EMPAT PULUH LIMA HAPPY READING Pukul 9 malam lewat 30 menit, Kamal berdiri menjulang di depan gendung sekolah anaknya Kesha. Tubuhnya yang tinggi tegap, berdiri di keremangan malam yang hanya di terangi oleh lampu yang ada di depan kelas. Kamal berdiri tepat di depan kursi panjang besi yang Hanin duduki tadi pagi. Semilir angin malam yang bertiup lumayan kencang saat ini, menyapa telak tengkuk Kamal yang terbuka bahkan membuat kamal bergidik karenanya. Rasa dingin menjalar dari ujung kaki hungga ujung kepalanya. Ia juga berdiri tepat di bawah pohon besar yang rindang , membuat Kamal semakin merasa kedinginan berkali-kali lipat. Kedua bibirnya yang kering, terlihat menggigil kecil saat ini, dan Kamal tak peduli. Kamal tak peduli sedikitpun. Yang Kamal pedu

