"Enak aja ngerampok? Lo lihat wajah gue baik-baik." Faris menunjuk hidungnya dengan jari telunjuk. "Apa wajah ini mengandung aura kriminal, hah? Apa wajah polos dan lugu ini pantas disebut perampok?" Aku melipat tangan di d**a, menatap baik-baik wajah itu. "Sebenarnya, meski kadar kegantengan lo di bawah level gue, lo tuh enggak pantes dan enggak cocok juga jadi perampok, sih," cetusku, sembari memegang dagu dengan jemari tangan kanan. "Lo mau kasih pendapat, apa merendahkan gue?" sindir Faris. "Dua-duanya, sih," sahutku tak acuh. Lalu aku mulai berpikir lagi. "Jangan-jangan, lo jual ginjal, Ris?" tukasku curiga. "Lo jual ginjal lo demi mendapatkan duit sebanyak ini? Wah, tega lo, Ris. Lo enggak pernah mikirin masa depan lo. Gimana kalo entar--" Bibirku terkatup. Faris menepukkan segepo

