14. Hujan

1162 Kata
"Tidak apa-apa." Aida memberi senyum manisnya. "Abang di sini saja. Aku mau ganti baju dulu." "Eh, iya." Collins melepas helm dan duduk di kursi sementara sang wanita masuk. Tak lama Aida keluar dengan menyodorkan handuk. Ia sendiri meletakkan handuk di kepala. "Terima kasih." Pria itu meraih handuk yang diberikan. Aida kembali masuk. Collins memandangi hujan yang turun deras sambil menutup tubuhnya dengan handuk walau rambutnya sedikit basah. Pikirannya menerawang. 'Aku harus beli helm satu lagi, agar Mbak Aida gak basah. Tapi tetap saja, hujannya terlalu deras.' Lama terdiam, tiba-tiba Aida datang membawa wadah berisi segelas teh hangat. Ia juga telah berganti pakaian dengan daster panjang dari batik. "Ayo, Bang, diminum nanti masuk angin." "Iya. Terima kasih." Collins meraih gelas bertangkai yang sudah diletakkan di meja. Sebelum meneguk, ia menangkup cangkir itu dengan kedua tangannya. Terasa hangat. Ya, hujan deras membuat udara perlahan dingin. Apalagi Collins sempat kehujanan. Handuk yang diberikan Aida hanya menahan agar tubuhnya tak kedinginan. "Hatcuhh!" Namun tak ayal, wanita itu tahu Collins tengah kedinginan. "Dingin ya, Bang?" "Eh, iya, tapi untung ada handukmu, terima kasih." Aida terlihat ingin tertawa hingga menutup mulutnya. Hal itu membuat Collins mengerut dahi. "Kenapa? Ada yang lucu?" "Iya. Dulu aja, aku bilang terima kasih, Abang ngeledekin. Sekarang udah dua kali Abang bilang terima kasih." "Oh, begitu." Pria itu tersenyum lebar. Ia kembali memandang halaman yang basah karena hujan yang belum berhenti. Collins meneguk sedikit air teh itu ketika Aida mencoba duduk di kursi beranda. Ia melirik sang wanita yang mencoba mendengarkan suara hujan. 'Bagaimana rasanya dunia yang hanya bisa mendengarkan? Menyedihkan atau menenangkan?' Collins melihat senyum Aida yang tengah mendengar derasnya hujan. 'Apakah bahagia hidup tanpa melihat? Apakah senyummu itu asli berasal dari hatimu?' Pria itu kembali teringat masa-masa ketika bersama keluarganya. 'Mungkin benar lebih bahagia bila kita tak perlu melihat sesuatu yang menyakitkan, tapi ... kasusku beda. Aku juga tak ingin mendengarnya. Dan itu sama saja dengan matti.' Collins tak tahan dengan suasana sendu kala itu. Dilihatnya hujan mulai reda. Ia meletakkan gelas dan melepas handuk. Dengan segera pria itu meraih helm lalu memakainya. "Terima kasih, Mbak, tapi aku harus buru-buru!" teriaknya. Collins menaiki motor dan memutar keluar. Masih dalam rintik hujan, ia menjalankan motornya pulang. Aida hanya bisa mendengarkan motor pria itu pergi. "Padahal masih hujan," gumamnya. "Dan Abang bilang terima kasih untuk yang ketiga kalinya." Wanita tersenyum simpul. **** "... Bara!" Ipah berulang kali mengetuk pintu kamar mandi. Pria itu keluar dengan mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. "Apaan sih, Mpok? Gak bisa pake kamar mandi lain, apa?" Ia mengusap wajahnya yang sedikit basah dengan merengut. "Je-je-je-jeng!" Ipah memamerkan sepiring kue bolu yang masih utuh. "Dari Nana. Masih anget lho," katanya dengan senyum lebar. "Ya udah, makan aja. Kenapa harus dipamerin sih? Ngak bakal juga aku mau rebutan." "Lah, enih 'kan dikirim untuk elu, Bara!" Ipah kembali memamerkannya di depan hidung Collins. "Apa?" Pria itu berpikir sejenak. "Nana siapa sih?" Kedua alisnya saling bertautan. "Itu, anak ibu Rogaya yang rumahnya depan rumah kita," sahut Enyak yang sedang melangkah ke dapur. Collins berpikir keras karena ia tak begitu memperhatikan tetangga. Keterangan babelah yang membuat ia ingat siapa Nana. "Itu nyang ngasih makanan waktu kerja bakti waktu entuh. Inget kagak lu? Nyang bersihin got." "Oh, dia." Ingatan Collins kembali. "Tapi kenapa kirim ke Bara? Apa dia gak salah orang?" Ia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang sudah bertengger di kepala. "Jiah ... gak tau die. Pastinya entuh cewek naksir ma