Sebelum Collins sempat menjawab, Ipah beranjak berdiri dan meninggalkannya menuju pintu. Ipah keluar tanpa bicara apa-apa lagi. Collins hanya bisa menghela napas untuk kesekian kali sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
****
Kedai bakso itu lumayan ramai. Di tengah udara panas, Collins menarik perhatian karena wajahnya yang tampan. Ia berusaha acuh tapi Ipah terlihat bangga. Mereka duduk di sebuah meja panjang yang disandarkan ke salah satu dinding di mana keduanya berbagi meja dengan yang lain. Collins duduk di samping Ipah lalu memesan bakso dan mi ayam. Ketika makanan datang, mereka langsung makan.
Collins mulai terbiasa makan makanan pinggir jalan. Bersama Ipah ia menambah saos dan sambal yang ada. "Mpok, nanti temenin Bara beli ponsel ya?"
"Oiye, lu gak punya ye? Mau nyang harga berapaan?"
"Yang murah aja. Yang second juga boleh."
"Ade kok nyang baru, tapi murah. Daripada beli second!"
Collins mengangguk. "Ya udah, oke."
****
Motor Collins melewati rumah Aida. Terlihat sepi. Sepertinya wanita itu belum pulang dari tempat kerjanya. Apa ia ke sana saja?
Pria itu kemudian menjalankan motornya ke sebuah sekolah MTS di daerah itu. Tempatnya agak jauh tapi Collins tahu tempat itu. Ia tak sengaja melewatinya kemarin ketika mengantar beras untuk seorang pelanggan.
Terlihat sebuah bangunan sekolah berdiri kokoh di pinggir jalan. Sepertinya sekolah sudah bubar sedari tadi karena ada beberapa murid yang berada di luar sekolah. Collins melihat Aida tengah berbicara dengan seorang murid laki-laki. Murid itu terlihat tengah membujuk wanita itu untuk ikut dengannya.
"Ayo, Bu. Saya anterin pulang, ya!" sahut murid itu.
"Eh, Ibu bisa pulang sendiri kok." Aida berusaha tersenyum.
"Orang buta nanti bermasalah di jalan, Bu."
"Ngak, papa. Ibu udah terbiasa." Aida tetap menolaknya.
Tiba-tiba murid itu merampas tongkat sang wanita sehingga Aida kebingungan. "Udah, ikut Saya aja, Bu. Ibu gak bisa ke mana-mana kalo gak ada tongkat, 'kan?"
"Fahri ...." Aida berusaha bicara lembut. "Kembalikan tongkat Ibu, sini." Ia mengulurkan tangannya.
Alih-alih mendengarkan, murid itu mengandengnya. "Ayo, Bu."
"Eh, Fahri ...."
"Ojek!"
Keduanya menoleh. Seorang pria berwajah tampan dengan helm di kepala datang menghampiri. "Ayo, Mbak, naik."
Aida mengenali suara Collins. "Oh, a—"
"Tolong tongkatnya. Dia udah pesen ojek sama Saya," pinta Collins pada murid itu. Ia sengaja memotong kalimat Aida karena tidak ingin wanita itu salah bicara. Ia tengah menolongnya dari murid yang tengah menggoda Aida.
"Ck, berapa sih? Sini aku ganti!" ucap Fahri sinis. Murid itu terlihat seperti anak orang berada yang meremehkan keberadaan Collins.
"Maaf ya, Saya gak bisa batalin kecuali Mbaknya bilang enggak."
Fahri menoleh ke arah Aida. Saat itulah, Collins merampas tongkat sang wanita dari tangan murid itu. Tongkat itu dikembalikan pada Aida.
"Eh!"
Collins tak peduli dengan teriakan Fahri karena terkejut tongkat itu dirampas dari tangannya dengan tiba-tiba. Ia bahkan meminta Aida untuk naik motornya. "Ayo naik."
"Eh, lo mau cari masalah ama gue, hah!" Fahri menunjuk-nunjuk karena mulai naik pitam. "Lo mau gue hajjar, ya!" Kedua matanya mulai melotot.
Aida tampak ragu untuk naik motor. Ia berusaha untuk mendengarkan kelanjutannya dengan cemas.
"Anak kecil kayak kamu tuh ya, harusnya belajar yang rajin, bukan ngejahilin gurunya di sekolah. Apa kamu mau dapat nilai jelek di rapotmu?" sindir Collins pedas dengan mata menyipit.
"b******k lo!" Fahri geram dengan ucapan Collins sambil memamerkan kepalan tangannya. "Gue bisa ...."
"Bisa nyuap seluruh guru dan kepala sekolah di sini, hah? Wah, hebat!" Collins bertepuk tangan pada kalimatnya yang penuh dengan penekanan. "Sial bener orang tuamu punya anak kayak kamu. Makanya ... belajar itu pakai otak jangan pakai duit!"
"Bang Bara." Aida menyentuh lengan Collins agar menyudahi.
