29. Permintaan

1172 Kata
Aida kemudian menelepon pamannya. "Katanya, mereka akan ke sini," sahutnya ketika menutup telepon. Collins sempat berfikir sejenak ketika Aida menelepon sang paman. "Mbak, bila kita menikah, kamu ingin melakukan apa?" "Mmh? Maksudmu, untuk masa depan kita?" "Iya." Pikiran Aida menerawang. "Sebenarnya aku ingin meneruskan pekerjaan orang tuaku dulu, membuat peralatan keramik. Piring dan mangkuk, kalau aku bisa melihat lagi." "Kamu tidak mau mengajar?" "Aku masih tetap ingin mengajar, tapi aku ingin punya usaha sampingan. Punya toko yang jual hasil karya keramikku, seperti toko piring dan mangkuk porselen." "Tapi kalau tinggal di sini kurang laku. Bagaimana kalau tinggal di kota?" "Ya, yang tidak jauh dari sini agar bisa tetap mengajar." 'Berarti aku harus beli toko dekat dengan pusat kota.' "Itu saja?" "Iya. Kenapa Abang bertanya?" "Tentu saja Abang ingin memberikan untuk maskawin kita." Collins memberi senyuman walaupun Aida mungkin tak bisa melihatnya. "Abang ...." Wajah Aida tersipu-sipu. Ia masih saja tak percaya, ia akan menikahi anak orang kaya. Bagi pria ini, uang operasi mata tidak berarti apa-apa? Sebenarnya, seberapa besar harta kekayaan miliknya? Bermimpi saja tidak, bisa punya calon suami orang kaya. Sebentar lagi, ia akan menjadi Nyonya Bara. 'Eh, siapa nama belakangnya?' "Eh, Bang. Nama belakangmu apa?" Collins terlihat panik. "Eh, kamu tidak perlu berpikir macam-macam. Kamu istirahat saja dulu. Kita tunggu paman dan bibimu datang, ya." Ia menarik selimut menutupi tubuh Aida. Sang wanita mau tidak mau merebahkan kepalanya ke belakang. "Banyak-banyak istirahat ya, jangan berpikir macam-macam. Biar Abang yang urus semuanya." "Terima kasih, Bang." Aida menyentuh tangan Collins. "Sebenarnya, aku penasaran ingin melihat wajah Abang." Collins tertegun. Tanpa terasa kedua bola matanya tergenang. Kenapa ini bukan menjadi momen mengharukan sepasang kekasih tapi malah momen mengharukan sebuah perpisahan? 'Mbak, yang tegar ya. Abang tak bisa lagi berada di sisimu.' **** Babe heran ketika melihat motor yang dikendarai Collins tidak singgah ke toko melainkan lewat begitu saja menuju ke arah rumah. Ada apa gerangan? Ipah juga terkejut ketika melihat Collins siang itu sudah pulang dan langsung pergi ke kamar. Bahkan Collins lupa mengucapkan salam. Ipah dan Enyak yang sedang makan siang terlihat saling pandang dengan tatapan keheranan. "Kenape adek lu, Pah? Kesambet? Kek gak lihat kita ade di sini aje." tanya enyak bingung. "Ngak tau, Nyak. Ape, lagi gak enak badan kali, Nyak," duga Ipah. "Coba panggil sini adek lu. Mau makan, kagak?" Ipah menurut. Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar Collins. "Baraa ... makan gak?" "Udah!" teriak Collins dari dalam kamar. "Udeh, Nyak." Lapor Ipah. "Ya udeh." Mereka kembali makan. Collins sebenarnya tengah melepaskan segala perasaan yang sedari tadi ditahannya. Tetap saja sesak, walau ia telah menangis tanpa suara. Ia tengah duduk di kursi menghadap meja dan menggenggam tasbih yang tak pernah sempat ia kembalikan. Mungkin sudah saatnya ia kembalikan agar tidak ada lagi barang kenangan yang mungkin membuatnya ingin kembali pada Aida. Kini strategi apa yang harus ia ucapkan agar ayahnya mau mengirimkan uang itu untuk operasi Aida. 'Eh, tapi jumlahnya ....' Ia berpikir sejenak. 'Ah, aku harus mencari toko dulu buat Aida.' Dengan cepat ia menghapus air mata, dan kembali keluar. "Nyak, pergi dulu. Assalamualaikum." Kembali ia mengambil helm yang ia letakkan di ruang tengah. Kembali keduanya melihat heran pada Collins karena lupa mencium tangan enyak, walau telah memberi salam. Setergesa-gesa itukah sampai lupa kebiasaan yang seharusnya? "Enyak rasa, adek lu emang bener kesambet, kayaknye ...." Enyak tak berkedip menatap Collins pergi. **** Collins mendatangi beberapa toko yang berada di lokasi strategi yang letaknya lebih dekat ke kota. Ia menemukan sebuah toko yang berdempetan dengan sebuah rumah yang keduanya dijual dan masih baru. Collins tertarik dengan rumah dan toko ini. Setelah bernegosiasi, ia bersiap menelepon ayahnya. Saat itu Hardyn tengah di kantor mengecek berkas ketika sang sekretaris menelepon. "Pak, anak Bapak menelepon." Suara dari telepon di atas meja. Hardyn mengerut dahi. "Siapa? Nero? Untuk apa dia iseng meneleponku? Hah ... Kurang kerjaan," gumamnya kesal. "Bukan, Pak. Ini Collins." Hardyn terkejut. "Apa?" Dengan cepat ia mengangkat telepon dan menyambungkan. 