Plak. "Aww!" Seketika aku membuka mata. Mengusap pipi yang terkena tepukan dahsyat dari tangan Boy. Padahal masih bocah, tapi itu pukulannya perih banget, dah!" "Papa, yaya." "Iya, bentaran. Gue bikinin lo s**u," ucapku dengan suara serak. "Ihihi." Dia tersenyum memperlihatkan giginya. Aku bangkit, berjalan menuju arah meja kompor. Berniat merebus sedikit air untuk menyeduh s**u. "Lah, kok enggak nyala, Boy." Aku berjongkok, menatap sumbu kompor. "Elah, gas-nya abis, Boy!" "Hik, hik, hik." Bayi itu kini merengek. "Iya, bentar. Kita minta air panas sama Teh Nurul." Segera aku meraih dot yang sudah kuisi dengan s**u bubuk, lalu keluar dari rumah. "Teh, udah bangun belum?" ucapku setelah mengetuk pintu rumahnya tiga kali. "Ada apa, James?" Teh Nurul membuka pintu dengan wajah yang ma

