Sementara itu, di sebuah ruangan, Fritz tengah mengintrogasi seseorang. Dia duduk dengan menyandarkan satu kakinya di atas kaki lainnya. Kedua tangan lelaki itu dilipat. Matanya sedingin beruang kutub yang tengah mengintai mangsanya. “Masih tak mau bicara?” tanya Fritz. Orang yang ditanya masih diam. Wajahnya sudah berlumuran darah. Namun dia tetap diam tak bersuara. Napas dua orang di sampingnya sudah putus-putus. Mereka terlalu lelah melaksanakan perintah dari Fritz. Bahkan tangan mereka juga sudah muak dengan darah dari orang yang mereka pukul. Fritz bangun dari singgasananya lantas mendekati orang yang tengah ia sekap. Orang itu pun menatap Fritz dengan tatapan sinis. Dia lantas membuang muka. “Persetan dengan kalian semua!” lantangnya. Fritz tanpa ampun langsung menendang orang i

