HARGA SEBUAH NYAWA

1293 Kata
Hidup Lopita adalah labirin kepedihan tanpa ujung, sebuah mimpi buruk yang berulang di setiap helaan napas. Ia merindukan kegelapan abadi, sebuah tidur tanpa mimpi di mana cengkeraman kenyataan tak lagi mampu menjangkau jiwanya yang terluka. Setiap kali kelopak matanya terbuka, alih-alih fajar yang membawa harapan, ia justru disambut oleh bayangan kesakitan yang menari-nari di dinding hatinya. Di tengah kesadaran yang merayap kembali bagai siput terluka, ingatannya bagai kepingan puzzle yang hilang, tak mampu menyusun kembali kejadian terakhir yang menghancurkannya. Namun, indranya menangkap realitas yang mengerikan: suara napas tersengal-sengal yang asing, irama kasar yang mengguncang tubuhnya dengan paksa, dan rasa sakit yang menusuk, invasi yang merobek kehormatannya sekali lagi. Tangannya meronta dalam kegelapan, mencari kebebasan yang telah lama dirampas, namun terhalang oleh ikatan yang dingin dan keras, belenggu nyata yang mencerminkan rantai tak kasat mata yang mengikat jiwanya pada kehancuran. Perlahan, kabut yang menyelimuti pandangannya mulai menipis, dan kesadaran yang tadinya terpecah belah kembali utuh, menghantamnya dengan kekuatan palu godam. Seketika, lolongan kesedihan yang tertahan pecah dari bibirnya yang kering, sebuah ratapan yang lahir dari jurang kengerian yang tak berdasar, menyadari bahwa ia kembali menjadi korban, diperkosa oleh pria asing di ranjang yang tak dikenalnya, terikat tak berdaya bagai hewan buruan. Entah sudah berapa banyak wajah asing yang menodai tubuhnya, ingatannya telah kehilangan jejak, setiap sentuhan membaur menjadi mimpi buruk yang tak berujung, sebuah siklus kekerasan yang tak terhindarkan. Pria asing itu, alih-alih menunjukkan belas kasihan atas tangisan pilu Lopita, justru semakin brutal dalam gerakannya, mengejar puncak nafsunya dengan keegoisan yang mengerikan, tanpa sedikit pun memedulikan kehancuran yang ia torehkan pada jiwa wanita yang terbaring di bawahnya. Sementara itu, Lopita hanya bisa meratapi nasibnya yang malang, terperangkap dalam kehinaan yang tak tertahankan, kedua tangan dan kakinya terikat kuat di masing-masing sudut tempat tidur, simbol ketidakberdayaannya yang mutlak, sebuah penyerahan paksa pada kebiadaban yang merobek-robek harga dirinya. Setelah "tugas" yang memuakkan itu selesai, sebuah istilah dingin untuk perbuatan yang merendahkannya hingga ke inti jiwanya, Lopita kembali terlempar ke kursi penumpang di samping Elson. Ke mana lagi monster bertopeng manusia ini akan membawanya, Lopita sudah tak peduli. Dunianya telah hancur berkeping-keping, setiap harapan untuk kembali ke kehidupan yang dulu ia kenal telah pupus, meninggalkan kehampaan yang menganga di tempat yang dulunya adalah hatinya. Mobil hitam itu meluncur membelah jalanan kota yang gemerlap namun terasa dingin dan mengasingkan, lalu tiba-tiba berhenti di depan sebuah restoran yang ramai dengan cahaya kekuningan dan suara tawa yang riang. Lopita sama sekali tak memperhatikannya. Wajahnya pucat pasi bagai topeng kematian, sekujur tubuhnya terasa remuk redam, setiap sendi dan ototnya berdenyut nyeri, namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan luka menganga di jiwanya. Ia hanya mampu menunduk dengan tatapan kosong, sebuah tatapan yang mencerminkan kehancuran di dalam hatinya yang telah lama mati. "Senyum mereka bisa saja berubah dalam sekejab," ujar Elson tiba-tiba, suaranya dingin dan menusuk bagai belati es, berusaha membangkitkan reaksi dari Lopita yang tampak mati rasa, terperangkap dalam dunianya sendiri yang kelam. "Bagaimana jika kita mencobanya?" Asisten Elson yang duduk di samping kemudi dengan gerakan dingin dan tanpa emosi menurunkan sedikit kaca jendela mobil dan mengeluarkan sebuah senapan dengan peredam suara, mengarahkannya dengan tenang ke arah sebuah keluarga kecil yang sedang menikmati makan malam di sana, di bawah cahaya lampu temaram restoran, sebuah pemandangan kebahagiaan yang kontras dengan kegelapan dan kekejian yang bersemayam di dalam mobil. Dengan tatapan kosong yang sama, Lopita memperhatikan pergerakan pria di depannya, lalu tanpa sengaja matanya tertuju pada keluarga yang sedang makan dengan tenang di salah satu meja restoran itu. Seketika, sebuah kejutan yang pahit menyentaknya dari apatinya. Ia mengenali mereka – kakaknya, Johnson, dan suaminya, berbagi tawa dan kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya, sebuah kenangan yang kini terasa bagai duri yang menusuk hatinya. Reaksi Lopita bagai ledakan emosi yang tak terkendali, tubuhnya tersentak, ia berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari mobil dengan perasaan kalut dan ketakutan yang mencengkeram, takut jika Elson benar-benar akan melakukan kejahatan keji kepada mereka, satu-satunya keluarga yang tersisa dalam hidupnya yang hancur. "Kakak?!" serunya lirih, suaranya tercekat oleh air mata yang menggenang di pelupuk matanya, melihat kakaknya makan dengan tenang bersama orang-orang yang dicintainya, sebuah pemandangan yang seharusnya membahagiakan namun kini terasa bagai pisau yang menusuk jantungnya, mengingatkannya akan kehangatan dan keamanan yang telah lama hilang. Dengan senyum jahat yang dingin, Elson dengan mudah menahan tubuh Lopita yang tiba-tiba bergerak aktif tanpa merasa terbebani sedikit pun. Dengan gerakan posesif, ia menarik Lopita ke atas pangkuannya, menjeratnya dalam cengkeraman yang mengancam, membuatnya tak berdaya bagai burung dalam sangkar emas yang mematikan. "Tenanglah," bisiknya lembut namun sarat akan ancaman yang mematikan, "jika tidak, peluru itu akan menembus salah satu kepala mereka." Kata-kata itu bagai racun yang merusak jiwa Lopita, membuatnya membeku dalam ketakutan yang melumpuhkan, menyadari betapa mengerikannya kekuasaan yang dimiliki Elson. Seketika, Lopita patuh, menyadari betapa dekatnya ia dengan monster yang mengendalikan hidup dan mati orang-orang yang dicintainya. Pria itu tersenyum puas, sebuah seringai kemenangan yang dingin dan mengancam, sambil menyilakan rambut berantakan Lopita dengan gerakan posesif. "Dengar," ucapnya memperjelas ancamannya dengan nada dingin dan menusuk, "ini adalah peringatan terakhir. Sekali saja kamu mengabaikan perintahku, jangan salahkan aku jika mayat mereka aku seret di hadapanmu." Mata basah Lopita tak mampu lagi berkutik, kata-kata itu terlalu kejam untuk didengar namun ia tak memiliki kekuatan untuk melawan. Ia hanya bisa mengangguk-angguk kecil seperti anak kecil yang ketakutan, menyerah pada teror yang menguasainya, merelakan kehendaknya di bawah tirani Elson. "Bagus," Elson tersenyum puas, sebuah seringai kemenangan yang dingin dan mengancam. "Sekarang, buat aku senang," imbuhnya dengan nada memerintah, menuntut kepuasan sebagai imbalan atas keselamatan keluarganya. Sopir dan asisten itu segera keluar dari mobil, meninggalkan Lopita sendirian bersama Elson di dalam ruang tertutup yang terasa bagai neraka pribadi. Dengan tangan gemetaran, jiwa yang memberontak namun raga yang tak berdaya, Lopita kembali menjalani siksaan yang tak berujung, sebuah pengulangan kehancuran yang membuatnya merindukan akhir dari segalanya. Namun, di restoran di depan sana ada kakaknya dan keluarganya, sebuah alasan mengerikan untuk tetap bertahan, sebuah rantai tak kasat mata yang mengikatnya pada kehidupan yang penuh penderitaan. Jika ia membuat Elson tidak senang, malam ini bisa menjadi mimpi buruk yang jauh lebih mengerikan, sebuah tragedi yang akan merenggut nyawa orang-orang yang ia cintai. Kini, Lopita harus benar-benar melayani nafsu b***t Elson di dalam mobil, sebuah penjara bergerak yang untungnya memiliki kaca gelap yang menyembunyikan kehinaannya dari dunia luar, namun tak mampu menyembunyikan luka di jiwanya. "Good girl ...," desis Elson penuh kemenangan, akhirnya mendapatkan "pelayanan" pertama dari wanita yang ia beli. Lopita benar-benar menyerah, menyatukan jiwa dan raganya dalam kuasa Elson yang keji, mengorbankan dirinya demi keselamatan keluarganya. Erangan nikmat Elson terdengar jelas, tercetak di wajahnya yang penuh nafsu dan kekuasaan. "Gerakkan tubuhmu sebaik mungkin, b***h," matanya terpejam menikmati gerakan yang diberikan Lopita di bawah bayang-bayang ancaman yang mengerikan, sebuah tarian keputusasaan di atas penderitaan. Lalu mata Elson terbuka, menatap wajah kosong Lopita yang tanpa ekspresi, sebuah topeng keputusasaan yang menyakitkan, sebuah cerminan kehancuran di dalam jiwanya. Ia menarik lengkuk leher belakang Lopita dengan kasar. "Mana suaramu? Mendesahlah sekeras mungkin," titahnya penuh ancaman, merampas bahkan suara rintihnya, memaksanya untuk berpura-pura menikmati kehinaan ini. Mau tidak mau, Lopita mulai mengeluarkan suara desahan palsu, sebuah kepura-puraan yang menyayat hati, hanya demi menuruti keinginan Elson, demi melindungi keluarganya dari amarah pria itu. Setiap kata yang keluar dari bibir pria itu adalah titah yang tak bisa ia tolak, sebuah rantai tak kasat mata yang mengikatnya erat pada kehancuran. "Lebih cepat lagi, lebih cepat lagi, b***h!" erang Elson di puncak klimaksnya yang egois, sebuah luapan nafsu yang menjijikkan. Dan sebelum cairan putih itu keluar, sebuah tindakan yang merendahkan hingga ke inti jiwa Lopita. Dengan kasar Elson mengarahkan kepala Lopita ke arah inti tubuhnya, membuatnya terbatuk-batuk karena jijik dan penolakan yang tak terucapkan, namun ia tak berani mengabaikan perintah itu, terperangkap dalam neraka tanpa akhir, di mana harga dirinya telah lama hancur berkeping-keping.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN