Collins memejamkan mata. 'Bagaimana caranya aku menghilang jika aku sangat mencintainya? Sanggupkah aku menghilang dari sisinya?' Kini ia memutar otak bagaimana cara lepas dari Aida. 'Haruskah Abang menjadi orang jahat dulu dan kau maki, atau Abang menghilang saja?' Ia membuka matanya.
Dilihatnya Aida tengah mengurut dahi. "Mbak, kamu kenapa?"
"Kepalaku sakit."
"Pusing? Mbak udah sarapan, 'kan?" Collins berubah cemas.
"Udah ... tapi ini sakit." Dibukanya kedua mata menghadap Collins. Kedua bola mata itu seperti tengah berkaca-kaca. Sepertinya ia tengah menahan nyeri yang tidak biasa. "Bang, aku mau ke dokter," rengeknya.
Collins bisa merasakan ada yang tak beres dengan Aida. Ia teringat ada rumah sakit dekat tempat itu. Dengan segera ia berdiri dan menggendong Aida dengan kedua tangannya.
"Bang!" Wanita itu terkejut dan berpegang pada bahu Collins karena takut jatuh.
"Tenang saja Mbak, kita akan segera ke sana!" Collins berlari ke arah motor dan mendirikan Aida di sana. Keduanya kemudian naik motor.
****
Collins syok. Untung mereka cepat sampai di rumah sakit, karena setelah itu, Aida pingsan. Wanita itu menjalani serangkaian pemeriksaan yang membuat Collins menunggu mondar-mandir di depan UGD. Setelah cukup lama, ia dipanggil dokter ke ruang praktik. Seorang dokter pria paruh baya yang botak di bagian atas kepalanya dengan rambut setengah memutih, menunggunya dengan wajah serius. "Anda siapanya ya?"
"Calon suaminya, dok," sahut Collins.
Pria itu mengerucutkan mulutnya. "Pantas aku tak mengenalmu. Kalau gak salah, pasien ini punya bibi. Bukan begitu?"
Collins mengerut dahi. "Apa dokter mengenal bibinya?"
"Eh, bukan begitu. Aku ingat pasien ini dulu pernah ke dokter dengan keluhannya yang sama tapi tidak diambil tindakan. Apa kali ini tindakannya akan sama? Ini kesempatan terakhir lho!"
Collins semakin penasaran. "Kesempatan apa ya, dok?" Tiba-tiba pikiran buruk terlintas di kepala. Netranya membulat sempurna. "Jangan bilang dia ...."
"Tidak, justru sebaliknya." Namun dokter itu terlihat ragu-ragu mengatakannya. "Eh, apa aku katakan saja padamu? Mungkin kamu bisa membantu."
"Apa itu, dok? Katakan apa saja, aku akan usahakan!" Collins sudah berada di ujung frustasi. Mendengar Aida buta karenanya saja sudah stres, apalagi bila mendengar wanita itu akan punya penderitaan lain karena efek samping perbuatannya. Kalau ia tak sanggup membantu, rasanya Collins ingin matti saja saat itu juga.
"Ini kesempatan terakhir. Dia harus operasi atau akan buta selamanya."
"Apa?" Antara senang dan gundah Collins terdiam sejenak. 'Operasi? Tapi ....'
"Harus segera, sebab ia tak punya waktu banyak."
"Kapan itu, dok?"
"Paling lambat tiga hari lagi. Aku harus mempersiapkan ruang operasi dan menyediakan dokter ahli." Dokter itu menyebutkan biaya operasi yang fantastik. Uang yang tidak mungkin bisa dikumpulkan oleh seorang tukang ojek bahkan ditambah dengan gaji Aida sebagai guru sekalipun. Siapa pun takkan bisa membantunya kecuali satu orang saja, Hardyn Grow, sang ayah. Mau tidak mau Collins harus menukarnya dengan kembali ke rumah. Itu jalan satu-satunya. Mungkin dengan ini mereka bisa saling melupakan dan tidak perlu bertemu lagi.
Mungkin ini satu-satunya cara Collins menembus dosa-dosanya. Kalau bukan karena sang ayah, Collins sudah di penjara sejak dulu dan kalau bukan ayahnya juga, ia tak bisa menolong Aida kembali ke kehidupannya yang terdahulu yang sehat dan normal kembali. Kini, hanya kepada ayahnya ia harus kembali. Terpasung dalam penjara emas yang sudah lama miliknya itu. Namun kini Collins lebih pasrah, demi kebahagiaan Aida. "Aku akan menyiapkan uangnya, dok."
****
Collins terkejut, saat membuka pintu, Aida telah siuman. "Mbak?"
Aida menatap Collins dengan dahi berkerut. Pria itu merasakan keanehan. Ia mendekat. "Mbak bisa melihatku?"
"Eh, tak jelas. Seperti keadaan rumah di malam hari saat matti lampu. Aku melihatmu tapi tak jelas. Gelap."
Collins mencoba duduk di tepi ranjang. "Kenapa Mbak gak bilang kalau Mbak bisa sembuh?"
"Eh, itu terlalu mahal. Kami tidak mampu." Aida yang tengah duduk di atas ranjang brankar menatap Collins. Ingin rasanya ia melihat wajah pria itu tapi apakah ia punya kesempatan?
Collins seperti bisa membaca pikiran Aida. "Kamu ingin melihat wajahku 'kan, Mbak?"
"Eh, untuk apa berkhayal jauh. Yang begini saja sudah sangat bersyukur," kata Aida, mengelak. "Kapan aku bisa pulang?" Ia mulai gelisah.
Collins meraih tangannya. Di satu sisi, ia ingin Aida tak pernah bisa melihat lagi agar ia tak mencarinya saat sembuh, tapi di sisi lain ia ingin wanita ini bisa melihat agar Aida mendapatkan lagi banyak kesempatan untuk jadi manusia normal dan memperbaiki hidupnya. Lalu ia harus pilih yang mana? "Mbak, aku bisa membantu Mbak kembali melihat."
"Apa?" Mata Aida lekat menatap Collins yang terlihat kabur. "Bagaimana caranya? Abang tidak melakukan hal-hal yang buruk, 'kan?" Ia mulai khawatir.
"Oh, tidak."
"Lalu?"
Collins sempat tenggelam dalam beningnya kedua mata jernih dan teduh milik Aida. Betapa ia sebentar lagi akan kehilangan kedua mata ini. Wanita ini bukan tercipta untuknya. Ia hanya singgah dan berhasil meruntuhkan semua bangunan hati. Runtuh bersama air mata darrah. Apa wanita ini menyadarinya?
Ia tak siap kehilangan karena kali ini perasaan ini ternyata telah berurat dan berakar dengan cepat tanpa ia sadari. Bisakah ia mengulang kisah hidupnya di lima tahun yang lalu?
Namun memang Collins tengah kehilangan pegangan saat itu dan bila waktu terulang kembali, tetap saja hal yang sama akan terjadi. Mungkin seperti itulah yang namanya takdir. Mereka memang tidak ditakdirkan bersama. "Aku akan minta tolong pada ayahku. Bukankah kamu ingin agar aku berbaikan kembali dengannya?"
Aida terkejut. "Oh, apa ayahmu akan membantu?"
"Ya, tentu saja." Collins berusaha meyakinkan, padahal ia sendiri ragu.
Namun Aida tampak mengerut kening. "Tapi bukannya kamu tidak mau pulang? Eh ... apakah ayahmu benar mau membiayai operasiku?" Aida baru ingat bahwa biaya operasinya sangat mahal. Apa orang tua Collins sanggup membiayai operasi mata di rumah sakit ini?
"Eh, maaf, aku belum cerita. Orang tuaku kaya. Untuk biaya operasi ini, itu bukan hal yang sulit."
"He?" Aida sulit mencerna. Orang tua Collins kaya? Bisakah ia mempercayainya? "Kamu tidak bohong 'kan, Bang?" Aida masih melongok.
"Masa Abang bohong sih?"
Aida hampir tak percaya ia mendapat calon suami orang kaya. 'Apa ini sungguhan?' Namun ia menyadari, pria itu tengah menggenggam tangannya cukup lama. Aida menarik tangannya pelan.
"Oh, maaf."
"Tapi ini, beneran, 'kan, Bang?" Aida memastikan. Mulutnya belum tertutup sepenuhnya.
Collins tersenyum lebar. "Mbak tidak percaya? Nanti setelah mata Mbak bisa melihat lagi, Mbak bisa melihat sendiri kebenarannya." Mata Collins terlihat sayu. 'Dan bila saat itu tiba, aku sudah tak ada lagi di sisimu.'
"Jadi?"
"Operasi ya?" Collins kembali meraih kedua tangan Aida yang berada di atas pangkuan. "Aku ingin kamu bisa sembuh dan menjadi orang normal."
Aida mengangguk. Pria itu mendekatkan wajah dan mencium kening sang wanita.
"Abang! Ih!" Aida seketika mendorong tubuh pria itu menjauh. Collins hampir saja jatuh ke belakang.
"Eh ...?" Collins tersadar. Ia telah berani mencium kening Aida padahal itu terlarang untuknya. Mereka belum menikah. Collins jadi teringat lagi ucapan babe soal ini. 'Yang ketiga adalah setan'. Wanita muslim yang baik seperti Aida, pasti merasa sudah melakukan hal yang tercela. "Eh, maaf, Mbak. Aku tak bermaksud ...." Ia melihat Aida merengut. "Iya, aku salah." Collins mengakuinya sambil menghela napas pelan.
"Jadi, kapan aku harus operasi? Apa ayahmu benar akan membiayai operasi ini?"
'Aku harus bisa membujuk ayah. Atau aku pikirkan cara lain. Pinjam pada temanku mungkin, tapi operasi ini harus terjadi.' "Coba Mbak telepon paman dan bibimu agar bisa menemanimu di sini. Aku diberi waktu tiga hari oleh dokter, jadi kamu terpaksa tinggal di sini."
Bersambung ....