"Rani! Ran," seru sebuah suara tiba-tiba. Diiringi dengan bunyi ketukan pada pintu kamarnya yang tertutup rapat.
Saat itu, Qirani sedang terlelap di atas kasur empuknya. Namun, ia justru harus terbangun gara-gara bunyi bising yang mengusiknya.
"Ran!" Panggilnya mengulang. Secara tidak langsung, menuntut Qirani untuk segera bangkit dari posisinya guna membukakan pintu untuk si pengetuk.
"Ya, sebentar," sahut perempuan itu serak. Kentara sekali jika ia benar-benar baru bangun dari tidurnya. Kemudian, sembari agak sempoyongan, Qirani pun berjalan menuju pintu lalu menariknya terbuka.
"Kamu abis ngapain, Ran? Kok, lama bener nyautnya," tanya si pengetuk kepo. Dia adalah Zahra, teman satu kos-kosannya.
Qirani sempat menguap dulu sebelum akhirnya menjawab, "Aku lagi tidur. Ada apa, sih? Udah kayak ada bencana aja cara kamu bangunin aku."
Sejujurnya, Qirani tidak pernah suka jika ada yang lancang membangunkan tidurnya dengan cara dikejutkan begitu. Akan tetapi, apa boleh buat, toh Zahra pun tidak bisa membangunkannya dengan santai mengingat pintu kamar Qirani ada dalam keadaan dikunci dari dalam. Untuk itu, Qirani pun coba memaklumi.
"Maaf ya, kalo ganggu. Aku gak tau juga kalo kamu lagi tidur," gumam Zahra tak enak. Dia merasa menyesal karena sudah menggedor pintu kamar Qirani dengan tak sabar.
"Gak apa," jawab Qirani mencoba mengerti. "Emang ada apa?" Kini, perempuan itu pun mengulang tanya yang sebelumnya.
"Itu, ada yang cari kamu di luar," ujar Zahra memberi tahu. Dalam sekejap, mengingat Qirani pada ajakan Haris yang katanya hendak menjemput untuk sekedar makan siang bersama.
Refleks, ia pun menepuk jidatnya sejenak sebelum akhirnya sempat masuk dulu ke dalam guna menyambar slingbag-nya yang tergantung di tempatnya. Setelah itu, barulah ia bergegas menuju ke luar. Tidak lupa, ia pun mengucap terima kasih pada temannya karena sudah bersedia membangunkannya sekaligus memberi tahu juga.
Meninggalkan Zahra, perempuan itu lalu sempat celingukan setibanya ia pekarangan kos-kosannya bertujuan untuk mencari sosok yang dibilang Zahra yang katanya sedang menunggunya. Mengingat kos-kosan yang Qirani tempati adalah kos-kosan khusus yang ada batasan tersendiri untuk tamu berjenis kelamin laki-laki, maka sudah bisa dipastikan jika Haris tentu tidak akan diperbolehkan untuk masuk lebih lanjut ke teritorial penghuni kos-kosan tersebut.
"Di mana Mas Haris? Kata Zahra tadi, yang nyari aku ada di halaman. Tapi, kok, gak ada? Apa jangan-jangan Mas Haris udah balik ke kantor ya karena nunggu lama."
Di tengah Qirani yang sedang mencari, tahu-tahu ponselnya berdering cukup mengejutkan. Membuat si pemilik lantas sigap merogoh ponselnya dari dalam sling bag yang ia sampaikan di bahu kanannya. Sejenak, Qirani melihat nama Haris tertera di layar. Dengan cepat, ia pun mulai menjawab panggilan, "Mas Haris?"
"Ya, Ran. Sori, aku mendadak ditelpon orang kantor. Jadi tanpa bisa nunggu kamu, aku udah harus balik kantor. Next time aja ya kita makan di luarnya. Aku janji," ucap Haris penuh sesal. Bersama itu, bahu Qirani pun merosot lunglai. Meski seharusnya ia bisa bersikap biasa dan tak masalah jika memang Haris tak bisa, tetapi entah kenapa, hati kecilnya malah seakan tak terima dengan batalnya makan siang bersama Haris.
"Ran? Kamu masih di sana, kan?"
Secepat kilat, Qirani pun kembali menyahut, "Ah, eng iya gapapa, kok, Mas. Ya udah, aku biar cari makan sendiri aja kalo emang kamu harus balik kantor." Dalam nada bicaranya, tersirat sebuah kekecewaan karena Haris membatalkan ajakannya.
"Are you okay, Ran?" Seperti peka meski hanya mendengar nada bicara sang gadis, Haris pun tiba-tiba saja bertanya begitu.
"I am okay. Ya udah ya, Mas. Bye!" Tanpa berniat memberi kesempatan pada sang pria, Qirani pun segera saja menyudahi percakapannya. Kemudian, ia melempar ponselnya ke dalam sling bag dan mulai berjalan menuju luar halaman untuk mencari makan seorang diri.
