"Udah, lo balik aja sana. Entar si Yunita biar gue urus. Boy sama gue dulu aja," ucap Faris. Untuk beberapa saat, memang aku merasa ragu. Aku perhatikan raut wajah Faris yang tampak pucat, mungkin dia memang sedang mengkhawatirkanku. "Emang harus?" lirihku. "Lah, lo bilang sendiri si Yunita itu suka nyinyir sama elo," tukas Faris. Ya, selama ini cuma Faris yang menjadi tempat curahan hati. Tentang perasaan gue sama Maudy, keselnya gue sama Yunita, dan rasa suka gue sama Liana. Faris tahu semuanya. "Lo bisa habis di hadapan Liana, James," tutur Faris lagi meyakinkan. Aku mengembuskan napas. "Enggak, Ris. Gue enggak bakal lari. Biarin, Yunita mau ngomong apa juga. Gue enggak peduli. Justru, gue mau lihat gimana tanggapan Liana. Gue mau tau, gimana reaksi dia." "Lah, kok gitu. James. J

