Minggu-minggu berlalu, dan Lopita kian pulih. Luka fisik pasca-melahirkan berangsur membaik, namun luka di hatinya masih membekas, bahkan mungkin bertambah. Ia masih di rumah sakit, ditemani Leon yang tak pernah absen menjaga. Perhatian Leon kian kentara. Ia memastikan Lopita makan teratur, membantunya bergerak perlahan, bahkan sesekali menggantikan perawat menggendong dan menidurkan si kembar ketika Lopita terlalu lelah. Tatapan Leon yang semula dingin kini seringkali melembut saat menatap Lopita atau bayi-bayinya. Setiap sentuhan tangannya yang kaku, setiap suapan makanan yang diberikan, seolah menyisipkan kehangatan yang perlahan mencairkan dinding di hati Lopita. Lopita tahu betul apa arti semua perhatian ini. Ada rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya bersama Leon. Hatinya

