15. Jahit

1161 Kata
"Oya? Bagus deh!" Idan kemudian mengajak Collins berkeliling. Dua kali putaran kemudian mereka kembali. **** "Bang, aku udah gajian," sahut Aida dengan senyum lebar saat naik motor Collins untuk pulang. "Syukurlah." "Alhamdulillah." "Alhamdulillah." Collins meniru. "Aku udah pisahin untuk Abang, nanti aku kasih." Motor pun bergerak ke jalan. Setelah beberapa waktu, motor sampai di depan pagar rumah Aida. Wanita itu turun. Ia kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan amplop yang sedikit tebal. "Ini untuk Abang." "Terima kasih." Collins mengambilnya. "Eh, Abang tahu gak di mana ada tukang jahit dekat sini?" Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Collins bingung. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. "Aku tidak tahu, Mbak. Maaf." "Oh, ya. Gak papa." Wajah wanita itu terlihat sedikit kecewa. Namun seketika Collins teringat sesuatu. "Eh, tapi Mpokku lagi belajar jahit, Mbak. Apa Mbak mau coba?" "Apa?" Aida terdiam sejenak. "Eh, dia berniat mau jadi penjahit. Mungkin bisa murah karena Mbak pelanggan pertamanya." Dalam hati, Collins bertanya-tanya apa langkahnya sudah benar karena ia belum pernah melihat hasil jahitan Ipah sama sekali. Ia memang pernah beberapa kali melihat Ipah menjahit di malam hari tapi ia tak pernah memperhatikan hasil jahitannya. "Eh, lupakan saja ...." "Aku tidak tahu Abang punya kakak perempuan," ujar Aida pelan. "Oh, sebenarnya sepupu. Aku numpang di rumahnya." "Oh, begitu." "Ya sudah. Aku pulang ya." Collins bersiap-siap menyalakan mesin motornya. "Eh, apa dia ada di rumah?" "Apa?" Collins kembali menoleh. "Kamu beneran mau jahit sama dia?" Tak percaya. "Dia ada sih di rumah. Lagi gak kursus." "Ya sudah. Aku ambil dulu bahannya." Aida berbalik dan membuka pagar. Sejurus kemudian, mereka sampai di rumah Collins. Pria itu membuka pagar rumah dan mendorong motornya masuk. Aida yang telah turun, mengikutinya dari belakang. "Sebentar ya, aku panggil dulu." Collins bergegas masuk. Ia mendatangi Ipah yang tengah menjahit di ruang tengah. "Mpok ... ada yang minta dijahitin bisa gak, Mpok?" tanyanya hati-hati. "Ape? Bisa sih, tapi Mpok belum buka jahitan. Emang siape?" Wanita itu menengok ke pintu depan yang terbuka. "Eh, Mbak Aida," sahut Collins dengan suara rendah. Ia memainkan jemarinya di meja mesin jahit sambil menunduk. Collins sedikit malu mengatakannya. Kedua mata Ipah langsung bersinar terang. "Oh, die ...." Ketika Ipah hendak bergerak ke depan, pria itu langsung menghalangi. "Tapi Mpok jangan bilang macem-macem ya?" "Macem-macem apenye?" Wanita itu mulai mengulum senyum. "Ya ... cerita soal aku." Sepertinya Collins takut kakak angkatnya ini membocorkan rahasianya. "Iye, iye ...." Ipah menepuk bahu Collins, berusaha menenangkan. Collins melihat saja ketika Ipah mendatangi Aida. Keduanya mengobrol sebentar dan kemudian Ipah mengajaknya masuk. Pria itu memilih keluar dan duduk di beranda. Tak lama Aida keluar. Terdengar langkah kaki dan tongkatnya. "Sudah?" tanya Collins. "Oh, iya." Wajah wanita itu terlihat sumringah. "Ayo, aku antar Mbak. Sekalian aku mau ke toko." Collins melirik Ipah yang ikut mengantar. Wanita itu hanya tersenyum penuh arti. Collins sedikit gugup saat membonceng Aida karena Ipah memperhatikan. "Assalamualaikum," sahut Aida. "Waalaikumsalam," ujar Ipah sambil menutup pagar. **** "Mpok bisa jahitnya 'kan?" Collins tiba-tiba datang bertanya pada Ipah. "InshaAllah." "Bener, bisa?" Collins memastikan. "Iye, bawel!" Ipah mencubit pipi Collins yang putih dengan gemas, meninggalkan bekas merah yang terlihat. "Ah, Mpok!" Collins menepis tangan Ipah dengan kasar. Namun, bukannya marah, Ipah tertawa. "Aku promosiin, juga, Mpok ...." Collins merengut. "Iya, terima kasih, adikku Sayang ...." Ketika Ipah mulai hendak menyentuh wajah Collins sekali lagi, pria itu menghindar. "Wee ... gak kena," ledek Collins. Ia kini tertawa. Ipah mengangkat telunjuknya. "Pinter lu ye, sekarang!" "Harus pinterlah, punya Mpok kayak gini," tangkis Collins. Ia dengan