'Cetarrr. Cetarrrr.' Beberapa kali suara pecut memekakkan telinga dan membuat tubuh merinding. Tak pernah Danuri bayangkan sosok itu sangat menakutkan saat marah seperti ini. Atap rumahnya seakan terbelah saat hantaman dari benda lentur nan panjang itu menyabet rumahnya berkali-kali. Danuri mendongak, menatap langit-langit rumahnya. Kayu yang menyangga genting gemertuk berjatuhan, Danuri hanya bisa menarik napasnya panjang dan dalam beberapa kali. Semua ini tidak bisa dia biarkan. Danuri berjalan ke kamar romonya, membukanya dengan tergesa dan segera membangunkan romonya yang saat ini tertidur dengan pulas di ranjangnya. Saat sosok itu tak juga bangun, Danuri mengguncangnya lebih kentara lagi karena rumah ini akan segera terbelah sebentar lagi. “Akh!” Danuri memekik. Romonya yang seharu

