Di tengah sterilitas ruang pemeriksaan yang memancarkan aura modernitas dari jajaran peralatan medis yang lengkap, Leon duduk membeku di kursi pasien. Sorot matanya terpaku pada sosok pria paruh baya berbalut jas putih, sang dokter yang tengah menelaah lembaran-lembaran hasil laboratoriumnya dengan dahi berkerut. Hening sesaat sebelum sang dokter mendongak, tatapannya tenang namun menyimpan kedalaman misterius saat beradu pandang dengan Leon. “Hasilnya tetap konklusif, Tuan Leon,” ucapnya dengan nada datar namun tak terbantahkan. Sebuah vonis yang kembali menggarisbawahi kenyataan pahit yang selama ini menjadi momok dalam kesempurnaan hidup Leon: ia tetaplah seorang pria yang terampas kemampuan untuk meneruskan garis keturunannya. Sebuah helaan napas nyaris tak kasatmata lolos dari bib

