Di bawah terangnya lampu rumah sakit yang hening, Lopita merasakan sentuhan lembut di tangannya. Sebuah kehangatan familiar yang memancar dari jemari Leon, yang kini menggenggam tangannya erat. Kehadirannya di samping ranjang, setelah berminggu-minggu dalam kegelapan koma, terasa seperti oase di tengah gurun. Wajah Leon terlihat lelah, matanya sembap, dan ada kerut khawatir yang tak bisa disembunyikan di dahinya. Namun, tatapannya begitu intens, penuh kepedulian yang tulus, jauh dari formalitas yang selama ini ia kira. "Lopita ... syukurlah kamu sadar," bisik Leon, suaranya parau, seolah setiap kata adalah perjuangan. Genggaman tangannya menguat, seakan takut jika Lopita akan menghilang lagi. "Aku di sini. Aku akan selalu di sini." Bukan hanya kata-kata itu, tapi cara Leon mengatakanny

