“Hahahahahahahaha.” tawa membahana memenuhi setiap sudut di ruangan rumah besar kanjeng Kaseni. Tadi dia memang pulang dengan memendam amarah setelah pertemuannya dengan tuan Gimin, tapi setelah menemukan kakinya yang geli dan melihat ada rambut putih mencoba menaiki kakinya, kanjeng Kaseni sangat bahagia. Tujuannya akan segera tercapai sebentar lagi. “Tejo? Tejo?!” teriak kanjeng Kaseni, merasa semuanya harus dia rayakan. Hatinya sangat bahagia dan dia pun ingin semua warga desa Krantil ini tahu jika dirinya tengah berbahagia. “Inggih / iya, Kanjeng. Wonten / ada apa?” tanya Tejo setelah berlari karena mendengar teriakan yang keras, menyerukan namanya itu, baru saja sampai di depan kanjeng Kaseni, dan perasan Tejo malah membaik karena melihat senyuman penuh kebahagiaan di mimik wajah ka