gayanya yang sombong melangkah ke kamar. Babe dan enyak yang tengah makan malam bersama, hanya menggeleng-gelengkan kepala. Enyak menatap babe. Ia begitu senang Collins betah tinggal di sana. Wanita itu bahkan hampir menitikkan air mata karena mendapatkan kembali keramaian di rumah itu yang pernah hilang bersama kepergian anak bungsunya. "Nah, pan, nangis lagi. Dah ah! Kite seharusnye sadar tidak ada yang abadi di dunia enih. Lu tau itu, pan? Tuhan mengirim die untuk membuat kite bahagia, jadi nikmati aje, iye pan?" Enyak mengangguk pelan. "Dah, jangan nangis. Ntar anak kite keder lagi, ngeliat kite begini ...." Enyak menghapus air matanya dan mulai tersenyum. Mereka melanjutkan makan mereka yang tertunda. **** Collins memperhatikan pria di sampingnya dengan curiga. Sebagian besar perhatian pria itu tertuju pada Aida. "Sudah semua?" Collins mengangkat wajahnya menatap ke arah cermin kecil yang berada di atasnya. Dua wanita yang berada di belakang terlihat santai. Pak Aji, pria di sampingnya menoleh ke belakang. "Ibu Aida, tidak ada yang ketinggalan, 'kan?" "Oh, tidak ada." Collins sedikit kesal. Sebentar-sebentar pria itu menoleh ke belakang menatap Aida. Daripada hatinya memanas, Collins mulai menjalankan mobil. Mobil itu berada di deretan paling belakang dari rombongan bus para pelajar. Ada dua mobil dan mobil yang dibawa Collins berada paling terakhir, sehingga ia bisa lebih santai menjalankan mobil karena hanya perlu mengikuti mobil di depannya. Sesekali Pak Aji melirik cermin kecil itu. Pastinya untuk melihat Aida yang sedang mengobrol dengan guru wanita yang satu lagi. Collins berusaha abai. Ia tidak ingin kecemburuannya merusak suasana. "Eh, Pak Aji guru apa?" "Guru matematika." 'Pantas membosankan. Semembosankan wajahnya!' Collins bertahan agar wajah merengutnya tak terlihat. Ia mencengkram stir mobil dengan kuat. 'Aku tidak boleh begini. Aku menyukai Aida tapi tidak harus secemburu ini bila ada yang menyukainya, kenapa tiba-tiba aku jadi seboddoh ini? Apa aku makin posesif padanya? Ini gilla namanya. Aku 'kan ke sini mencari ketenangan bukan mencari jodoh, ah ....' Collins coba mengalihkan pikirannya. Ia memutar wajah melihat pemandangan di sekeliling. 'Aku kembali ke Jakarta. Mudah-mudahan tidak ada yang mengenaliku di sana.' Pria itu merapikan topinya. **** Seorang wanita cantik yang berpenampilan mewah dengan baju rumahannya, tengah makan siang bersama anak laki-laki berusia tiga tahun. Banyak hal yang ia lakukan sekaligus. Sambil makan ia juga menyuapi sang anak dan juga fokus menguping. Wanita ini tengah menguping pembicaraan sang suami dengan beberapa orang yang datang menemuinya di ruang tamu. 'Mmh ... jadi Collins pergi tak jauh. Heh! Sudah bisa dipastikan dia takkan bisa hidup tanpa kekayaan ayahnya! Anak manja itu ... pasti dia melakukan ini hanya untuk menakut-nakuti Hardyn. Lihat saja, Collins. Saat harta ayahmu jatuh ke tanganku, kau akan kubuat mengemis padaku! Itu balasannya bila kau menolak cintaku!' Netra Miranda memicing saat mengingat kejadian tujuh tahun lalu. Ya, Miranda saat itu adalah sekretaris baru direktur, tapi ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Collins yang waktu itu masih SMA dan datang ke kantor direksi. Penampilan Collins yang santai dan tak acuh itu membuat Miranda tergila-gila. Padahal Miranda hanya beda beberapa tahun di atasnya, tapi bujuk rayunya sia-sia karena pemuda itu menolaknya. Miranda marah dan melampiaskan dengan menggoda Hardyn, ayah Collins. Pria paruh baya itu sama kerasnya dengan Collins, hingga suatu saat Miranda melihat peluang itu. Pria itu rapuh setelah sang istri meninggal. Cinta satu malam karena alkohol memuluskan jalan Miranda menjadi nyonya Grow. Ia hamil. Walau sempat keguguran, Hardyn tak menceraikannya. Hanya saja Miranda masih bingung bagaimana menyetir suaminya agar ia bisa ikut terlibat dalam mengurus Collins. Hardyn sama sekali tak membiarkan sang istri ikut campur dalam membuat keputusan. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN