Tidak dapat dipungkiri, rasa resah dan gelisah selalu saja membayangi Qirani. Apalagi semenjak ia memeriksakan diri pada dokter kandungan guna memastikan apakah benar dirinya hamil atau justru hanya telat haid biasa. Mengingat ia hanya baru saja mendapat dugaan tanpa bukti nyata di kala ia menerima sedikit analisis dari dokter umum yang sempat memeriksanya ketika Qirani jatuh pingsan tanpa sebab. Namun, ternyata dokter kandungan pun menuturkan kebenaran serupa bahwasanya ia memang sedang mengandung.
"Apakah bisa diaborsi saja, Dok?" Tanpa berpikir panjang, Qirani sontak saja bertanya begitu.
Tentu, hal tersebut pun membuat sang dokter tertegun kaget dan memandang pasiennya lamat-lamat. "Kok, aborsi? Apa jangan-jangan Anda...." Dokter bahkan tak berani melanjutkan ucapannya yang hendak mengambil kesimpulan seusai mendengar perkataan pasiennya barusan.
Tentu saja dokter memiliki pemikiran ke arah negatif. Sebab, jika belum apa-apa pasien sudah berniat untuk aborsi, maka bukankah hal tersebut dikarenakan kandungannya belum terkategori ke dalam kehamilan yang sah dalam sebuah pernikahan. Maka dari itu, dokter pun hanya bisa mengembuskan napasnya berat di sela kepalanya yang sejenak bergeleng sembari menuliskan sebuah resep di atas kertas khusus untuk menebusnya nanti di apotek.
"Terlepas dari apa pun yang sudah terjadi, tapi di negara kita aborsi itu tidak dianjurkan. Kecuali, jika memang ada masalah dengan rahimmu dan sudah telanjur terisi benih yang akan tumbuh menjadi bayi. Maka, bisa saja tindakan aborsi dilakukan. Tapi untuk permasalahan ini, lebih baik jangan coba-coba! Ada bagusnya, Anda minta pertanggungjawaban saja pada yang sudah menanam benih di rahimmu. Saya rasa, itu jauh lebih bermoral daripada Anda harus mengaborsi benih bayi yang sesungguhnya tak berdosa itu," ungkap dokter bijak.
Dewasa ini, kehamilan di luar nikah memang sudah seperti semacam hobi yang dianggap lumrah. Banyak sekalian kejadian yang sudah dokter temukan di kalangan remaja maupun yang sudah dewasa. Entah kenapa, tetapi hal tersebut seakan sudah sangat marak dalam ranah anak muda zaman sekarang. Membuat angka kehamilan sebelum adanya pernikahan kian bertambah pesat sekaligus menambah jumlah kelahiran baru mencapai pada angka yang tinggi juga.
"Ini resep penguat kandunganmu. Saya harap Anda gak bertindak macam-macam atau nyawamu akan terancam juga apabila nekat melakukan aborsi tanpa persetujuan medis apalagi keluarga. Saya mengerti perasaanmu, tapi saran saya, Anda hanya perlu meminta pria yang sudah menghamilimu untuk segera menikahimu saja. Atau, jika memang jalan tersebut tidak bisa Anda dapatkan, maka satu-satunya solusi agar Anda bisa tetap merawat kandungan hingga waktunya melahirkan tiba nanti adalah, dengan cara Anda memberi tahu keluarga Anda mengenai ini. Jangan takut kena hujat! Justru, Anda harusnya takut pada dosa yang akan Anda terima jika berani menggugurkan benih yang tak berdosa itu," tutur dokter panjang lebar.
Seperti seorang penceramah, ia pun memberi sedikit wejangan kepada Qirani yang dirasa sedang dilanda kalut gara-gara kehamilan yang dialaminya. Namun, apa boleh buat? Saat ia sudah tahu resiko yang akan diterimanya seperti apa, maka seharusnya ia tidak gegabah dalam berbuat.
"Ya sudah, Dok. Saya undur diri kalau begitu," gumam Qirani sigap bangkit dari duduknya. Kemudian, ia pun melengos pergi tanpa berminat menatap kembali sang dokter yang justru sedang menatapnya iba dan tak bisa berbuat banyak.
Melangkah gontai, Qirani pun menelusuri trotoar dengan raut wajah yang tak terbaca. Dadanya bergemuruh dan benaknya sangat dipenuhi oleh penyesalan demi penyesalan yang mulai dirasakannya kini. Andai saja malam itu dia tidak nekat mabuk-mabukan, maka, mungkin ia tidak perlu mengalami kejadian yang tak diharapkan seperti sekarang.
Sungguh, Qirani sangat menyesal sekarang. Jika saja ada semacam alat untuk memutar waktu, tentu Qirani akan menggunakannya supaya ia bisa kembali ke masa di mana ia seharusnya tak pergi ke club' malam bersama Gea teman karibnya.
Mengingat nama Gea yang justru malam itu menemaninya, dalam sekejap Qirani pun menghentikan ayunan langkahnya dan bertanya pada dirinya sendiri, "Oh iya ya. Padahal, harusnya, kan, aku lagi sama Gea waktu itu. Tapi, kok, malah tiba-tiba ada Mas Haris."
Saking kalutnya Qirani setelah kejadian yang tak terduga pagi itu, ia bahkan sampai lupa pada sosok Gea yang entah ada di mana saat Qirani dibawa oleh Haris. Bukankah seharusnya Gea bertanggungjawab atas Qirani yang sejak masuk ke dalam club' pun bersamanya? Lantas, ke mana perginya Gea pada malam itu?
Secepat kilat, Qirani pun merogoh ponselnya yang bersemayam di dalam tas. Mencari nama kontak sang teman, lalu ia dial untuk ia tanyai kronologi semacam apa sampai dirinya diajak Haris pergi bahkan harus terdampar di ranjang hotel. Namun, sayangnya ponsel Gea tidak aktif. Membuat Qirani mendesah gusar karena sepertinya Gea sedang ditugaskan ke tempat yang jaringannya sulit tertangkap hingga membuatnya tak bisa mengadakan komunikasi jarak jauh melalui perantara apa pun.
"Nanti sajalah aku coba hubungin kembali. Siapa tau besok lusa Gea udah bisa kutelpon," gumamnya dengan bahu merosot lunglai. Sesudahnya, ia pun membuang napasnya kasar seraya lanjut berjalan menelusuri kembali trotoar yang dipijaknya.
***
Tiga hari sudah Danisa menjalani rawat inap pasca tersadar dari koma yang dialaminya. Dokter bilang, kondisi Danisa sudah mulai stabil hingga ia mendapat izin pulang di hari esok. Mendengar itu, baik Danisa maupun kedua orangtuanya merasa senang karena setelah sekian lama menghuni rumah sakit, akhirnya Danisa pun bisa menghirup udara segar seperti sedia kala.
"Akhirnya aku bisa keluar juga dari tempat beraroma obat-obatan ini. Ma, Pa ... Tolong kabarin Mas Haris, ya! Suruh dia buat benahin kamar kami supaya besok aku--"
"Siapa bilang kamu bakal pulang langsung ke rumahmu dan Haris?" Tiba-tiba saja, Mentari memotong kalimat sang anak sulung yang dirasanya sok tahu.
Mengernyit, Danisa lalu melontar tanya, "Maksudnya, Ma?"
Namun, rupanya sang papa pun ingin ikut nimbrung dalam menjelaskan maksud perkataan istrinya barusan. "Maksud mamamu adalah, kamu hanya diperbolehkan pulang ke rumah kami saja. Karena meskipun dokter bilang kondisimu sudah stabil, tapi kami tetap tidak setuju kalau kamu memilih untuk langsung pulang ke rumah yang biasa kamu tempati dan Haris. Jangan membuat kami merasa mengabaikanmu, Nisa! Tinggallah di rumah kami sampai kamu benar-benar sembuh," urai Reza lugas.
Sebagai seorang kepala rumah tangga yang dituakan, dia tentu tidak mau jika anaknya merasa kesulitan di rumahnya sendiri. Mengingat selama ini Danisa selalu keukeuh tak ingin mempekerjakan pembantu karena ia ingin mengurus seluruh pekerjaan rumahnya secara mandiri, maka bukanlah pilihan tepat jika Danisa memilih pulang ke rumahnya dengan resiko yang tentu akan memperparah kondisinya. Oleh karena itu, Reza dan Mentari pun sepakat agar putri sulungnya pulang ke rumah mereka saja. Dengan begitu, mereka bisa secara bergantian memantau keadaan sang anak selama dalam masa pemulihan yang sesungguhnya.