VI. MERASA BIMBANG

1105 Kata
"Apa? Pulang ke rumah mama dan papa?" Melalui sambungan telepon, Haris spontan memekik ketika diberi tahu sang istri bahwa esok mereka diharuskan pulang ke rumah orangtuanya Danisa. "Iya, Mas. Mereka memintaku supaya pulang ke rumah mereka aja selama kondisiku belum pulih sepenuhnya." "Tapi, Nis. Jarak tempuh dari rumah mama papa ke kantorku, kan, lumayan jauh. Itulah kenapa aku mengajakmu pindah ke rumah kita yang sekarang. Ya salah satunya biar aku gak kejauhan kalo berangkat ke kantor," tukas Haris mendesah gusar. Sejujurnya, ia merasa keberatan jika harus satu rumah lagi dengan mertuanya yang kadang-kadang agak bawel dalam segala hal. "Ya habisnya mau gimana lagi, Mas. Mungkin mama sama papa juga udah memikirkannya dari jauh-jauh hari. Dan lagi, masa kamu mau biarin aku sendiri yang tinggal di rumah mama papa. Jangan egoislah kamu, Mas. Hanya karena jarak tempuh ke kantormu menjadi jauh, bukan berarti kamu bisa membiarkanku tinggal sendiri di rumah mama tanpa kamu damping," cetus Danisa memprotes. Dalam arti, ia tidak akan mengizinkan Haris kalau-kalau suaminya itu memilih tak ikut tinggal di rumah orangtuanya. Sejenak, Haris pun mengembuskan napasnya kasar. Dia sungguh gamang dalam mengambil keputusan. Pasalnya, selama ini dia sudah telanjur nyaman juga menempati rumahnya yang sekarang. Di sisi lain, ia pun tidak mau kalau waktu kerjanya harus terganggu hanya karena jarak tempuh yang berbeda. Membuat ia dilanda dilema, antara memilih kenyamanannya sendiri atau kebaikan sang istri di masa pemulihannya. "Mas, kenapa diam? Kamu gak lagi bertekad untuk membujukku supaya aku memberimu kelonggaran dengan cara membiarkanmu tinggal di rumah kita sendirian saja, kan, Mas?" Entah kenapa, tapi sejujurnya Haris memang memiliki niatan begitu. Akan tetapi, ia masih menimbang-nimbang karena takut kalau istrinya bersikeras memaksanya agar mau ikut tinggal di rumah mama papanya. Beberapa saat, keadaan menjadi hening. Haris sendiri masih bimbang harus berkata apa, dan Danisa lebih ke merasa tak tega andai kata ia tetap memaksa suaminya agar bisa ikut tinggal bersamanya di rumah orangtuanya. Membuat keduanya sama-sama terlarut dalam pikirang masing-masing, sampai akhirnya suara Danisalah yang pertama kali memecah sunyi. "Ya udah, deh, aku ngalah. Kamu boleh tinggal sendirian di rumah, tapi dengan syarat setiap weekend kamu harus mau pulang ke rumah orangtuaku untuk menjengukku dan tentu menghabiskan waktu denganku. Gimana? Aku harap kamu setuju, sih. Karena dalam seminggu, aku hanya meminta dua hari saja supaya kamu mau pulang ke rumah mama," urai Danisa terpaksa mengalah. Sebagai seorang istri yang selalu mengerti akan kegundahan suaminya, ia pun rela menurunkan egonya hanya demi supaya Haris tidak terbebani. Lagi pula, Danisa pun amat mengerti jika Haris bukan tipe yang mudah untuk mengalah. Maka, untuk menghindari pertengkaran yang berpotensi terjadi jika keduanya sama-sama keras kepala, Danisa pun sering sekali ambil bagian mengalahnya demi sang suami agar ia tetap bisa nyaman di kala hidup bersamanya. "Ya udah, aku setuju. Terima kasih, ya, Sayang. Kamu emang selalu tau apa yang kumau," sahut Haris kemudian. Dalam hal semacam ini, Danisa memang selalu bisa menurunkan egonya demi dirinya. Oleh sebab itu, Haris pun selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dengan sangat mudah ketika Danisa lebih memilih mengalah. Setelah tidak ada lagi yang perlu mereka bahas, Haris pun menyudahi percakapannya mengingat ia masih harus menyelesaikan pekerjaannya. Besok, ia bahkan harus izin setengah hari karena jadwalnya Danisa diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya selama ini. Meskipun perusahaan tempatnya menjabat sebagai General Manager merupakan milik mendiang ayahnya, tetapi rupanya Haris belum diberi mandat