"Sudah, kamu naik aja," sahut Collins pada Aida dengan nada rendah. Ketika wanita itu naik, pria itu masih bicara dengan Fahri. "Dia itu masih keluarga Saya, jadi jangan berani-berani ganggu dia, ya," ucapnya dengan tegas. "Awas ...!" Collins memberi peringatan sambil menunjuk Fahri.
Motor yang membawa Collins dan Aida memutar arah dan menjauh. Tinggal Fahri yang mengamuk di samping mobilnya.
Collins kemudian mengantarkan Aida sampai ke depan rumahnya. Saat wanita itu turun, pria itu mulai bicara. "Eh, maaf ya, Mbak, tadi aku agak lancang." Padahal sepanjang jalan Collins terus menahan kesal.
Aida merapikan kerudung segitiganya sebelum akhirnya menjawab. "Bang ... jangan seperti itu. Di sekolah, kami sebagai guru menghindari pertikaian agar murid tidak meniru."
"Eh, iya. Maaf." Seketika Collins menyesal. Amarahnya pun reda.
"Lain kali, jaga emosi."
"Iya, maaf."
Aida mengeluarkan dompetnya. "Segini cukup gak?" Ia menyodorkan dua lembar uang berwarna ungu.
"Eh, sebenarnya tadi Saya lagi cari Mbak, bukan niat ngojek." Collins mendorong pemberian Aida padanya.
"Apa?" Wajah cantik itu tertegun. Bola matanya yang berwarna abu-abu, tampak indah. Entah kenapa, kini Collins bisa memperhatikan ekspresi wajah cantik Aida dari dekat. Begitu sangat menenangkan.
"Eh, Saya mau kasih nomor telepon ponsel Saya yang baru, Mbak, sebenarnya."
"Oh, begitu? Tapi tetap saja, Saya sudah menumpang motor Abang. Berarti Saya sudah pakai jasa Abang." Aida berkeras sambil mendorong tangannya ke depan.
"Tapi Saya memang hanya mencari Mbak untuk memberi tahu nomor telepon Saya, kok. Setelah itu mau balik ke toko. Searah, 'kan?" Collins kembali mendorong tangan Aida menolak pemberian.
Wanita itu terlihat bingung. "Ya udah."
Namun ketika Aida menarik tangannya, Collins malah meraih tangan sang wanita hingga Aida terkejut.
"Eh, bagaimana kalau Mbak naik motor Saya saja untuk pulang-pergi ke sekolah?"
"Mmh?" Aida terkejut antara pertanyaan dan tangan Collins yang tengah menggenggam tangannya. Ia lebih mendahulukan tangannya yang ia tarik kembali hingga pria itu sadar apa yang terjadi.
"Eh, maaf." Collins melepaskan.
"Maksudnya, Abang ngojek?"
"Iya. Nanti aku kasih diskon bila jadi pelanggan penuh sebulan." Tawar Collins. Gara-gara kejadian tadi, ia merasa melihat peluang ini agar bisa membuatnya bersama dengan Aida, walau tidak menjanjikan untuk bisa dekat. Collins tersenyum dengan ide briliannya yang baru saja datang.
"Mmh." Aida tampak ragu. "Apa tidak mengganggu pekerjaan Abang yang lain?"
"Aku hanya menemani Babe nungguin toko. Selebihnya, gak ada kerjaan."
"Berarti bayarnya nanti perbulan?" Mata indah itu bergerak ingin tahu.
"Ya nanti disesuaikan dengan hari gajian Mbak aja, gak papa."
"Oh ... mmh." Wanita itu menundukkan kepala, berpikir sejenak.
"Bagaimana? Daripada nanti digangguin lagi sama murid-murid? 'Kan katanya berusaha menghindari pertikaian?"
"Ya udah. Uang ini Saya simpan dulu. Nanti pas gajian Saya hitung lagi."
Collins terlihat senang. Senyum terukir di wajahnya. Sebuah kesempatan datang untuk bisa menemani hari-hari wanita itu walau hanya sebatas menjadi tukang ojek. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Mereka kemudian bertukar nomor telepon.
****
"Be!" Collins turun dari motor dan melepas helm. Ia mendatangi babe yang sendirian berada di toko. "Aku boleh pinjam motornya gak, Be, buat ngojek?"
"Apa?" Pria paruh baya itu menatap Collins. Namun kemudian ia tersenyum sambil menepis cepat bahu pria muda yang mulai akrab dengannya itu. "Lu, mau nganterin ustadzah Aida lagi, 'kan?"
Collins tersenyum di kulum. "Beneran ngojek, Be."
"Sama ustadzah Aida?"
Collins tak menjawab dengan senyum yang mulai lebar.
"Ah, Babe tau akal bulus, lu!" Babe ikut tersenyum. "Pin-ter, lu!"
Keduanya tertawa.
"Asal jaga nama baik babe ya. Inget, jaga harga diri perempuan. Trus, jangan lupa lu anter jemput Mpok lu juga." Babe mengingatkan.
"Iya, Be ... siap!"
Bersambung ....