“Tole / Nak, Romo cuma mau bilang, tanya hatimu ... apa Sekar benar-benar pantas teman hidupmu selamanya?” tuan Gimin hanya tidak mau putranya dalam bahaya. “Mas Danuri?” 'Deg.' Danuri dan tuan Gimin hanya bisa diam seribu bahasa. Menenangkan perasaannya sendiri karena sungkan jika sampai Sekar mendengar apa yang mereka bicarakan baru saja. Danuri memaksakan wajah dan juga tubuhnya untuk membalik, memaksa senyuman itu agar terlihat seramah biasanya, dan berjalan mendekati Sekar, “Dik Sekar? Mau ... jalan-jalan? Melihat ... ah! Banyak putri malu di sana.” ajak Danuri, mengingat tempat yang akan menyenangkan ddan tak jauh dari rumahnya ini. “Tole / Nak, jangan terlalu jauh.” Tuan Gimin memandang Sekar dan tersenyum juga, “Nduk Sekar masih pakai siung ba bi yang dulu dikasih sama Danuri?

