Collins mengangkat kepalanya pelan. Sebenarnya sedikit sesak ingin meneruskan ucapannya, tapi harus. Waktunya sudah tak banyak. Ia harus belajar melepaskan keluarga ini dan kembali pada keluarganya. "Ayahku meminta aku pulang."
Ipah segera keluar dari dapur diikuti enyak.
"Bara, lu mau pulang?" tanya Ipah dengan nada rendah. Sepertinya nampak sedih.
"Bara ...," sahut Enyak.
Melihat keduanya datang, Collins hampir menangis. "Eh, maaf." Hanya itu yang bisa ia ucapkan. Ia menahan haru.
Enyak memeluk Collins dari belakang. Demikian juga Ipah. Collins tak bisa tidak. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Jadi lu nikah sama ustadzah?" tanya Ipah.
Collins tak menjawab. Ia hanya memegangi kedua tangan enyak yang mendekap bahunya. Andai mereka tahu, ia kembali ke neraka.
Seandainya saja, ia tak mengenal Aida, ia tak harus meninggalkan mereka. Namun ia harus bertanggung jawab. Entah apakah ada lain kali di mana ia bisa kabur lagi, tapi rasanya tak mungkin. Ayahnya pasti akan membuat pengamanan yang lebih ketat lagi daripada sebelumnya. Lagipula, Collins tak menyesal bertemu dengan Aida karena wanita itu adalah kenangan terindahnya.
"Ye udeh. Berarti lu nikah sama orang tua lu, ye," ucap babe lagi.
"Jangan lupa, lu punya rumah di marih. Sekali-sekali tengok kami," imbuh enyak.
Collins hanya bisa mengangguk dalam kesedihan.
"Kapan rencana nikah lu?" tanya babe lagi.
"Aku harus ketemu ayahku dulu, Be," ujar Collins dengan suara serak. Air matanya mulai jatuh. Ia menghapusnya dengan sembarangan.
Babe menepuk-nepuk bahu Collins dengan wajah bahagia. Tak terasa air matanya ikut jatuh. "Jangan lupakan kami yak."
Collins berdiri dan memeluk babe. "Tak mungkin!" Namun tak ayal Collins menangis di pelukan pria paruh baya itu. Walaupun Collins belum lama mengenal mereka, tapi ia sudah sangat menyayangi mereka sehingga sulit untuk dirinya berpisah dari keluarga ini. Namun apa yang bisa dia lakukan? Ia tak bisa memilih untuk lahir di keluarga mana. Hanya mungkin, bersama keluarga ini adalah kenangan yang terindah yang bisa menguatkan hari-harinya saat pulang.
****
Ipah membuka pintu. Collins tanpa bicara segera masuk dan menutup pintu.
"Eh, apa-apaan lu main masuk aje kamar cewek," protes Ipah bingung.
"Lah, Mpok juga pernah begitu, di kamarku!" Collins membalas omongan.
"Ye udeh. Lu mau ape?" Ipah melipat tangan di dadda sambil bersandar ke lemari di belakangnya.
Collins menundukkan kepala dan mengecilkan suara. "Mpok, boleh pinjem ATMnya gak?"
"Kenapa lu gak bikin sendiri?"
"KTPku hilang, Mpok. Bikinnya 'kan lama," rayu Collins dengan suara pelan.
"Ck! Ye udeh, iye!"
"Ntar aku kasih persen deh, Mpok, buat modal jadi penjahit," bujuk Collins lagi.
Ipah yang mengambil kartunya dari dalam dompet, merengut. "Mpok bantuin saudara gak ade niat buat cari keuntungan ye."
Collins tersenyum lebar. "Ngak, Mpok. Aku percaya Mpok orang baik." Ia menerima kartunya dari Ipah. "Nomornya?"
"Ntar Mpok kirim. Udeh ... sono-sono, Mpok mau tidur," usir Ipah. Collins keluar dengan wajah senang.
****
Miranda mengintip suaminya yang masih sibuk dengan para tamu di ruang tengah, orang-orang bayarannya. Ia menghampiri ketika sang suami hendak ke dapur. "Mas mau apa?"
Pria itu meliriknya tak yakin. "Suruh pembantu saja. Aku minta tambahan minuman dan makanan kecil di ruang tamu."
"Iya, Mas."
Saat Hardyn hendak kembali, Miranda menahan lengannya. "Mas, ada apa?"
Pria itu kembali melirik istrinya yang masih muda itu. Bisakah ia mulai mempercayainya? Namun Collins selalu memusuhinya. "Collins akan pulang."
"Apa? Di mana dia? Benar 'kan kataku, dia sengaja menakut-nakutimu. Dia ...."
"Tolong hargai keluargaku," ucap Hardyn ketus. Jujur, ia tidak pernah mencintai Miranda, tapi hanya terbiasa. Ia selama ini berusaha adil pada Miranda dan Collins karena ia merasa Miranda adalah korban keegoisannya, tapi ternyata tidak mudah. Itu mengorbankan kenyamanan Collins.
Miranda terdiam sejenak. "Jadi, kapan dia pulang? Dia ada di mana sekarang?"
