“Buruan minta maaf!” Jordan menggeretak dengan gemas. Tiga orang di hadapannya menghela napas berat. Ruangan seluas lapangan futsal itu lengang. Orang-orang yang ada di sana seolah menjadi patung. Jordan menatap Gilang, Sindi dan Clara sinis. Mulai jengah dengan keadaan. “Minta maaf atau kalian gue jeblosin ke penjara!” ancam Jordan. Qiana mencubit tangan Jordan pelan agar cowok itu lebih tenang. Gilang yang menduduki sofa di ruang tamu Jordan ini menegakkan badannya. Dia menatap Qiana penuh penyesalan. “Qi ... gue minta maaf karena pernah mau bunuh lo,” ujar Gilang, “saat itu gue gak tahu apa yang ada di pikiran gue sampai nekat begitu.” Qiana melirik Jordan. Rahang cowok itu mengeras dan tangannya sudah terkepal kuat. Qiana menghela napas. “Oke, gue....” “Sebentar,” sela Jordan.

