12. Ngojek

1165 Kata
Pagi itu Collins sudah mandi dan berpakaian. Ia memakai jaket jeans-nya dan melewati meja makan. Babe hanya melihat Collins menghampiri lalu mencium punggung tangannya. "Assalamualaikum, Be," sahut Collins. "Waalaikumsalam." "Bara! Tumben pagi-pagi. Mau ke mane lu?" Enyak yang tengah menyiapkan sarapan, heran melihat kemunculan Collins yang bangun pagi sekali hendak berangkat. "Kamu ngak nyarap dulu?" "Ntar, Nyak. Nganter orang dulu pagi-pagi, karena hari ini Bara ngojek, Nyak." Collins menerangkan. "Oh ... ngojek lu?" "Iya, Nyak. Ntar pulang, Bara sarapan." Collins meraih tangan enyak dan menciumnya. "Berangkat, Nyak. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Ipah yang keluar dari kamar mandi melihat heran pada Collins yang sudah rapi. "Tumben pagi-pagi. Mau ke mane lu?" "Ngojek!" Babe dan enyak menyahut bersamaan. Ipah terkejut melihat kekompakan kedua orang tuanya. **** Motor Collins telah sampai. Ternyata Aida tengah menunggu di beranda. Sebelum pria itu membunyikan klakson, sang wanita berdiri dan melangkah menghampiri. "Mbak hafal motor Saya?" tanya Collins heran ketika Aida membuka pagar. "Iya. Satu-satunya suara motor yang mendekat, dan Saya hafal suara mesinnya." Wanita itu menutup pagar. "Oh." Terlihat di depan rumah, Aning keluar dari pintu depan. Ia mengunci pintu seraya terkejut melihat kedatangan Collins. Ia tidak menyangka Aida dijemput pria tampan itu. Aida bergerak maju sampai tongkatnya menyentuh motor. Ia mencari dudukan di belakang dengan meraba dan kemudian naik. "Mbak, itu saudaranya ya," tanya Collins setengah berbisik. "Siapa? Oh, Aning. Dia sepupuku. Dia kerja di pabrik. Dia juga berangkat kerja pagi." "Oh." Collins mengangguk. "Sudah, Mbak?" "Sudah." Aida berpegang pada jaket Collins dan motor bergerak ke jalan. Dengan motor, jarak tempuh ke sekolah jadi lebih cepat dibanding dengan angkot karena sebentar saja Aida sudah sampai. "Terima kasih ya?" "Masa harus berterima kasih sama Saya, Mbak? 'Kan Saya hanya tukang ojek," sahut Collins menoleh pada wanita itu. "Kalau yang Saya rasakan, ke sekolah jadi jauh lebih cepat. Jadi Saya gak terburu-buru mengajar." "Oh." Collins melirik Aida yang sudah turun. "Tapi, apa Mbak akan berterima kasih pada Saya setiap hari?" "Eh?" "Rasanya gak mungkin 'kan? Saya 'kan dibayar." Aida terkejut mendengar pernyataan Collins. Sebelum ia sempat menjawab, motor pria itu telah pergi menjauh. **** "Hahh ...!" Pria bule paruh baya itu berteriak karena begitu emosi, hingga mengobrak-abrik barang-barang yang berada di atas meja dengan kasar. Kertas melayang dan beberapa benda jatuh, lalu pecah di lantai. Matanya memerah penuh dengan amarah. Urat-urat di lehernya menonjol karena teriakannya yang begitu keras. Dua orang pria berjas hitam yang berdiri di hadapan menunduk takut. "Ma-af ... Tuan," ucap salah satu dari mereka hampir menahan napas. Seorang pria yang memakai jaket hitam duduk di depan Hardyn. Ia juga menundukkan kepala, tak berani bersuara. "Tak bisakah kalian menemukan satu orang ini saja, hah? Betapa boddohnya kalian itu, ya!" Ayah Collins memaki. "Seperti yang sudah Saya perkirakan, Tuan. Anak Anda pasti pergi ke luar kota, tapi Saya tidak tahu tepatnya di mana. Namun Saya rasa tidak jauh, Tuan," sahut pria yang tengah duduk di kursi. "Bagaimana kau bisa tahu?" Amarah Hardyn mulai sedikit reda. Ia menatap dengan mata elangnya, pada pria di hadapan. "Begini. Bukankah dia belum pernah keluar kota selain keluar negeri, Tuan? Kalau masih tinggal di dalam kota, pasti ketemu. Anak Anda tahu itu. Kalau naik pesawat, pasti ketahuan tapi ponselnya dimatikan tak lama setelah dia kabur. Ini menandakan ia mungkin kabur ke pinggir kota, Tuan." "Tapi Collins tak mengenal siapa pun di sana. Temannya kebanyakan tinggal di luar negeri. Teman yang di Jakarta, apa mungkin salah satu dari mereka menyembunyikannya?" tanya pria bule itu masih frustasi. "Tapi feeling-ku mengatakan, anak Anda ada di pinggiran Jakarta, Tuan. Seseorang pasti menyembunyikannya, tapi kemungkinan besar seseorang yang anda tidak kenal." Hardyn menatap pria di depannya dengan pandangan nanar. "Jangan bilang anakku kabur lalu diculik, sebab aku bisa gilaa!" Ia kembali berteriak sambil memukul meja dengan keras. Collins adalah satu-satunya kenangan yang ia milik dari Aiko-istri pertamanya. Ia tak mau ada orang yang menyiksa atau bahkan menghilangkan nyawa anak pertamanya itu karena ia pasti akan hidup dalam penyesalan. Pria di hadapan tak bisa bicara apa-apa lagi karena semua masih perkiraan. Hal ini membuat Hardyn semakin kehilangan kewarasannya. Milyuner itu meraih pajangan porselen di dekatnya dan membantingnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Periksa sekali lagi! Perdagangan manusia, atau telepon dari si penculik dan aku ingin hasilnya, segera!" "Baik, Tuan." **** Motor Collins menghampiri Aida yang berada di depan pagar sekolah, menunggunya. "Ayo, Mbak." Aida naik ke motor. Sebentar kemudian motor sudah di jalan. Collins melewati gang-gang agar bisa memotong jalan untuk sampai ke rumah Aida. "Bang ... Abang marah ya?" Pria itu terkejut mendengar kata-kata sang wanita. "Lho, marah kenapa?" "Masa Saya bilang terima kasih, Abang marah?" Wajah ustadzah itu terlihat sendu. Collins baru sadar apa yang tengah dibicarakan. 'Sensitif sekali dia ya? Padahal aku cuma menggodanya.' "Eh ... aku cuma becanda kok." Ia jadi serba salah. Aida kaget mendengar pengakuan Collins. "Oh." Keduanya kemudian terdiam, fokus dengan jalan yang dilewati hingga akhirnya motor sampai di depan pagar rumah Aida. Wanita itu pun turun. "Besok di jam yang sama 'kan?" tanya Collins menatap Aida. "Oh, iya." "Ok, kalo ada perubahan, telepon ya." Wanita itu mengangguk pelan. "Ya sudah. Sampai besok." 'Sekarang menjemput Mpok pulang.' Collins memundurkan motor dan kemudian berputar arah. Motor itu pun bergerak menjauh. **** "Aning, kamu pulang?" Aida mendengar pintu depan terbuka. Biasanya bila ia masuk, pintu depan tak dikunci karena menunggu sang sepupu pulang. "Mmh." Aning mengunci pintu. Ia melirik Aida dan kemudian masuk kamar. Aida sendiri tengah mencuci piring. Baru saja ia selesai mencuci, Aning keluar kamar dan mendatanginya. Wajah sepupunya itu nampak serius. Ia melipat tangan di dadda dan menyorot Aida. "Kenapa cowok itu yang ngantar Kakak kerja? Apa dia juga jemput Kakak pulang?" "Iya." Aida meraih tongkatnya. "Kenapa?" "Tidak apa-apa. Dia butuh uang dan ia melakukan pekerjaan halal. Kenapa tidak?" Aida melangkah pelan-pelan ke kamar. Ia tidak ingin menceritakan pada sang sepupu bahwa Collins telah menolong dirinya dari murid yang tengah menggodanya di jalan. "Kakak ini gak ngerti ya, Kakak tuh ngundang bahaya banget, tau! Bagaimana kalau dia punya niat jahat seperti yang waktu itu?" "Tidak mungkin! Aku percaya padanya." 'Bang Bara begitu sopan. Dia malah yang menolongku dari muridku yang bebal. Dia tak mungkin melakukan sesuatu yang jahat kepadaku.' Namun Aida tidak mengatakan apa yang dipikirkannya. "Kakak, kok diajari gak mau ngerti sih? Nanti kalau sudah kejadian aja ...." Aida berhenti dan memutar tubuhnya ke arah Aning. "Tapi perasaanku mengatakan tidak. Dia orang baik. Kali ini aku merasa feeling-ku benar, Aning." "Bagaimana kalau tidak?!" Aning menantangnya dengan mencondongkan tubuhnya ke depan dan mencibir. "Kau selalu pembawa sial di rumah ini!" "Aning!" Aida mengerut dahi. "Apa? Kakak buta, tapi kerjaan Kakak terus saja mengambil pacar orang, atau mendatangkan orang jahat ke rumah ini. Kalau lain kali ada kejadian seperti ini lagi, kakak harus keluar dari rumah ini, ya!" usir Aning terang-terangan. Selama ini ia memang kesal, Aida selalu mematahkan pria-pria yang naksir dengannya setelah melihat Aida. Belum lagi, pernah ada orang yang membuntuti sang sepupu cantik ini hingga hampir mencellakainya. "Ini 'kan rumah kakak?" Aida tak percaya mendengar ucapan sepupunya itu. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN