Kanjeng Kaseni sangat bahagia. Para pekerja yang mengisi karung berwarna putih dengan gabah miliknya itu, membuat lumbung padi miliknya hampir terkuras isinya, membuat beberapa pekerja menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena sungkan. “Mengopo / kenapa to?” tanya kanjeng Kaseni sewot sambil mendekat dengan kerumunan pekerja yang menganggur. Saling berbisik seakan tengah membicarakan sesuatu yang disembunyikan darinya. “Anu, Kanjeng. Gabahnya anu, sudah mau habis.” jawab salah satunya dengan takut-takut, rasanya akan sangat tidak pantas berbicara seperti itu. Apalagi kanjeng Kaseni adalah pemilik lumbung padi ini. Kanjeng Kaseni terkekeh, menyedekapkan ke dua tangannya di da danya hingga sedikit menekan kembar kenyalnya. Membuat lekukan yang sudah indah itu menjadi lebih indah lagi o