Sementara itu di balik kemudi, Haris yang merasa jika Qirani sedang kecewa padanya pun tampak kepikiran. Namun, apalah daya jika panggilannya sudah keburu perempuan itu sudahi secara sepihak.
"Apa Rani marah ya?"
Memikirkan itu, Harus pun menjadi tidak fokus. Sepanjang perjalanan, dia menduga-duga jika Qirani pasti marah karena ia tiba-tiba membatalkan. Oleh karena itu, Haris pun lantas kembali men-dial orang kantor yang tadi sempat memanggilnya.
Beberapa saat, Haris harus menunggu sampai panggilannya tersambung pada yang dituju. Meski begitu, ia harus tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Hingga tak lama dari itu, telpon pun mulai terhubung.
"Ya, Pak Haris!"
"Bud, kira-kira, kamu bisa handle dulu kendala yang kamu bilang tadi itu gak? Ini, soalnya saya lagi ada urusan penting di luar. Dan lokasinya lumayan agak jauhan dari kantor. Semisal masih bisa kamu handle, bisa tolong kamu urus aja dulu gak, Bud?"
"Oh gitu, Pak. Sebenernya sih ini udah mulai bener lagi erornya. Pak Haris kalo emang lagi sibuk di luar gapapa lanjut aja. Maaf, lho, sudah merepotkan, Pak. Saya gak tau kalo Pak Haris sedang ada urusan penting," tukas Budi merasa tak enak.
Sementara itu, Haris hanya bisa menghela napas seraya berkata, "Gak masalah. Yang penting kendalanya udah mulai membaik, kan? Dengan begitu, saya bisa lanjut kelarin dulu urusan saya di sini."
"Baik kalo gitu, Pak. Mohon maaf sekali lagi," ujar Budi tak bosan.
Setelah mengiyakan permintaan maaf bawahannya, Haris pun memutuskan sambungan. Kemudian, setelah tahu jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai kerjaannya di kantor, Haris pun lalu memutar balik kemudinya menuju ke tempat di mana kos-kosan Qirani berada.
"Semoga aja Rani belum jauh dari kos-kosannya," gumam Haris penuh harap. Dengan cepat, ia pun melajukan kemudinya menuju arah kosan Qirani sedia kala.
***
Tidak jauh dari tempat kosnya, ada sebuah warung makan yang citarasa kelezatannya tak diragukan. Meski semacam warung makan sederhana, tapi Qirani sering kali mampir untuk sekadar mengganjal perut laparnya. Dan kini, ia pun sedang anteng memilih lauk mana yang tengah diinginkannya.
"Nasinya segimana, Neng?" Tanya Erna si pemilik warung. Dia terlihat sudah siap hendak menyendok nasi dari dalam rice cooker.
"Sedikit aja, Bu. Lauknya yang dibanyakin," ujar Qirani tersenyum.
Mengangguk, Erna pun lalu menyendok satu kali saja nasi dalam rice cookernya. Kemudian, sigap beralih pada etalase kaca yang mana menjadi tempat berbagai lauk dijajakan di sana.
"Lauknya apa?" Tanya Erna lagi.
"Kasih ikan sama mendoan aja, Bu! Nasinya tambahin lagi."
Baik Erna maupun Qirani, keduanya sama-sama menoleh ke sumber suara. Terkejut, mata Qirani pun tampak terbelalak tatkala mendapati Haris yang sekonyong-konyong muncul mengomando si pemilik warung.
"Mas Haris," gumam Qirani spontan mengerjap.
Melirik, Haris yang tersenyum lebar ke arahnya pun lalu berkata, "Aku gak mau ya kalo calon bayi kita kekurangan gizi. Itulah kenapa aku minta supaya nasinya ditambah lagi. Jangan protes! Ini juga demi kesehatanmu dan benih bayi dalam kandunganmu."
Mendengar itu, sontak saja darah Qirani berdesir. Jantungnya juga ikut berdetak kencang tak keruan. Membuat Qirani tergugu di tempat, selagi Haris ikut memesan setelah nasi milik Qirani disodorkan Erna.
"Saya nasi tambah rendang plus perkedel jagung ya, Bu. Pake sambal dikit. Minumnya teh tawar panas dua," pinta Haris satset. Sementara itu, Qirani yang masih belum berkutik disadarkan lembut oleh usapan tangan Haris di bahunya.
"Dimakan, bukannya bengong."
Lagi, perut Qirani pun terasa seperti digelitik ketika Haris kembali berbicara lembut kepadanya. Apalagi melihat senyumnya yang menawan, menyebabkan Qirani tidak bisa membantah di tengah debaran jantungnya yang kian bertambah.