'Eh, apa benar dia?' Tiba-tiba ia ragu. "Halo ...." Hardyn mencoba memastikan. "Dad ...." "Dari mana saja kamu! Kamu ingin orang tuamu ini darrah tinggi, hah?! Ayo, pulang! Daddy sudah tidak berselera main petak umpet lagi! Kamu bukan anak kecil lagi, Collins!" Hardyn mengeluarkan seluruh emosinya ketika mendengar suara Collins. "Dad ...," ucap Collins pelan. Ia tak tahu harus mulai dari mana. Ia juga sebenarnya tengah merindukan ayahnya. "Apa?!" "Aku minta uang." "Aku akan berikan apapun yang kamu mau, tapi kamu pulang!" Hardyn penasaran dengan keadaan anaknya saat ini dan ingin segera bertemu. "Kirimkan dulu uangnya. Nanti aku pulang," ucap Collins pelan. "Collins!! Kamu tak capek bersembunyi terus di situ, hah?! Kau ingin Daddy-mu ini matti berdiri?!" Kembali emosi Hardyn tak terkendali. Padahal ia sangat merindukan Collins. "Tolong uangnya ...." Suara Collins memohon seperti hampir menangis. "Ya sudah, iya! Kau butuh berapa? Tapi setelah ditransfer kamu pulang! Aku tidak butuh alasan lagi!" Hardyn mulai lemah mendengar suara anaknya yang mencurigakan. Ia takkan bisa tenang sebelum melihat sendiri keadaannya. Collins tahu, sekeras apapun ucapan ayahnya, pria bule itu sebenarnya mengkhawatirkan dirinya. "Dua milyar, Dad. Aku butuh dua milyar." "Apa?" 'Untuk apa uang sebanyak itu? Apa Collins tengah terlibat masalah? Hei, kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya? Tapi untukku uang itu tidak ada artinya. Apa aku berikan saja uang itu?' "Apa kau sedang ada masalah?" "Katanya ... tidak butuh alasan," protes Collins dengan tanpa tekanan. "Ok, baiklah, tapi bagaimana Daddy tahu kalau kamu tidak berbohong? Kamu tidak akan membawa lari uang itu lalu kabur lagi, 'kan?" "Aku pasti pulang Dad. Transfer saja uangnya. Kalau tidak, aku tidak akan pulang. Aku bisa, pinjam dengan temanku kalo begitu." Hardyn kelimpungan. "Ok, ok, ok. Daddy akan transfer. Ke mana Daddy harus transfer?" "Nanti Collins telepon lagi." "Eh, Collins. Tunggu ...." Hardyn berusaha menahan. "Nanti hubungi Daddy ke ponsel, ya." "Aku tidak hapal ponselmu, Dad." "Bagaimana dengan ponselmu? Daddy catat." Hardyn mengambil pena dengan terburu-buru. Ia begitu panik. Collins tampaknya akan mengakhiri sambungan telepon dan Hardyn begitu takut, bagaimana kalau tiba-tiba Collins berubah pikiran. "Tidak usah, Dad. Kalau mau mengelabuiku, aku tidak akan pulang," ancam Collins. Ia mengira ayahnya takkan mengiriminya uang tapi menangkap dan membawanya pulang seperti biasanya. "Bukan begitu maksud Daddy ...." Hardyn menghela napas. Ia merasa bersalah. Ia tahu posisinya kini, ia tak lagi bisa mengatur Collins. "Begini. Bagaimana kalau saat kamu mencari Daddy, Daddy tidak ada di tempat? Begini saja. Kamu catat nomor telepon Daddy. Jadi, kalau kamu telepon lagi, misalkan nanti malam, Daddy bisa langsung mengangkat teleponmu. Bagaimana?" Collins setuju. Ia mencatat nomor telepon sang ayah. Sedikit lega. Sang ayah tidak lagi otoriter, tapi itu mungkin karena mereka berjauhan. Hardyn tak bisa mengendalikan dirinya lagi dan itu membuat Collins senang. **** Collins pulang dan melihat babe di meja makan yang letaknya memang dekat dengan kamarnya. Yang ia tidak tahu, babe sedang menunggunya. "Bara, ke sini dulu." Babe menepuk-nepuk meja makan di hadapan. Collins menurut. Ia menarik kursi dan duduk. Terlihat Ipah mengintip dari balik dapur. "Kenapa kamu gak ke toko?" Collins menunduk. "Katanya, babe suruh aku bicara dengan orang tuaku." Babe terlihat senang. "Terus?" Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN