[Dua minggu kemudian] *** "Ya, terus, terus, Pak. Kanan dikit, kanan dikit. Ya, cukup. Stop!" Faris memberi instruksi pada sopir mobil box yang membawa baju pesanan kami. "Woy, James. Bantuin, dong! Diem aja!" teriaknya kemudian. Asem, lah. Tuh anak semenjak punya jabatan CEO jadi ngelunjak terus ama gue. Sialnya lagi gue kagak bisa bebas membantah. "Yo, bentaran," sahutku, lalu menjatuhkan sisa rokok di tangan yang tinggal seujung jari. Kuinjak segera bara api itu hingga padam, baru kemudian melangkah menghampiri Sang CEO itu. "Bantuin bawain, ngerokok terus," omelnya. "Ini juga dibantuin, Bawel. Tadi 'kan nanggung ngabisin dulu rokok," sahutku seraya mengambil setumpuk baju yang diikat oleh rapia. "Mulai sekarang lo harus gesit, Jem--" "Permisi, Mas. Ini tolong tanda terimanya di

