"Siang." Aku yang sedang membereskan kolong meja, bangkit seketika. "Siang juga. Aduh." "James, hati-hati," ujar Liana seraya ikut berjongkok di depanku. Aku meringis, mengusap puncak kepala yang terbentur meja. "Hehehe, saking semangatnya ini." Liana tersenyum. "Sendirian aja?" tanyanya kemudian sambil berdiri. "Faris lagi jaga toko orang tuanya dulu. Katanya sih, orang tuanya mau ke ondangan," jawabku. "Oh. Boy ... belum pulang?" tanyanya dengan raut wajah yang sepertinya kurang nyaman atas pertanyaannya sendiri. "Belum. Biasanya Senin pagi, sebelum berangkat ke sekolah dianterin ke rumah. Mau minum?" "Enggak usah. Barusan habis makan di rumah, masih kenyang," tolaknya seraya duduk. "Oh." Aku tersenyum tipis. Liana memalingkan wajah menyadari aku sedang menatapnya. "Kenapa?" A

