reyhaan pergi, dia sangat membutuhkan Reyhaan.
“Aku sangat membutuhkanmu Rey,” kata Lily berbisik, sepasang matanya memerah.
Reyhaan menghela napasnya, lalu dia kembali mendekati Lily dan menarik pinggang ramping wanita itu. Jemari kanannya merapikan anak rambut Lily yang menutupi sebagian mata Lily. Seandainya saja Lily belum dimiliki siapapun saat ini, dia sudah memberanikan dirinya untuk mendekati wanita itu. Namun, kenyataannya wanita itu sudah dimiliki seseorang.
Kemudian Lily menarik tangan Reyhaan menuju tempat tidurnya, lalu dia naik ke atas tempat tidur dengan tangan terulur kepada Reyhaan.
Reyhaan hanya menatap Lily begitu lama, ini adalah pertama kalinya dia masuk kedalam kamar Lily selama empat tahun dia menjadi pengawal wanita itu. Lalu Reyhaan memberanikan dirinya naik ke atas tempat tidur Lily tanpa melepaskan tatapannya kepada Lily sedikitpun.
Entah siapa yang memulai mereka kembali berciuman. Sungguh Reyhaan sudah tidak bisa lagi menahan hasrat dirinya kepada Lily. Diam - diam, pria itu memiliki perasaan berbeda kepada Lily, meskipun dia selalu menepisnya. Dia sadar diri jika dia hanya pengawal Lily yang bekerja pada Jason. Dia juga tidak pantas untuk wanita seperti Lily.
Reyhaan menghempaskan tubuh Lily di atas tempat tidur, hingga kini Reyhaan berada di atas tubuh Lily sekarang. Dia tidak melepaskan ciumannya kepada Lily, kadang ciumannya turun ke leher jenjang Lily. Baju mandi yang dikenakan Lily terbuka sebagian di bahu kanannya.
Lily mengerang pelan merasakan ciuman yang diberikan Reyhaan untuknya. Sepasang matanya menutup merasakan semua sentuhan yang diberikan Reyhaan untuknya.
Tidak lama Reyhaan menghentikan ciumannya dan menatap Lily. Dia merasa bersalah melakukan ini kepada Lily, seharusnya dia tidak melakukan hal ini. Dia merasa seperti pria pecundang yang memanfaatkan kondisi Lily yang sedang bersedih.
Lily membuka kedua matanya dan mendapati Reyhaan tengah menatapnya. Lalu tangan kanan Lily terulur dan menghusap lembut rambut Reyhaan dengan senyuman simpul. Senyuman Lily diikuti oleh Reyhaan tidak lama. Wajah mereka terlihat merona sekarang, apa yang terjadi barusan membuat jantung mereka berdegup kencang sekarang.
Reyhaan menghempaskan tubuhnya disamping Lily dan menarik tubuh Lily dalam dekapannya. Lily tentu bahagia dengan perlakuan Reyhaan saat ini.
“Aku minta maaf nona, seharusnya aku tidak---,”
“Kau tidak perlu minta maaf,” potong Lily, “aku bahagia saat ini...,” ucapnya dengan senyuman mengulum dan melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Reyhaan.
Reyhaan tersenyum senang, lalu jemari kanannya menghusap rambut Lily lembut. Saat Lily mendongakan kepalanya, Reyhaan mengecup kening Lily begitu lama.
Lily memejamkan kedua matanya merasakan ciuman hangat yang diberikan Reyhaan saat ini. Ciuman yang diberikan Reyhaan sangat menyejukan hatinya.
Setelah itu tidak ada pembicaraan diantara mereka. Mereka sedang melamun memikirkan kejadian tadi. Tanpa sadar baik Reyhaan dan Lily wajah mereka bersemu merah membayangkan hal tadi. Ingin rasanya mereka mengulang tetapi mereka mencoba semampu mereka untuk menahannya.
***
Sorenya...
Reyhaan sedang menunggu Lily di ruang tengah, saat ini dia ingin menemani Lily pergi untuk menyegarkan pikirannya. Napasnya berhembus kencang, dia masih belum bisa melupakan kejadian tadi, setiap mengingatnya wajahnya bersemu merah. Senyumnya tersungging tipis.
Empat tahun menjadi pengawal Lily dan selalu berada di dekat wanita itu membuat perasaannya kepada wanita itu berbeda. Dia tidak tahu sejak kapan perasaannya kepada Lily berbeda. Yang pasti dia sangat menyukai senyuman wanita itu dan paling tidak suka melihatnya menangis dan bersedih karena memikirkan sosok Jason.
“Rey,” panggil seseorang tiba - tiba membuat Reyhaan terkejut.
Reyhaan menoleh kearah sumber suara, dia tersenyum saat mendapati sosok Lily berdiri di depan pintu kamarnya. Wanita itu tersenyum hangat kepadanya sambil menatap canggung Reyhaan.
Lily terlihat cantik disana, ingin sekali Reyhaan mencium wanita itu lagi. Namun, dia berusaha menahan dirinya untuk tidak melakukan hal itu, dia tidak ingin membuat Lily merasa tidak nyaman dengan dirinya.
Lalu Lily berjalan menghampiri dirinya, “Maaf membuatmu menunggu,” katanya.
Reyhaan menggeleng pelan, “tidak masalah nona,” balasnya.
Lily tertawa pelan, sejak kejadian tadi suasana diantara mereka menjadi canggung, “kau bisa memanggilku dengan namaku saja, lagipula usiaku lebih mudah lima tahun darimu...,” ucapnya membuat Reyhaan tertawa.
“Baiklah Lily, kau mau aku temani kemana hari ini?” tanya Reyhaan kemudian.
Lily berpikir sejenak, “aku ingin menghabiskan waktu bersamamu,” jawabnya.
Reyhaan begitu terkejut mendengarnya, kemudian dia mengulurkan tangannya kepada Lily. Lily menerimanya dan kemudian tangan mereka saling menggengam satu sama lain. Lalu mereka berjalan keluar dari apartement.
Tawa Reyhaan dan Lily terdengar ceria di dalam mobil. Lily tidak bisa menahan tawanya saat mendengar cerita Reyhaan tentang keluarganya. Baru kali ini dia mendengar Reyhaan bercerita tentang keluarga. Ternyata berbincang dengan Reyhaan begitu sangat seru.
Reyhaan mempunyai ibu dan satu adik perempuan yang tinggal di Bali. Sekali waktu dia mengunjungi mereka. Namun, ketika Reyhaan menjadi pengawal Lily, dia sangat jarang mengunjungi keluarganya. Apalagi ketika Jason meminta kepada Reyhaan untuk tidak meninggalkan Lily seorang diri.
“Bolehkah aku bertemu dengan Ibu dan adikmu?” tanya Lily membuat Reyhaan menatapnya sesaat.
Reyhaan berpikir, mengenalkan Lily dengan keluarganya itu sangat tidak mungkin. Nanti ibu dan adiknya akan berpikir jika Lily adalah kekasihnya. Beberapa kali Reyhaan pernah meceritakan sosok Lily kepada ibunya, ibunya pun tahu dengan pekerjaan Reyhaan yang menjadi seorang pengawal. Namun, ibunya belum pernah bertemu dengan Lily sekalipun.
“Sepertinya aku tidak bisa,” jawab Reyhaan dengan hembusan napas.
Lily mengerutkan keningnya, “mengapa?”
Tiba - tiba tawa Reyhaan terdengar renyah, “aku tidak ingin mereka berpikir kau adalah kekasihku,,” dia tidak bisa membayangkan hal itu. Dia sangat tahu seperti apa ibu dan adiknya, mereka pasti akan menggodanya jika membawa Lily bertemu dengan mereka.
“Kenapa jika mereka berpikir seperti itu? apakah itu membuatmu tidak nyaman?” tanya Lily, wajahnya terlihat serius, kedua tangannya melipat.
Reyhaan menggeleng, “bukan seperti itu, tapi kenyataannya aku hanyalah pengawalmu...,” jawabnya tersenyum tipis. Dia hanya tidak ingin Lily berharap lebih kepadanya.
Lily berdecak, kemudian dia memajukan kepalanya dan mengecup pipi Reyhaan kilas membuat pria itu begitu terkejut dan menepikan mobil yang sedang dikendarainya di tepi jalan. Lalu dia menatap Lily dengan wajah terkejut. Lily hanya menatapnya dengan salah satu alis terangkat.
“Setelah kejadian tadi kau masih menganggap dirimu adalah pengawal?” tanya Lily.
Reyhaan menghembuskan napasnya dan mengangguk pelan, “itulah kenyataannya, aku hanyalah pengawalmu...,” jawabnya lirih. Seandainya dia bukan pengawal Lily yang di utus oleh Jason, pasti dia sudah menjadikan Lily kekasihnya sekarang.
Lily menatap Reyhaan begitu lama, dia sangat kecewa dengan perkataan Reyhaan. Yah meskipun Reyhaan hanya pengawalnya yang dibayar oleh Jason untuk selalu menjaganya, tapi kini semua itu berbeda baginya. Ciuman Reyhaan pun masih menghangat hingga kini di bibir Lily.
“Ku harap kau mengerti Lily,” ucap Reyhaan, “aku tidak ingin membuat Tuan Jason kecewa kepadaku, dan aku juga tidak ingin membuatnya curiga...,” katanya memberi pengertian kepada Lily. dia tidak ingin membuat Lily terlalu banyak berharap kepadanya.
“Aku tidak peduli dia curiga atau tidak!” balas Lily, dia terlihat marah, “selama ini dia tidak ada untukku, bahkan hubunganku dengannya sudah tidak sehat. Penuh kebohongan darinya...,” katanya dengan nada tinggi.
Reyhaan hanya menatap Lily tanpa bisa mengatakan apapun. Yah, dia sangat tahu hubungan Lily dan Jason begitu parah. Jason tidak ingin Lily pergi meninggalkannya, tetapi pria itu tidak memberi kepastian kepada Lily tentang hubungan mereka. Kadang perlakuan Jason kepada Lily sangat tidak bisa dimaafkan. Jason menggantungan cinta Lily begitu lama.
Seandainya saja Reyhaan bisa mengungkapkan kebenaran kepada Lily, apa yang membuat Jason begitu seenaknya menggantungkan cinta Lily.
Namun, Reyhaan tidak ingin terlalu jauh ikut campur dalam urusan percintaan Jason dan Lily. Biarlah Lily tahu hal yang sebenarnya dengan sendirinya. Sejujurnya dia tidak tega melihat Lily begitu menderita karena Jason. Tapi dia tidak bisa melakukan hal apapun. Yang dia bisa lalukan menghibur hati Lily dan selalu ada untuk wanita itu.
Ketika melihat pertengkaran Jason dan Lily tadi pagi membuatnya marah dan begitu membenci Jason. Pria itu menjatuhkan harga diri Lily sebagai seorang wanita. Selama ini Lily tidak pernah memakai semua kemewahan yang diberikan Jason untuknya. Lily wanita mandiri dan tangguh, dia mempunyai pekerjaan yang layak yang bisa menghidupi dirinya. Seandainya saja Reyhaan tidak membutuhkan pekerjaannya saat ini dia sudah sangat lama keluar dari pekerjaan ini dan membawa Lily pergi untuk ikut bersamanya. Tetapi dia sangat membutuhkan pekerjaan ini, karena adiknya menderita penyakit yang sangat serius.
Napas Reyhaan berhembus kencang, sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan Jason. Meskipun Jason meminta bantuan kepada Reyhaan agar Lily baik kembali terhadapnya besok, tetapi sepertinya Lily sudah sangat kecewa dengan Jason.
Kemudian Reyhaan kembali mengendarai mobilnya. Lily hanya menatapnya Reyhaan sesaat dengan wajah sedikit kesal dan menatap pemandangan jalan di balik jendala mobil.
Kedua alis Lily saling bertautan ketika melihat tulisan Plang arah puncak. Reyhaan membelokan mobilnya kearah puncak. Kemudian Lily menatap Reyhaan tak percaya.
“Rey, kita mau kemana?” Tanya Lily dengan kedua bola mata melebar.
Reyhaan menatap Lily sesaat dengan senyuman, “Liburan…,” katanya membuat Lily terkejut.
Sedetik kemudian senyum Lily mengembang tipis, dia tidak mengalihkan pandangannya dari Reyhaan.
Reyhaan yang mengetahui akan hal itu, mengulurkan tangan kirinya dan menghusap rambut Lily penuh kasih sayang.
***