elulah, opah koreah!" Ipah mencubit pipi adik angkatnya itu. "Ck, Mpok, ah!" Untuk kesekian kalinya Collins kesal sambil mengusap pipinya yang memerah. "Ciee ...," ledek Enyak. "Tapi die udah ade cewek incerannye, die. Gak bakal mau ame sih Nana," timpal babe. "Jadi, siape cewek incerannye?" Enyak menyentuh tangan babe. "Ustadzah Aida." "Babe!" Collins semakin dongkol saja karena babe membocorkan rahasianya. "Wah, bagus entuh. Enyak dukung!" Enyak mengangkat ibu jarinya. "Aye juga tim ustadzah Aida," imbuh Ipah. Collins yang telanjur kesal hanya bisa menghentakkan handuk kecil itu ke bawah karena tak bisa berbuat apa-apa. Pipinya kembali memerah. Ia bergegas masuk ke kamar dan mengunci pintu. "Kenape die?" tanya Enyak khawatir, melirik babe. "Kayaknya die pemalu." Babe berusaha meyakinkan. "Masa?" **** Hari telah larut, tapi tugas Collins berikutnya baru saja di mulai. Ia berjalan pelan ke arah pos ronda. Hari ini untuk pertama kalinya ia ikut ronda malam. Matanya mulai mengantuk padahal sebelumnya sudah minum kopi yang dibuat enyak. Di pos itu ternyata sudah ada tiga orang yang menunggu. Ia yang terakhir. "Oh, Bara. Akhirnya datang juga," sahut Pak Bowo yang duduk sambil menutup tubuhnya dengan sarung. Memang malam itu sedikit dingin karena sore tadi hujan deras. Collins hanya memakai tambahan jaket jeans untuk mengusir dingin. Di sana sudah ada Pak Agus dan Idan, berarti sudah lengkap. Collins duduk di bagian luar dan melihat ketiganya tengah minum kopi. "Apa kalian tidak ngantuk ya? Aku sudah minum kopi tapi masih saja ngantuk," keluhnya. Mata Collins memang tampak semakin sipit. Pak Agus tertawa. "Bapak sudah tidur tadi siang, jadi bisa melek, ini." 'Terang saja dia bisa melek, lah dia punya warung sembako 24 yang dijaga bergantian dengan istrinya.' Collins merengut. "Aku mudah-mudahan lancar," sahut Pak Bowo santai. 'Dia setahuku, istrinya kerja. Dia pengangguran. Gak aneh sih.' Batin Collins lagi. Hanya Idan yang terlihat tak peduli. Ia juga membawa sarung dan mulai berbaring di pos ronda yang sempit itu. "Aku tidur duluan ya? Nanti kalau butuh ngider, bangunin aja." Ia menutup mulutnya yang menguap dan menarik sarungnya ke atas. Sebentar kemudian terdengar suara dengkuran halus dari mulut Idan. Collins yang masih baru, awalnya tak punya teman bicara. Ia memainkan senter di tangan dengan memutar-mutarnya dalam keadaan hidup membuat kedua bapak-bapak itu terganggu karena silau. "Bara ...." Pria itu menoleh dan melihat Pak Agus dan Pak Bowo menatap ke arahnya dengan wajah kaget. Collins tak tahu ada apa. "Jangan mainin lampu. Silau, Bara." Terang Pak Bowo. Collins seketika sadar. "Eh, maaf." Ia segera mematikan senter. "Udah, kamu keliling gih, sama Idan." Pria itu membangunkan Idan. "Apa? Aku baru tidur ...," protes Idan. Ia berusaha membuka matanya yang mengantuk. "Udah, kamu keliling gih, sama Bara. Daripada kamu tidur di pos ronda. Mana ada orang ngeronda, kamu tidur." Dengan berat hati, Idan bangun. Sempat menguap sambil meregangkan kedua tangan, akhirnya ia keluar mengikuti Bara. Ia menyatukan sarungnya di bahu. "Kita ke mana nih?" Collins menoleh. "Ya lewatin RT kita aja." "Tapi aku gak tau daerahnya dari mana ke mana," sahut Collins lagi. "Mmh, ikuti aku aja." Collins mengikuti pemuda itu. Idan walau wajahnya sedikit berantakan tapi ia tengah kuliah S2 di sebuah universitas swasta. Ya, Idan berasal dari keluarga mampu. Keluarganya paling kaya di RT itu. "Bar, lo suka sama Nana?" Pertanyaan itu membuat Collins terkejut. Ia ingat, Idan pernah menggoda Nana. "Kamu suka Nana? Kejar aja," jawabnya ringan. "Yang bener nih?" Collins kembali menoleh pada pria yang memang wajahnya biasa saja. Tidak jelek tetapi juga bukan golongan pria tampan. Walau terlihat bercanda, sepertinya Idan suka pada Nana. "Aku serius! Aku udah suka sama orang lain." Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN