"Karena tak jauh, sebaiknya ada orang yang disebar di sekitar pinggir Jakarta, kalau ingin cepat membuahkan hasil. Sementara, Saya sudah meletakkan kembali barang-barang anak Anda di lokernya," sahut pria berjaket hitam.
"Aku sudah melakukannya tapi tak berhasil! Aku heran, kenapa orang-orang sudah disebar tapi seolah anakku hilang ditelan bumi."
"Sabar, Tuan. Perkiraan Saya pasti gak salah, hanya saja ...."
"Hanya saja apa?" Hardy melirik tajam ke arah pria itu.
"Mungkin anak Anda bertemu seseorang yang bisa menyembunyikannya," ucap pria itu hati-hati. "Jangan berpikiran buruk ...."
"Aku pasti berpikiran buruk! Aku bisa gila!" Hardyn menendang meja di depannya dengan keras. Deretan cangkir yang ada di atasnya ikut bergetar.
Miranda ikut mendengarkan. Entah kenapa ia juga khawatir. 'Aku juga harus menyewa orang, kalau begitu!'
****
"Mbak juga mau mengumpulkan kerang?" tanya Collins ketika ia melihat Aida membuka wadah berpenutup yang keluar dari dalam tasnya.
"Eh, iya. Aku ingin coba bikin prakarya nanti di sekolah, seperti yang akan dikerjakan para murid."
"Biar aku bantu!" Collins meraih wadah itu dari tangan Aida.
"Eh, tapi ...."
"Mbak ngak bakal bisa nyarinya," potong Collins. "Dia ada di pasir yang ada batu-batunya atau harus menggali pasir. Sementara kalau lewat bebatuan, Mbak pasti jatuh kesandung."
"Eh, tapi ...." Aida menggigit bibir bawahnya. Ia tak mau menyusahkan pria itu.
"Mbak duduk aja dulu di sini, nanti aku carikan sampai penuh. Mbak mau yang apa? Kerang? Rumah keong?"
"Terima kasih ya." Aida tersenyum walau tak rela.
Collins tak sengaja melihat Pak Aji tak jauh dari sana memperhatikan Aida. Ia kembali kesal. Collins bisa begitu dekat dengan Aida karena Aida sendiri yang mengaku kalau Collins adalah kerabatnya.
Pria itu entah kenapa kembali tersulut cemburu. 'Sudah berapa lama Pak Aji kenal Aida? Apa ... dia pernah mengungkapkan rasa sukanya?' Hati Collins memanas. "Mbak," katanya saat mendekatkan wajahnya pada Aida. Wanita itu terkejut karena ia bisa merasakan napas Collins yang hangat.
"Ini gak gratis ya." sahut Collins setengah berbisik.
"Bayar berapa?" Aida bergerak sedikit mundur karena tak nyaman terlalu dekat.
"Aku hanya minta Mbak untuk mendengarkan curahan hatiku."
"Hah?" Mata Aida melebar. 'Curahan hati? Apa maksudnya ini? Curhat, begitu, maksudnya? Tentang apa? Apa dia ada masalah?' Aida kemudian menganggukkan kepala dua kali.
Melihat sang wanita menyetujui, Collins lega. Ia berdiri lalu mulai mencari kerang dan rumah keong atau umang-umang. Udara pantai siang itu sedikit sejuk dengan matahari yang tak terlampau panas. Guru-guru banyak memperhatikan para murid sambil bersantai.
Collins sangat antusias. Ia berburu kulit kerang dan rumah keong sampai ke mana pun. Memperhatikan di mana rombongan murid terbanyak, mencari di sela bebatuan, bahkan sampai ke pinggir pantai. Ia akhirnya dapat memenuhi wadah itu dalam waktu tidak sampai satu jam. Pria itu kembali dengan wajah senang. Sempat ia melihat Aida menerima minuman teh kemasan yang dibagikan Pak Aji ke tempat Aida duduk.
"Mbak, ini sudah." Collins menyerahkan wadah itu pada Aida.
Sang wanita memeriksa dengan merabanya. "Oh terima kasih." Namun saat ia mencoba menutupnya, Aida kesulitan.
"Sebentar, Mbak." Collins mengambil lagi wadah itu. Ternyata kepenuhan. Setelah mengurangi satu rumah keong, wadah itu bisa ditutup. Collins mengantongi rumah keong yang diambilnya. "Udah, Mbak." Ia menyerahkan lagi wadah itu pada Aida.
Gantian, Aida mengulurkan tangan memberi teh kemasan dingin pada sang pria.
Collins menerima dan duduk di sampingnya. "Terima kasih." Ia membuka tutup botol dan meneguknya sedikit. Keringat mulai mengucur di dahi karena udara mulai panas. Keduanya duduk di atas pasir yang mengarah ke laut. Tempat duduk keduanya agak jauh dari rombongan para guru, karena Aida memang tak suka bergosip.
"Ayo cerita, Bang, ada masalah apa?" ujar Aida bersemangat. Walau duduk di samping Collins, ia berusaha menepis rasa tidak nyamannya. Apalagi ia sudah berbohong pada para guru kalau Collins adalah keluarganya. Ia hanya mengikuti cara pria itu, saat berusaha menghindar dari muridnya waktu itu. Sekarang, ia hanya tak ingin mendengar mulut usil guru-guru hingga mengakui Collins sebagai kerabatnya.
Collins menutup botol minuman kemasan di tangan. "Aku ...." Ia berdehem sebentar. Collins terus memandangi murid-murid yang masih mencari cangkang kerang di pantai. "Suka padamu."
Aida terkejut. Kedua matanya melebar sempurna. Ia hampir tak percaya dengan pendengarannya.
Collins merasa kalau ia tak melakukannya dengan cepat, seseorang akan meraih perhatian Aida lebih dulu dan ia takkan biarkan itu terjadi. "Aku tahu Mbak pasti terkejut, tapi aku harus terus terang daripada terus berpura-pura. Tapi aku bukan tipe pemaksa. Bagaimana kalau kita berteman saja dulu?" Ia memutar wajahnya menatap wajah sendu yang terlanjur kaget akibat pernyataannya barusan.
"Eh, maksudnya ...." 'Tadi dia bilang suka ... tapi sekarang teman? Apa maksudnya itu ....'
"Maksudnya, aku hanya memberi tahu Mbak, kalau aku suka sama Mbak. Mungkin Mbak butuh waktu untuk mengenalku jadi kita berteman dulu. Aku bisa kok, menunggu."
Penjelasan gamblang itu tetap tak bisa membuat keterkejutan Aida berkurang. Hanya mengurangi rasa cemas. Lagi-lagi, ia tak bisa mempercayai orang karena kembali rasa cinta menutupi ketulusan. Adakah manusia yang benar-benar tulus? 'Tapi dia minta aku mengenalnya terlebih dahulu, aku harus bilang apa?'
Tiba-tiba seorang guru datang menghampiri. "Ayo, makan siang. Kita kumpul dulu."
Aida terpaksa berdiri dibantu Collins. Ia membersihkan sisa-sisa pasir yang menempel di rok panjangnya dan juga sepatu. Demikian juga pria itu. Kemudian mereka bergabung dengan para guru karena makan siang telah datang. Mereka membagikan nasi kotak itu pada para murid.
"Kalian itu lho, kok bisa bersaudara?" Seorang guru wanita mulai berbicara saat menyodorkan tumpukan nasi kotak pada Aida dan Collins.
"Apa?" tanya Aida terkejut.
"Kalian berdua itu padahal cocok kalau jadi pasangan. Yang satu cantik, yang satu ganteng. Apa di keluarga kalian keturunannya seperti ini semua? Bikin iri." Komentar guru itu lagi.
'Apa? Apa Bang Bara ganteng ya? Aning rasanya juga pernah bilang seperti itu', batin Aida.
"Iya. Padahal kalau dilihat-lihat, kalian berdua itu tidak mirip. Yang satu seperti orang Jepang, yang satu seperti orang Jawa," sahut guru wanita yang lain.
"Apa Masnya ada keturunan Jepang?" Seorang guru wanita yang berkaca mata bertanya pada Collins.
Collins yang sedari tadi diam hanya bisa tersenyum. Ia tidak ingin terlalu banyak bicara dan membuat sebuah kebohongan yang tak berujung. Setelah mengambil bagiannya, ia memilih menepi ke sebuah batu besar agar menjauh dari para guru. Lagipula posisinya saat ini adalah seorang supir sewaan, ia tak berhak berada di antara guru-guru itu.
"Mas, sendirian?" Tiga orang pelajar perempuan mendekatinya.
"Eh? Ada apa ya, Dek?" Collins terkejut.
"Mas katanya tukang ojek, ya? Boleh minta nomor teleponnya gak, Mas?" Salah satu dari mereka mendominasi percakapan. Kerudung gadis itu berkibar-kibar karena angin mulai kencang.
'Tahu dari mana mereka kalau aku tukang ojek?' "Eh, maaf ya? Saya jadi tukang ojek cuma sama Ustadzah Aida aja. Sebenarnya pekerjaan Saya juga banyak. Saya juga jaga toko." Collins mulai menyuap makanannya dengan tangan. Sejak ia tinggal dengan keluarga Betawi itu, Collins mulai pintar makan dengan tangan.
"Oh ... tokonya di mana Mas?" Gadis itu kembali bertanya.
"Oh, di jalan mawar."
"Boleh 'kan kita main ke sana?"
Collins memperhatikan gadis itu. Parasnya cantik dengan alis tebal. Tentu saja sekali tebak, pria itu langsung tahu apa maksudnya. "Itu toko sembako, Dek, bukan tempat jualan mainan."
Ketiga pelajar itu tertawa. Gadis yang sedari tadi ngobrol dengannya itu kembali bicara. "Kenapa gak kerja kantoran aja Mas, kayaknya Masnya gak cocok jadi tukang ojek."
Bersambung ....