"Bang." Aku tertegun. "Iya, Neng," sahutku seraya meliriknya. "Jadi gimana?" "Gimana apanya ya, Neng?" Aku meringis menggaruk tengkuk leher. "Ya, perasaan Sari ini. Apa ... Abang juga merasakan hal yang sama pada Sari?" Senyum malu-malu terukir di wajahnya. Waduh, gimana ini? Harus jawab apa aku? "Papa!" Aku menoleh. Boy melempar bolanya ternyata. "Tu ... tu ... tu ...." Kini anak itu menunjuk ke arah bolanya yang menggelinding semakin jauh. "Iya, Papa James ambilin," sahutku sengaja agak keras. "Abang ambil bola dulu, Neng," ucapku. Akhirnya aku berdiri, meninggalkannya yang masih setia duduk. Entah menungguku atau menunggu jawaban atas pertanyaannya itu. Aku berlari untuk mengambil bola yang terlempar cukup jauh dari tempat Boy berdiri. Ya, Salam. Ini anak kenapa bisa punya

