"Papa berangkat kerja, ya. Dadah." Kuusap puncak kepalanya yang sudah mulai ditumbuhi rambut. Memang agak lebat, tapi tetap saja warna rambutnya itu berwarna pirang agak kecoklatan. "Dadah, Papa." Boy melambaikan tangannya, masih tetap duduk di atas sepeda besi roda tiganya. "Dadah!" Kulambaikan tangan lagi. Aku pun melangkah menuju gang. Ketika akan memasuki jalanan, aku berputar kembali. Menatap Boy yang masih duduk sendiri. Sari sedang memasak, Teh Nurul pun sibuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Meski begitu ada beberapa anak sedang bermain di luar. Ada Mas Rendi juga yang sedang memanaskan mesin motornya. Entah kenapa, mendadak agak ragu untuk pergi bekerja. Ada rasa cemas dan was-was melihatnya masih duduk sendirian di atas sepeda. Hampir kaki ini melangkah lagi untuk kembali

