Terungkap (Pov Yura )

1485 Kata
Setelah Mas Danu dan Ema pergi aku bergegas membereskan rumah. Hari ini aku akan membuat kue kesukaan Mas Danu. Dia sangat suka kue kering nastar. Aku biasa membuatnya di saat hari raya, tapi aku sedang ingin membahagiakannya sehingga akan kubuat kue itu hari ini juga. Semenjak ada Ema aku memang jarang bicara. Berbagai macam spekulasi dan ketakutan menerpa. Bagaimana jika Ema nanti menyukai Mas Danu atau sebaliknya? Aku berusaha menepis anggapan itu, bukankah husnuzon lebih baik dari pada suudzon? Dari pada berpikir macam-macam lebih baik aku mulai bergerak membuat kue keringnya. Kuambil tepung terigu berprotein rendah lalu kumasukkan dalam mangkuk berwarna putih. Kemudian mengambil sebungkus mentega dan mengocoknya menggunakan mikser bersama gula dan kuning telur. Setelah tercampur rata kumasukkan sedikit demi sedikit tepung terigu dan s**u bubuk full krim serta sejumput parutan keju. Adonan tercampur rata, aku membentuknya sesuai selera tidak lupa mengisinya dengan selai nanas. Selesai, waktunya memanggang. Aku yakin Mas Danu pasti akan sangat senang mengetahui aku membuatkan kue kesukaannya. Setelah semua selesai aku menyusunnya di toples dengan rapi. Segaris senyum menghias bibir, aku membawanya naik ke atas, lalu kuletakkan kue di atas meja kerja suamiku untuk menemaninya bekerja nanti malam. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, belum ada tanda-tanda kepulangan Mas Danu. Biasanya jam 4 sore dia pasti mengirim pesan dan memberitahu sebentar lagi akan pulang atau izin jika harus pulang malam. Aku terus memeriksa gawai di tangan berharap ada chat masuk darinya. Sayang hasilnya nihil, bahkan setelah aku shalat magrib Mas Danu belum juga pulang. Kemana Ema? Mengapa dia juga belum pulang? Wajarkah jika aku berpikiran yang macam-macam tentang mereka? Ah, aku berusaha tetap berpikir positif, tapi entah mengapa aku gelisah. Kuputuskan mengirim pesan. [Assalamu'alaikum, Mas. Kenapa belum pulang?] send. Kebetulan dia sedang aktif dan langsung membalas. [Waalaikumsalam, Sayang. Tadi udah mau pulang kebetulan bertemu Ema sehingga mengantar dia ke rumah sakit dulu untuk menjenguk adiknya. Sayang lagi apa? ] Susahnya memiliki pria yang berhati malaikat. Aku harus sabar, bukankah Ema memang sedang menjenguk adiknya yang sedang sakit. Aku berusaha mengendalikan perasaan. Karena seharusnya sekarang Mas Danu sudah bersamaku. Bukan di luar sana bersama perempuan lain. Detik, menit, berlalu. Mas Danu tak kunjung datang. Gontai kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Untuk kesekian kalinya aku mandi, menyiram tubuh dengan air hangat dan menumpahkan air mata. Ya, aku memang tidak lagi tersiksa dengan kata-kata pedas Papa, tapi kini aku tersiksa dengan sesuatu yang lebih menghujam. Sakit yang tidak berdarah. Suara Deru mobil Mas Danu terdengar berhenti di garasi. Setelah beberapa menit terdengar dia membuka pintu kamar. Aku menghentikan kegiatanku membersihkan diri. Masih menggunakan handuk yang terlilit aku melangkah keluar kamar. Mas Danu sedang duduk di sisi ranjang, melepas dasi dan kancing baju bagian lehernya. "Sayang," panggilnya lembut dengan senyum hangat seperti biasa. Aku diam saja, melangkah mendekat dan melepas handuk tepat di hadapannya. Tanpa pikir panjang aku langsung menghambur memeluk dan menciumnya. Mas Danu tampak sedikit kaget, ini tidak seperti biasanya. Aku termasuk slow soal urusan ranjang. Tidak banyak menuntut dan tetap anteng kalaupun Mas Danu tak meminta. Entah mengapa aku merasa kini harus lebih agresif untuk menjaga Mas Danu tetap mencintaiku. Terjadilah malam yang panjang. Dimana dua insan yang seolah lama tak memadu kasih di pertemukan. "Kamu kenapa?" tanya Mas Danu memeluk tubuhku dan membelai rambut dengan lembut setelah kegiatan kami selesai. "Lagi kangen sama, Mas." Aku tersenyum. Mas Danu memandang tak mengerti. Kemudian menunjukkan segaris senyum di bibir. Ku sandarkan kepala di dadanya yang bidang lalu bercerita keseharianku di rumah. Dia mendengarkan dengan atusias. "Jadi kamu buatin Mas kue nastar?" "Hu-um," jawabku singkat sambil menunduk beberapa kali. Sengaja kutunjukkan sikap manjaku yang telah lama sirna. Aku hanya ingin Mas Danu tahu kalau dia satu-satunya tempat kubercerita, bermanja dan berbagi rasa. Kemudian Mas Danu menceritakan keadaan adik Ema yang tidak ada perubahan sampai sekarang. Aku mencoba mendengarkan ceritanya. Walau sejujurnya aku sedang tidak ingin mendengarnya. Selesai bercerita Mas Danu langsung membersihkan diri. Kemudian shalat Isya dan kembali sibuk di meja kerja. Aku yang sejak tadi sudah menyiapkan segelas air putih dan kue nastar duduk di hadapannya. Mencoba bertanya kalau saja dia membutuhkan bantuan. Karena tidak jarang biasanya Mas Danu akan meminta tolong mengecek suatu berkas jika pekerjaannya sudah terlalu banyak. Aku kembali menjadi diriku yang dulu, ceria dan banyak bicara. Kulihat binar di wajah Mas Danu. Dia tampak bahagia. *** Aku bangun lebih pagi dari Ema. Menyiapkan sarapan untuk mereka. "Pagi Mba," sapa Ema dengan jilbabnya berwarna jingga. "Pagi, Dek," jawabku tersenyum simpul. Dahi Ema berkerut melihat sikapku.heran. "Kenapa, Dek? Yuk di makan sarapannya," ajakku yang membuatnya tak kalah terkejut. "Oh iya, Mbak," sahutnya singkat duduk di kursi meja makan. 10 menit kemudian Mas Danu datang, seperti biasa dia baru pulang dari Mushola. "Sarapan apa nih?" tanyanya antusias sambil berjalan menuju ke arahku. Kucium punggung tangannya dan mempersilakan dia duduk. Kuoles roti tawar dengan selai stowberry kemudian mendekatkan secangkir kopi s**u. "Kopi s**u, Sayang?" tanyanya. Aku tersenyum mengangguk cepat. Karena biasanya aku hanya membuat teh untuk sarapan. "Ada apa nih, Mas dibuatin kopi s**u? Ada yang ulang tahun kah?" "Bulan depan, Mas. Ulang tahun pernikahan kita," ucapku mengingatkan sambil pura-pura ngambek karena takut kalau dia lupa. "Mas inget Sayang," katanya mengecup puncak kepala. Kulirik Ema beberapa kali. Dia asik makan tanpa memperhatikan kami. 'Semoga dia benar-benar tidak memiliki rasa terhadap Mas Danu' Doaku dalam hati. *** Mas Danu dan Ema sudah pergi bekerja. Aku sedang beres-beres rumah. Ketika menyapu tanpa sengaja melihat kamar Ema terbuka. Aku melongok ke dalam memperhatikan. Sepertinya dia buru-buru sampai lupa membereskan kamar dan mengunci pintu. Iseng aku masuk ke dalam. Melihat-lihat foto yang terpajang di meja kerjanya. Aku duduk di sisi ranjang kemudian sedikit membereskan bantal dan guling yang terlihat sedikit berantakan. Ketika sedang merapikan bantal tanpa sengaja aku menemukan foto berukuran 5R. Kuambil foto itu kemudian memperhatikan wajah mereka satu-persatu. Aku mengenali mereka karena pernah mengantar bekal Mas Danu ke kantor dan bertemu mereka beberapa kali. Kemudian kulihat seorang pria berkemeja hitam. Dia pria yang sangat aku cintai. Ya, Mas