"Aaa!" Boy menjerit bahagia. Bahagia sekali. Meski dia ditutupi dengan kupluk dan jaket tebal juga sepatu berlapis kaos kaki, dan meski pun yang tampak hanyalah kepalanya saja. Jelas, karena aku menggendongnya di depan dadaku. Haduh! Parah ini. . "Lucu banget anaknya," ucap ibu paruh baya yang baru turun dari motor yang kukemudikan. "Ibunya ke mana?" sambungnya sambil memberikan selembar uang lima puluh ribu. Kuambil uang di tangannya. "Pergi, enggak tau ke mana, Bu," jawabku dengan jujur. Lah, memang aku enggak tahu 'kan, ke mana perginya ibu si Boy? Lalu aku memberikannya sejumlah uang kembalian pada ibu itu. "Enggak usah, buat jajan anaknya aja, Mas," tolaknya. "Yang ... benar, Bu?" tanyaku ragu. "Iya. Sebentar lagi gelap, hati-hati, ya." "Iya, Bu. Pasti." Kuanggukkan kepala se

