Sagara menatap langit-langit. Jari jemarinya bergerak-gerak. Berulang kali dia ingin berbicara, tapi urung. Dahinya pun berkerut. Dia kesusahan untuk memulai percakapan. Berdua dengan gadis yang mirip sekali dengan Balqis, membuat Sagara grogi setengah mati. Lelaki itu pun menutup matanya sejenak. Jempolnya menyentuh cincin pernikahan yang melingkari jari manisnya. “Jadi … kamu sudah menikah?” tanya Naia. Sagara pun membuka matanya. Dia melihat ke arah Naia. Sejenak dia menghirup napas sebelum akhirnya membuka mulut. “Iya.” “Kenapa istrinya ndak diajak ke sini?” “Dia … ada urusan di Singapura.” “Ouh gitu ….” Naia mengangguk-ngangguk. Jari-jemarinya mengetuk-ngetuk notebook yang dia bawa. Sagara mengembuskan napas. Perjalanan lift sebenarnya sebentar, tapi entah mengapa ketika dia be

