Masih sangat pagi. Kanjeng Kaseni segera membersihkan diri dan mencari Tejo, sangat ingat kalau akan ke pasar dan bertemu dengan Danuri-nya sebentar lagi. Jangan untuk mengulur waktu, bahkan untuk sarapan saja kanjeng Kaseni lewatkan, tidak mau jika sampai kesiangan dan melewatkan kesempatan berharganya bersama dengan Danuri. Ucapan semua pekerja di rumah besarnya yang seakan merayu agar dirinya melahap walau hanya sesuap ketela pohon saja, benar-benar kanjeng Kaseni tolak untuk pagi ini. Kanjeng Kaseni teta tidak tergiur, lebih mementingkan apa rencananya untuk segera bertemu dengan Danuri dari pada hanya mengisi perutnya saja. “Kanjeng, berangkat sekarang?” tanya Tejo saat kanjeng Kaseni sudah naik ke dokar berwarna merah itu. “Iya to, Tejo. Mau nunggu apa lagi? Nanti malah pasarnya ke