sepenuhnya untuk menduduki posisi teratas di perusahaan. Dia bahkan masih dianggap sebagai karyawan umum oleh seseorang yang dipercaya sang ayah untuk menggantikan perannya sejak ayah Haris meninggal dunia. "Andai saja aku diberi kepercayaan sepenuhnya untuk mengelola perusahaan ayah, maka mungkin aku gak perlu usaha sekeras ini mengingat aku adalah penerus satu-satunya mendiang ayahku. Sayang sekali dalam wasiatnya, ayah malah mempercayakan kedudukannya pada Om Zidan. Meski dia adalah adik kandungnya, tapi harusnya yang lebih berhak, kan, aku yang adalah anak tunggalnya," gumam Haris gusar. Namun, walau begitu, ia pun tidak boleh menyerah dengan kegigihannya. Siapa tahu di masa mendatang, ia pun bisa mewujudkan angan-angannya jika waktu sudah berpihak padanya. Maka, selama jantungnya masih berdetak normal, ia pun tidak akan cepat menyerah untuk membuktikan bahwasanya ia juga mumpuni dalam mengelola perusahaan. *** Sampai saat ini, Qirani belum juga bisa menghubungi Gea. Entah ke mana temannya itu, yang jelas dia akan selalu menunggu hingga kelak Gea balas menghubunginya. Dering ponsel tiba-tiba berbunyi mengejutkan. Saat dipikir Gea yang menelepon, nyatanya nama yang tertera di layar ponsel malah kakak iparnya. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia sering sekali menghubunginya. Walau begitu, tetap saja Qirani harus menjawabnya. "Ya, halo!" sambut perempuan itu malas-malasan. Sejujurnya, perasaannya selalu tak keruan setiap kali kakak iparnya itu berusaha menanyai kabarnya. "Makan siang bareng mau?" Seperti biasa, pria itu bahkan anti basa-basi jika sudah menelepon Qirani. "Aku lagi mager, Mas. Makan siang sendiri saja. Atau minimal, kamu delivery order lalu kamu bawa menu makan siangmu ke rumah sakit. Lupa kalo istrimu selalu menunggu kemunculanmu, hem?" Sedikit ketus, tetapi apa yang dibicarakan oleh Qirani adalah benar. Sebagai seorang istri, tentu Danisa akan senantiasa menunggu kedatangan suaminya di waktu luang yang ia miliki. "Nisa udah diurus sama mama katanya. Jadi, menurutku itu sudah cukup. Sementara kamu, aku tau kamu belum makan. Sudah jangan membantah! Aku jemput kamu ke sana ya. Kamu lupa kalo kosanmu ada di jalur yang sama dengan kantor tempatku bekerja? Jadi, bukan hal sulit jika aku harus menjemputmu," lontar Haris terkekeh. Sialnya, apa yang baru saja pria itu katakan tidaklah meleset. Selama ini, Qirani memang lebih memilih tinggal di kos-kosan ketimbang di rumah orangtuanya. Selain selalu merasa diabaikan, Qirani pun tak pernah merasa diperhatikan sebagaimana mereka yang selalu saja mengutamakan sang kakak. "Tunggu di depan gerbang, ya! Aku langsung ke sana sekarang biar gak buang waktu," cetus Haris tak kenal penolakan. Seusai berkata demikian, ia pun memutus sambungan teleponnya yang seketika pula menyebabkan si perempuan hanya sanggup membuang napasnya gusar. "Entah harus bersikap seperti apa aku sekarang terhadap Mas Haris? Di satu sisi, aku sadar bahwa dia adalah suami kakakku yang tak lain adalah iparku sendiri. Tapi di sisi lain, dia pun adalah ayah dari si jabang bayi sedang kukandung." Tidak menutup kemungkinan, lambat laun dinding yang Qirani ciptakan pun akan siap roboh saat waktunya tiba. Membuat ia merasa begitu bimbang karena tentu ia diharuskan memilih perihal jalan mana yang harus ia ambil. Apakah ia harus setuju Haris nikahi dengan resiko kakaknya akan membencinya seumur hidup? Atau justru ia harus menolak kesediaan Haris untuk menikahinya yang berarti dia harus siap membesarkan bayi yang kelak akan dilahirkannya tanpa seorang pendamping sama sekali. Membayangkan itu, kepala Qirani pun mendadak pusing. Lalu tanpa peduli dengan Haris yang katanya akan menjemput, Qirani pun malah memilih memejamkan mata demi menghilangkan rasa pusing yang mendera kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN