"Ya, lu pan udeh kenal ame anak gua. Ape lagi? Ye pastinye langsung ngelamarlah!"
"Tapi, Be. Aye pan baru masuk kerja, Be. Belum ke kumpul duitnye." Arman beralasan.
"Ya udeh. Lu kumpulin dulu aje," sahut Babe santai.
Tepat pada saat itu Collins keluar. Ia pamit pada babe dan memakai helm. Collins naik motor.
"Nah, entu die bisa pacaran, Be," sahut Arman menunjuk Collins.
"Enak aje lu ngomong! Die ngojek itu, bukan pacaran!" Babe kembali mengomel.
Collins yang sedang memundurkan motornya tersenyum lebar. Ternyata banyak juga yang salah sangka terhadapnya, karena ia memang tidak ngojek di luaran. Ia hanya ngojek dengan Aida.
****
Motor Collins sampai ke depan kontrakan Aida. Ternyata ketika wanita itu turun, Collins meraih tangan Aida. "Mbak, aku boleh 'kan lihat si Mono?"
"Oh, iya." Sebenarnya Aida sedikit sungkan. Ia tak bisa mengusir Collins, karena pria itu ingin bermain dengan kucing yang mereka temukan waktu itu. Padahal itu kontrakan perempuan tapi Collins selalu punya cara untuk membuat Aida membiarkannya mengunjungi kamar. Pintu dibuka dan pria itu akan duduk di lantai dekat pintu.
Collins memang membuktikan ia hanya bermain dengan kucing itu. Setiap Collins datang, kucing itu akan mengitari kakinya. "Mono ...." Ia meraih kucing kecil itu dan duduk di lantai sambil memangkunya. Mono paling suka kalau punggungnya diusap Collins. "Kamu kasih makanan yang aku beli itu 'kan?"
"Iya, tapi ini bukannya mahal ya?"
"Ngak papa, biar bulunya bagus. Ini saja sudah terlihat ...."
"Bara!"
Collins memutar kepalanya ke arah pagar. Babe bergegas masuk. Ia tak sempat menghindari ketika tangan pria paruh baya itu menjewer telinganya ke atas. "Ahh ... Babe ...!"
"Pulang kagak lu! Jangan bikin malu babe! Udah babe bilang, masih bandel aje, ini bocah koreah!"
Collins terpaksa berdiri dan mengikuti babe. Sedang Aida sempat terkejut karena tidak tahu apa yang terjadi, tapi kemudian tersenyum menahan tawa karena lega melihat kedatangan babe.
"Mbak, aku pulang dulu!" teriak Collins sambil menahan nyeri di telinga. "Udah, Be. Malu dilihat orang," bisiknya pada babe.
"Mmh, tau malu juga lu! Tadi gak dipikir waktu sengaja ngelanggar larangan babe, hah?!" Mulut Babe kembali berkicau sambil melepas jewerannya saat telah keluar pagar. "Kalo lu tau malu, jangan pernah bikin kayak gini lagi. Ngerti lu!"
"Iye, be. Maaf," ujar Collins dengan nada menyesal. Ia mengusap telinganya yang memerah.
"Udeh, sekarang balik ke toko!" Pria paruh baya itu melangkah lebih dulu.
Babe memang sudah curiga. Beberapa kali setiap Collins mengantar Aida pulang ke kostannya, butuh waktu lama untuk balik kembali ke toko. Sedang setiap Collins mengantar Aida, pasti motornya lewat di samping toko. Jadi tidak mungkin babe tidak penasaran dengan apa yang dilakukan Collins di kontrakan sang wanita hingga membutuhkan waktu sekian lama untuk kembali.
Collins mengekor babe dengan motornya dengan kepala tertunduk.
****
Jalan tak selamanya mulus. Terkadang ada batu kerikil atau bahkan topan badai yang akan menyerang. Namun, siapkah mereka dengan sebuah fakta yang memaksa mereka untuk berpisah?
"'Kan aku udah bilang, Bang, tapi Abang gak mau denger!" Kembali Aida menasehati.
"Iya, maaf. Aku sebenarnya ingin memelihara kucing, tapi orang rumah gak peduli. Terutama Enyak, musuhan banget sama kucing dan tikus di dapur!"
Aida tertawa. "Ya, sudah. Yuk!"
Motor sampai ke sebuah tempat pekuburan umum. Daerahnya masih asri karena banyak pohon besar yang rindang. Setelah membeli bunga tabur di depan jalan, motor kemudian parkir di sebuah jalan kecil beraspal, lalu keduanya berjalan sedikit ke dalam. Mereka berhenti pada sebuah kuburan.
Batu nisannya sudah teramat tua tapi masih bisa terbaca nama dari pemilik nisan itu. Aida memastikannya setelah menyentuh nisan itu. Collins membantu membersihkan kedua kuburan yang berdampingan.
"Assalamualaikum, ibu, ayah. Perkenalkan ini Bara ya, Yah. Ibu. Semoga ayah dan ibu merestui kami untuk menikah," sahut Aida di sela-sela membersihkan dan memberi bunga pada kedua makam. Kemudian ia berdoa, diikuti Collins. Setelah itu ia mulai bercerita. "Waktu kecil, aku sering lihat ayah membuat barang pecah belah dari keramik. Ibu kadang membantu setelah memasak. Aku juga pernah membantu mereka membuat keramik, tapi sekarang sudah tidak bisa."
Collins melongok. "Du-dulu Mbak bisa melihat? Sejak kapan Mbak buta?"
"Lima tahun yang lalu. Aku kecelakaan bersama paman dan bibiku. Mereka orang tua Aning. Keduanya meninggal di tempat kejadian." Aida menunjuk sepasang kuburan lainnya, tak jauh dari sana.
"Li-lima tahun yang lalu?" Seketika jantung Collins berdetak kencang.
Aida membawanya ke sana. Setelah memastikan nisannya, sang wanita bicara lagi. "Lihat, ini tanggal 22 Desember lima tahun yang lalu. Mereka meninggal tepat di hari ibu."
Collins membaca kedua nisan itu. Keduanya meninggal di hari yang sama. Ia yang tengah berjongkok, syok hingga terjatuh ke belakang. Kenapa dunia begitu tak adil baginya? Kenapa?
Terbayang lagi kejadian lima tahun yang lalu dan Collins ingat betul, hari itu adalah hari di mana sang ayah memberitahu bahwa ia akan menikah dengan sekretarisnya. Padahal sang ibu baru sebulan meninggal. Ia sangat kecewa sehingga ia mabuk-mabukan di sebuah bar.
Kecelakaan itu terjadi ketika ia pulang dalam keadaan mabuk berat dan memaksa membawa mobil. Ia bahkan tidak tahu, bagaimana kecelakaan itu terjadi dan siapa korbannya. Yang ia tahu dari sang ayah, semua korbannya tidak ada yang selamat. Sejak itu Collins tak lagi berani menyentuh minuman keras.
Jadi ... apa ia sebenarnya yang menyebabkan Aida buta? Juga penyebab kedua orang tua Aning meninggal? Manusia jahat seperti dirinya, apa pantas menikahi wanita sempurna seperti Aida? Collins menatap wanita cantik di depannya itu dengan pandangan nanar.
'Apa yang akan dikatakannya bila dia tahu, akulah penyebab segala penderitaannya? Harusnya Aning punya orang tua, dan terlebih, Mbak Aida masih punya paman dan bibi satu lagi yang bisa merawatnya. Aku seorang pembunnuh, harusnya aku di penjara!'
Collins menatap kedua tangannya yang gemetar. 'Dengan tangan ini, aku sudah merenggut kebahagiaan mereka. Masih pantaskah aku bersanding dengannya? Mendapatkan maaf saja dari mereka, harusnya aku sudah sangat bersyukur. Mbak Aida pasti bisa gilla bila dia tahu dengan siapa dia akan menikah.'
Ia menatap Aida dengan wajah sedih. Wanita itu tak tahu apa yang terjadi karena sibuk membersihkan rumput liar yang menjalar di atas kedua kuburan itu. Kemudian ia memberi bunga tabur yang tersisa.
"Bang, tolong bukain." Aida menyodorkan botol air mawar pada Collins.
"Eh, iya." Collins berusaha memutar tutupnya dengan sedikit tekanan dan terbuka. Ia memberikannya pada Aida.
Saat Aida menuang ke kedua kuburan itu, Collins menatap wanita itu lekat. 'Ya Allah, apa karena ini kamu mempertemukanku dengannya? Tapi kenapa kau lekatkan juga rasa sayang dan cinta ini padaku, ya Allah. Apa ini untuk menghukum semua kejahatanku?'
Collins mengikuti Aida mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Namun ia tak sanggup berdoa karena air matanya sudah terlanjur menetes.
'Kenapa tidak kau biarkan saja aku matti saat itu juga? Aku yang sudah kehilangan tempat untuk pergi, mengapa kau buat menjadi pendosa seperti ini? Apa salahku, ya Allah? Tidak cukupkah cobaan yang kau berikan sehingga kau menambahnya menjadi seorang pembunuh? Kenapa tak kau biarkan saja aku menderita dan membusuk di penjara agar segala kesalahanku bisa termaafkan? Kalau begini, bagaimana lagi caranya aku akan menghadapkan wajahku pada Mbak Aida, selain berlari dan menghilang. Aku tak sanggup menghadapi ini semua, ya Allah. Menghadapi kemarahannya ketika ia menyadari, siapa sebenarnya orang jahat yang telah merusak hidupnya.'
Bersambung ....