"Aku tidak tahu. Ia tidak mau bicara banyak. Hanya katanya dia akan telepon lagi nanti. Aku harap kau bisa sedikit lunak padanya."
Miranda hanya diam hingga sang suami meninggalkannya. 'Jadi dia ada di mana? Heh, jangan harap!' Setelah bicara dengan pembantu, Miranda kembali ke tempat persembunyiannya. Ia ingin tahu di mana Collins berada.
Malam telah larut. Ponsel Hardyn mendapat pesan. Pria itu membacanya. "Bojong kenyot? Di mana ini? Siapa ini Latifah?" ucapnya di depan orang-orang bawahannya. Ia segera menghubungi Collins. "Siapa wanita ini, Collins?"
"Dad, jangan menghubungiku dulu. Nanti aku hubungi," sahut Collins dari ujung sana.
"Tapi kapan kamu pulang?"
"Beri aku waktu dua hari setelah Daddy mentransfer uangnya."
"Tapi ...."
Telepon terputus. Collins mematikan ponselnya.
"Sial, dia mematikan ponselnya," gumam Hardyn. Namun ponselnya ternyata terhubung dengan sebuah barang elektronik. "Apa kalian bisa menemukan keberadaannya?" tanyanya pada orang-orang sewaannya.
"Sayang, Bapak bicara kurang dari satu menit. Harusnya tadi Bapak ajak dia bicara banyak. Jadi kita bisa tahu lokasi pastinya. Tapi setidaknya kita tahu daerahnya. Bojong kenyot itu dekat ke arah Bogor, Pak, tepatnya. Kita tinggal cari lokasi banknya."
Miranda tersenyum menyeringai. Wajahnya seketika kesal. 'Latifah? Siapa itu Latifah? Pacarnya? Mmh, aku tidak rela,' dengusnya kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat hingga gemetar. 'Dia tak boleh bahagia! Collins ... dan juga pacarnya itu ... tak ada yang boleh mendapatkan Collins!!' teriaknya dalam hati.
Rupanya, di dalam hati, selain ingin balas dendam karena Collins pernah menolaknya, Miranda menyadari dirinya cemburu. Ternyata cinta itu tak pernah padam di hatinya. Ia hanya mencintai Collins seorang!
Segera Miranda meraih ponsel yang berada di atas meja dan menelepon seseorang. "Halo. Orang yang dicari ada di daerah bojong kenyot ya. Dia mungkin akan mengambil uang di ATM, jadi, cari dia secepatnya! Beri dia pelajaran dan bawa dia ke hadapanku, sebelum suamiku mendapatkannya!"
"Baik, Nyonya."
"Oh, ya. Cari orang yang bernama Latifah."
"Apa? Banyak orang yang bernama Latifah, Nyonya."
"Yang berhubungan dengan Collins, boddoh!" Miranda geram hingga kembali mengepalkan tangannya.
"Ah ya, ba-baik, Nyonya."
****
Tengah malam Collins menyalakan kembali ponselnya. Di situ ia melihat sang ayah mengirim pesan. Collins membukanya. Hardyn mengirim bukti transfer. Collins masih bingung apakah ia harus bahagia atau bersedih karena semua berjalan dengan semestinya. Setidaknya besok ia sudah bisa menyelesaikan tugasnya.
Setelah mematikan kembali ponsel, Collins berusaha tidur. Memang tidak mudah, tapi harus. Matanya selalu saja ingin menangis.
Aida membuat ia mengenal banyak hal. Termasuk cinta. Namun cinta yang tak bisa dimiliki.
Collins tahu, semenjak ibunya meninggal ia tak lagi bisa memiliki kebahagiaan seutuhnya karena itu semu. Tidak ada yang abadi. Juga pertemuannya dengan Aida. Apa memang Tuhan sengaja membuat hidupnya dalam kehampaan? Namun Aida tidak membuat hidupnya hampa. Juga ibunya. Apa ia memang ditakdirkan untuk selalu berjuang sendirian?
'Ya Allah. Tuntun aku ke jalanmu, ya Allah. Kalau Engkau tidak bisa membantuku, mungkin aku bisa gila ....' Collins membiarkan dirinya menangis hingga ia tertidur karena kelelahan.
****
Pagi itu, suasana meja makan tidak begitu menggembirakan. Ada Ipah yang tidak biasanya ikut makan bersama. Ada enyak yang sesekali memperhatikan Collins dan babe yang khusu' dengan kopinya. Collins makan nasi goreng dengan pandangan menghindar tapi ia tak nyaman. Belum sampai setengahnya, ia sudah berhenti makan.
"Eh, kenape kagak dihabisin? Dosa, Bara! Makan gak habis!" omel enyak.
Collins tak jadi berdiri dengan wajah yang serba salah.
"Habisin! Mau nambah dosa apa lu!"
Collins terpaksa meneruskan. Ia kembali menyendok nasi goreng ke mulut.
"Kapan lu pulang?"
Collins tersendak hingga terbatuk-batuk mendengarkan pertanyaan babe.
"Abang pegimane sih? Anak makan kok diajak ngobrol?" Kini enyak memarahi babe. Ia menyodorkan segelas air putih pada Collins.
Bersambung ....