“Apa keyakinanmu mulai goyah, Jum?” 'Deg.' Mbok Jum segera menoleh, mendapati kanjeng Kaseni yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, “ampuni saya, Kanjeng. Tidak ada niatan di dalam hati saya untuk membela tuan Gimin atau apa pun juga, saya hanya memikirkan tentang keselamatan Nduk ayu saja.” jujur mbok Jum. “Ndak usah kamau pikir, Jum. Panggil aku saja kalau Sugeng sama Bagong ke mari, aku mau mempercepat tanggal pernikahan itu.” Kanjeng Kaseni berbalik, berencana untuk kembali ke kamarnya karena terlalu bersedih jika terus melihat Sekar yang kehilangan nyawanya itu. *** Hari cepat berganti, seakan hari kemarin habis hanya dengan bernapas dan makan saja. Kesibukan hari ini, mau tak mau pun juga harus dijalani. Meski raga masih lelah, meski nyawa sisa setengah. Semu

