Kamu disana, memadu tawamu dengan tawanya. Saya di sini, berusaha sekuat mungkin menyembunyikan air mata. —Tertanda, perempuan rapuh dengan senyum tipis andalannya. NADINE'S POV Hari-hari selanjutnya, aku selalu dijemput oleh Razza. Hubunganku dan Aldric tetap saja terasa aneh. Dia terlalu sibuk menghabiskan waktu bersama Aqila, dan lupa denganku. Menyebalkan memang, melihatnya berjalan seirama dengan Aqila. Sedangkan aku hanya dapat menatapnya dari jauh. "Lama ya?" Aku menggeleng perlahan menjawab pertanyaan Razza yang baru saja tiba. "Duduk bentar dulu ya, Nad." Aku mengangguk sambil tersenyum, lalu menyodorkan air mineral padanya. Razza baru saja selesai latihan basket, begitupun Aldric. Aku sengaja menunggunya karena sedang malas untuk pulang. Perlahan, kulihat Aldric dan beberapa