Danu. Kenapa Ema meletakkan foto ini di bawah bantal? Apa dia memandang foto ini dulu sebelum mata terpejam? Apakah ... Ema menyukai Mas Danu? *** Setelah menemukan foto itu, aku semakin manis bersikap dan bertingkah laku pada suamiku. Sengaja mengumpulkan banyak lingerie untuk menyenangkannya. Memasak enak kesukaannya. Bahkan aku selalu membuat kue nastar untuk menemani malamnya bekerja. Sejauh ini sikap Ema masih wajar terhadap Mas Danu. Begitu pula sebaliknya, mereka pergi bekerja selalu terpisah pulang kerja pun tidak bersama kecuali ketika Ema mengunjungi adiknya di rumah sakit. Dan menurutku itu wajar. Besok adalah hari minggu, Mas Danu mengajak menjenguk Papa mertua. Sebenarnya aku sangat ingin melihatnya, tapi sikap kata-katanya selalu membuat hati terluka. Aku dilema, jika aku tinggal di rumah makan aku memberi kesempatan mereka berdua jalan bersama. Namun, jika aku ikut harus siap-siap terluka. Akhirnya dengan keberanian yang terkumpul kuputuskan ikut mereka. Mobil berjalan dengan santai, aku duduk di depan bersama Mas Danu seperti biasa sedangkan Ema duduk di belakang. Dari sini semakin terlihat kalau Ema benar-benar menyukai suamiku karena dia sering mencuri pandang dari kaca spion di atas dashboard mobil ini. Mobil berhenti di halaman. Kami turun beriringan. Mas Danu dan Ema berdiskusi lebih dulu, pura-pura terlihat dekat. "Mbak, aku ijin dulu ya sama Mbak mau pura-pura dekat sama Danu," ijinnya padaku. "Santai aja," Jawabku singkat. Papa menyambut mereka dengan sangat hangat, tapi seperti biasa melihatku seperti melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Dia bahkan tidak menerima uluran tanganku seperti biasa. "Ema, kalian sudah satu bulan menikah. Bagaimana apakah sudah ada tanda-tanda?" tanya Papa yang membuatku mengalihkan pandangan. "Pa, kami tidak ingin terburu-buru," jawab Mas Danu. "Kenapa? Jadi kapan kalian bisa punya anak jika di tunda-tunda? Ayo ah di segerakan... " pinta Papa. "Pa, sabar dong, " ucap Mas Danu. "Papa sudah terlalu bersabar, Danu. Kau selalu memberikan hasil tes palsu kalau istri pertamamu itu normal Papa maafkan. Bertahun-tahun Papa pendam rasa ini. Dan sekarang? Papa harus tetap bersabar? Umur Papa mungkin tidak lama lagi. Kamu nggak kasian lihat Papa meninggal tanpa melihat cucu Papa terlebih dahulu?" Bagai di sambar petir di siang hari. Tubuhku gemetar mendengar kalimat Papa. Mas Danu menatapku lekat, perlahan dia mendekat kemudian memeluk sangat erat. Kedua mata mulai panas, bahkan tenggorokanku tercekat. Aku tak bisa berkata-kata. Ema ikut mendekat menggenggam jemariku erat. Titik-titik air mata mulai jatuh berebut di ujung mata. Napasku sampai tersenggal. Papa yang menyadari kesalahannya. Langsung berdiri dan menjauh. "Hah! Drama lagi!" teriaknya melangkah pergi. "Sayang, Mas bisa jelasin," ucap Mas Danu semakin mempererat pelukan. Ema mengerti, dia langsung berlalu pergi meninggalkan kami berdua. Ingin sekali aku bicara tapi entah mengapa sangat sulit rasanya. Sesak d**a ini memenuhi hati. Baru saja aku move on dari keadaan dan ingin membuat Mas Danu lebih bahagia tapi kenyataan ini seolah membuatku jatuh ke jurang yang sangat curam. Aku memejamkan mata dengan air mata yang semakin mengalir deras. Tangisku pecah, jiwaku melayang, dan aku sangat merasa tidak berharga sebagai seorang perempuan. Aku tak sempurna. Rasanya aku ingin mati saja ya, Allah!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN