Hari kedua di Bali masih mereka habiskan di vila, quality time yang sebenarnya versi mereka adalah seperti ini. Aileena masih mengaku harus menulis novelnya, dia harus menyetor satu bab setiap hari pada editornya, setelah di konfirmasi atau di revisi kembali barulah Aileena bisa melanjutkan ke bab berikutnya. Sekarang Adnan sudah duduk siap di meja makan, persis seperti anak TK yang ketakuakan di marahi oleh gurunya. Mereka baru saja menyelesaikan ritual sarapan pagi. Aileena menatap tajam pada Adnan sambil memainkan pisau buah membuat bulu kuduk Adnan meremang. Aileena sudah terlihat seperti malaikat pencabut nyawa. Jantung Adnan semakin berdebar ketika Aileena menunjuknya dengan pisau buah itu dengan wajah yang terlihat semakin galak. “Kamu udah bisa cerita,” ucap Aileen

