[Satu bulan kemudian] *** "James!" "Faris!" "Boy!" "Om Ais!" Faris berlari ke arahku dan Boy. Aku pun bersiap menerima pelukannya. Kupejamkan mata karena merasa terharu atas sambutannya itu, juga terharu karena rindunya padaku. Terdengar suara tangisan. Kubuka mata segera. Lah, mana nih orang? Akhirnya aku menoleh ke samping. "Asem!" Kuberi dia satu sambutan di kepala belakang. "Lo kenapa, James? Baru datang udah main jitak aja," protes Faris. "Ya, elo. Gue udah nunggu pelukan lo, malah Boy yang lo gendong," omelku. "Ih, sorry deh, ya. Cukup sekali gue peluk lo. Udah cukup itu buat seumur hidup gue," ujarnya. "Belagu lo ya, sekarang." Aku hampir menjitaknya lagi, tapi sayang Faris menghindar dengan cara memutar tubuh Boy yang masih berada dalam gendongannya. Enggak mungkin 'kan

