26. Menemani

1173 Kata
Collins menghela napas pelan. Setidaknya babe mau menikahkannya. Kalau tidak, Aida pasti curiga. Ia dan babe tidak ada pertalian darah dan kalau babe tidak mendukungnya, posisinya akan semakin sulit. "Seenggaknya lu udah dapet restu dari keluarga ustadzah, Enyak udah lega." "Mmh." Collins mengangguk. Ia tak perlu lagi memaksa babe. Mulai sekarang ia harus mulai bekerja keras dan menabung untuk kepentingannya sendiri. Ia tak gentar. **** "Bara, lu mau ke mane?" Collins yang sudah melangkah ke luar toko, berhenti dan menoleh pada babe. "Main ke tempat Mbak Aida." "Gak boleh!" Collins merengut. "Ck, kenapa sih, Be? Kan cuma sebentar. Lagi kosong ini ...." "Gak boleh! Denger kagak lu? Sekali babe bilang gak boleh, gak boleh!" "Kenapa sih? 'Kan aku gak pacaran? Cuma main sebentar aja. Aku juga udah niat nikah juga sama ustadzah." Collins memicingkan mata memberikan argumen. "Gak ade! Balik!" Tegas babe. Collins menghentakkan kakinya ke lantai, karena kesal. "Kenapa sih, apa-apa gak boleh!" "Lu harusnye jaga harga dirinye sebagai perempuan, bukan merusaknye." "Babe ngomong apa sih, Bara gak ngerti!" "Entuh pan kontrakan perempuan, Baraa ...! Duh, gemes. Babe lempar juga nih ame sendal jepit." Pria paruh baya itu setengah membungkuk, menakut-nakuti. "Ye lu tau pan, buat perempuan, bukan buat elu!" Collins akhirnya kembali dengan wajah dongkol. "Padahal aku cuma mau main sama si Mono aja," gumamnya. "Siape entuh Mono?" "Kucing, Be! Kucing!" teriak Collins kesal. "Kenapa segalanya dicurigain sih?" ucapnya bermonolog. "Emang kalo di sana ade kucing doang gak ade ustadzah, lu mau nongkrong lama di sono? Ape pun alesannye, gak boleh! Inget, Mpok lu juga perempuan. Ape pikiran lu kalo die main di kamar sama pacarnye?!" "Main di kamar?" Collins mengerut dahi. Barulah ia tahu maksud perkataan babe. "Oh, Bara gak gitu, Be. Pintu kamar ustadzah nanti dibuka." "Mmh! Sape yang percaye ...." Babe bertelak pinggang dengan membuang wajah ke samping. "Masa Babe gak percaya sih, sama anak sendiri?" "Kapan gue ngelahirin elu? Tuh, emak lo tuh!" "Eh, iya ...." Collins hampir tertawa. "Pokoknye halalin dulu anak orang, baru main kamar-kamaran. Mau sampai tlekdung kek juga gak pape." Collins tersenyum dengan ocehan babe. "Babe ... Bara 'kan gak gitu." Mata babe melotot. "Mending jangan, daripade kepercayaan babe lu rusak! Babe gak perlu tau, lu bisa dipercaye atau kagak karena lebih baek cari aman. Awas aja lu coba lagi, sendal babe bisa melayang ke jidat lu biar jenongan dikit, ngerti lu!" Collins terkekeh. **** "Ke mane lagi sih, lu? Toko mau tutup, ade aje alesan lu!" Babe melihat Collins kembali keluar toko. "Itu, Be. Ustadzah berdiri di pagar sekolah sama muridnya, dari tadi gak pergi-pergi. Bara mau tanya ada apa." Collins menunjuk ke arah sekolah SLB yang ada di seberang. Memang terlihat Aida dan seorang murid laki-laki berdiri di depan pagar. Padahal cuaca panas walaupun sudah mulai sore. "Ye udeh, pergi dah, sono! Biar babe nyang tutup tokonye." Collins menyeberang. Ia melihat Aida dan muridnye bercakap-cakap. "Apa kamu tidak telepon?" tanya Aida khawatir. "Aku sudah telepon, tapi kata Mami, suruh tunggu di pintu gerbang," sahut sang murid yang matanya hampir seluruhnya putih. Wajahnya seperti anak terbelakang. Suaranya tidak jelas, tapi beruntung bisa bicara. "Tapi dari tadi sepertinya tidak ada yang datang. Apa kamu tidak bisa pastikan sekali lagi, di mana Mamimu berada?" Wajahnya tampak sedih. "Mami gak suka ditelepon terus-terusan. Nanti dia marah-marah." Aida menyentuh bahu sang murid karena iba. "Ya sudah, ibu temani ya?" Ia mendengar langkah kaki. Aida sangat hapal suara sendal pria itu. "Bang, kamu ke sini?" "Eh, bagaimana Mbak tahu itu Abang?" Collins terkejut. "Langkah kakimu, Bang. Cara jalanmu, aku tau." "Sedang apa Mbak di sini?" "Ini. Menemani anak murid. Dia belum dijemput orang tuanya padahal sudah sore. Sekolah juga mau tutup, kasihan." "Aku bisa mengantarnya, bila dia tahu alamat rumahnya." "Masalahnya ibunya sudah di jalan, katanya." "Oh ...." Akhirnya Collins menemani keduanya di sana. Namun tak lama, mobil orang tua murid itu datang. Wajah seorang wanita muncul ketika kaca pintu belakang terbuka. Wanita itu berkulit putih, bermata sipit dengan tubuh sedikit gemuk menatap ke arah mereka. Dari pakaiannya, wanita itu terlihat orang kaya. "Rendy, ayo pulang!" teriaknya. Murid yang bertubuh sedikit gempal dan berkulit putih itu, meraih tangan Aida dan menciumnya. "Assalamualaikum, Bu." "Waalaikumsalam." Anak laki-laki itu mendatangi mobil. Sang wanita kaya menatap ke arah Aida. "Lain kali tak usah ditunggu, Bu, anak Saya. Nanti Ibu komplen lagi sama Saya, kenapa telat jemput. Kalau sampai malam Saya belum juga jemput, biarkan saja anak Saya di situ. Itu urusan Saya dengan anak Saya. Ibu tidak usah ikut campur!" Wanita itu bergeser ke samping ketika sang anak datang membuka pintu. Setelah anaknya masuk, mobil itu segera pergi. "Sopan sekali ibu itu, ya! Sudah dibantu ditemani anaknya menunggu, eh, dia tidak bilang terima kasih!" Collins mendengus kesal. Aida menyentuh lengan pria itu. "Jangan marah-marah, Bang. Kasihan anaknya." Mata Collins melotot, kesal. "Dia itu ya ...." Ia tak bisa melanjutkan. Ia mendengar dengan jelas kata-kata Aida barusan hingga ia menekan amarahnya. Collins mengepal erat tangannya karena geram. "Hh ... kok ada orang tua yang seperti itu ya, sama anaknya sendiri!" "Terima kasih ya, Bang. Sudah temani aku di sini." Collins menoleh. Senyum wanita itu mencairkan amarahnya seketika. "Mmh." "Bang." "Ya?" "Bisa temani aku ke kuburan?" "Kuburan?" "Iya. Sabtu depan aku mau ke kuburan orang tua dan saudara." "Bara!" terdengar teriakan babe dari seberang jalan. Keduanya menoleh. Collins memutar kepalanya ke arah Aida. "Oh, ya. Bisa! Kamu mau pulang?" "Abang pergi aja dulu, aku mau masuk sebentar ke dalam." "Ya udah, Abang pulang ya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." **** "Mpok, kalo beli mukena yang bagus tapi murah sekitar berapaan, Mpok?" tanya Collins yang sedang memperhatikan Ipah menjahit dengan mesin jahit di sebuah meja di sudut ruangan. "Mmh ... kalo bajet kecil, mending Mpok bikinin aje, gimane?" Ipah berhenti menjahit dan menoleh. "Oh, bisa bikin juga?" Collins terkejut. "Oh, jelas bisa dong. Selama bisa dijahit, Mpok bisa bikin. 'Kan bentar lagi kursus Mpok selesai. Mpok udah bisa jadi penjahit deh!" "Mpok mau buka jahitan? Di rumah?" "Ya ... mulai dari yang kecil dululah ...." Wanita itu tersenyum. "Hebat, Mpok! Aku dukung. Aku jadi pelanggan pertamanya ya." "Boleh." "Ya udah Bara cari duit dulu buat bikin mukenanya. Bikin yang bagus ya, Mpok!" "Semangat buat lu. Biar cepet nikahnye lu ame ustadzah Aida tersayang lu itu." Ipah menepuk-nepuk bahu Collins. Collins tersenyum lebar. "Amin." Keduanya berpandangan sambil tersenyum. **** Pria muda itu tersenyum ke arah babe. Babe memasang wajah datar membuat sang pria sedikit tegang. "Jadi kedatengan lu ke sini buat ape?" tanya pria paruh baya itu pada Arman. "Eh, berarti aye udeh bisa ngajak Ipah jalan dong, Be, ye?" Arman tersenyum. "Kate siape?!" Arman langsung terdiam mendengar bentakan babe. Selain ketua RT, ia tak bisa sembarangan karena babe Ipah guru silat, dan yang lebih penting lagi pria itu adalah ayah Ipah, calon mertua. Ia sulit mengajak Ipah karena tersandung aturan yang dibuat pria ini. Padahal Arman dan Ipah berteman sejak kecil, tapi sejak SMP Ipah hanya boleh berteman dengan sesama perempuan. Sejak itulah Arman mulai sadar, sudah menyukai gadis periang nan barbar ini sejak lama. "Jadi pegimane, Be?" Ia menggaruk-garuk rahangnya karena bingung. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN