“Mengopo kok wedi, Kakang? Aku yo iso ngonoiku (kenapa takut, Mas? Aku bisa seperti itu).” Pria itu melongo saat sosok di depannya segera menelan jangi dirinya sendiri, bahkan menelan salivanya saat kanjeng Kaseni beranjak dari kasur dan sosok itu malah terlentang sambil mengang kangkan ke dua kakinya lebar-lebar. “Mrinio / ke sini, Kakang ... .” Seakan tersihir, wajah yang lebih cantik dan tubuh yang lebih molek dari kanjeng Kaseni membuatnya langsung menuruti semua yang diminta oleh sosok tersebut. Awalnya pria itu hanya diam, melihat merekah yang berbulu tipis menyembunyikan sesuatu yang dia yakin berwarna pink menggiurkan. Dia pun meneguk salivanya, tangannya mulai mengusuri setiap inci kulit nan kuning langsat serta mulus beraroma bunga melati. Pria itu melihat sosok yang terlen t

