Sore menjelang, Adnan masih asik menikmati kegiatannya berenang ke sana kemari, sedangkan Aileena masih sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya di gazebo. Sedari tadi Aileena masih misuh-misuh karena tidak menemukan ide yang pas untuk memulai novelnya. Adnan sedikit heran, kenapa Aileena sudah menandatangi kontrak dengan penerbit sedangkan wanita itu sama sekali belum memiliki naskah. Mungkin efek famous yang sudah mendarah daging dengan Aileena membuat penerbit berburu meminang naskah Aileena Razeta Abdilah. Adnan berenang ke pinggir kolom, dia mengamati perubahan ekspresi Aileena dalam diam, laptop dengan harga selangit itu masih menjadi pusat perhatian Aileena membuat jiwa alay binti lebay Adnan mulai bermunculan. Adnan merasa iri pada benda mati itu. “Beb, katany

