"Papa." Aku terjaga mendengar panggilan itu. "Eh, Boy. Kok, pindah ke sini?" Kuusap kepalanya yang dia letakkan di atas pahaku. Aku sendiri tertidur di atas sajadah dengan kepala di atas tepian kasur. Kulirik jam dinding di atas sana. Pukul satu malam lebih sepuluh menit. "Tuh, bobo." Boy menunjuk ke atas kepalaku, lebih tepatnya ke arah kasur. "Ya, udah. Pindah, yuk!" ajakku. Boy pun bangkit dan naik ke atas kasur. Sementara aku melepas peci terlebih dahulu dan menyimpannya di atas sajadah. Baru kemudian ikut berbaring di sampingnya. "Papa." Boy berbisik dengan suara seraknya. Lalu menggeser kepalanya. Tidur kembali di atas lenganku. "Bobo, masih malem." Kutepuk bagian bawah tubuhnya. Hingga akhirnya dia tertidur kembali. Sedangkan aku, malah menjadi sulit memejamkan mata lagi. Ak

