"Let's go! Kita jalan-jalan, Boy!" seruku sebelum menarik tuas gas motor. "Ya! Papapa! Ya!" Boy bertepuk tangan disertai tawa bahagia. Iya, bahagia. Meski harus ditutupi kupluk, jaket, celana panjang dan sepatu berlapis kaos kaki. Udah, lah. Yang penting dia seneng, gue seneng, duit juga dapet. Simbiosis mutualisme. . "Wah, dedeknya ikut, ya?" tanya seoarang penumpang perempuan berpakain kantoran. "Iya, Mbak. Mau ikut Papa narik katanya," sahutku seraya memberikan helm padanya. "Anak baik," pujinya sebelum duduk di jok belakang. Tak berapa lama, aku mendapat orderan lagi. Kali ini bapak-bapak kisaran lima puluh tahun. Sepertinya berprofesi sebagai guru atau dosen. "Berapa usia kamu?" tanyanya sebelum dia memakai helm. "Dua puluh tahun, Pak," jawabku, "Nikah muda?" "Ya, anggap sa

